Menilai Diri dan Mengawasinya

Bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan sepanjang masanya, seyogyanya menyediakan waktu sehari atau mingguan untuk menilai diri dan mengawasinya.  Berbagai aktifitas harian dengan tingkah lakunya dihimpun dalam satu sampai dua jam dalam sehari atau dalam mingguan. Menilai bila ada kekurangan maka akan dilakukan perbaikan, bila ada kebaikan maka wajib disyukuri.
***

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.– Sasaran menilai diri sendiri dari kitabnya Imam Al Ghazali Rahimahullahi Ta’ala, “Ihya Ulumuddin.” Di terjemahkan oleh Syeik Abdus Samad Al Jawi Al Palembani Rahimahullahi Ta’ala dalam kitabnya Siyarus Salikin ala Ibdati Rabbul Alamin, yang saya baca sebagai rujukan tulisan ini. Adalah perhitungan di kehidupan hari akhirat yaitu melakukan perhitungan segala tingkah laku diri dipenghujung hari agar ia terlepas dari hisab di akhirat ataupun agar hisabnya nanti sedikit di akhirat kelak.
Agar penilaian terhadap diri efektif, dan untuk mengoperasionalkan Firman Allah Ta’ ala, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengawasi perbuatan kamu,” (qs. An nisa 1). Yaitu dengan dua hal :
  1. Pengawasan diri setiap waktu akan gerak gerik dalam melakukan ibadah kepada Allah Taala.
  2. Melakukan maksiat dapat dicermati dengan seksama

Cara melakukan dalam dua hal tersebut adalah, “Perhitungkanlah diri kamu sebelum kamu diperhitungkan kelak”. Pesan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.

Perhitungan di akhirat kelak akan terjadi, itulah pentingnya melakukan muhasabah (menilai diri) dan muraqabah (pengawasan diri). Oleh Imam Al Ghazali dimulai dengan mengikat diri dengan mensyaratkan diri (musyaratha) dengan pertanyaan:
Pertama;
“Apakah saya sudah bersungguh-sungguh melakukan ibadah yang zahir maupun bathin sepanjang masa?”.
Kedua;
“Apakah saya sudah bersungguh-sungguh menjauhi segala maksiat zahir dan batin sepanjang masa?”
Nabi Shalallahi Alaihi Wassalam menjelaskan: “Hendaklah engkau senantiasa berbuat ibadah kepada Tuhanmu seolah-olah engkau melihatNya,. Jika engkau tidak melihatNya maka ingatlah didalam hatimu sesungguhnya Dia senangtiasa melihatmu”.
Tahapan selanjutnya adalah mendera diri sendiri (muaqabah) akan kesesuaian dua hal yang disyaratkan diatas. Misalnya menhukum diri dengan berpuasa atau sedekah.
Dan selanjutnya mengingatkan diri dengan mujahadah yaitu memerangi diri dengan amalan yang sesuai, termasuk juga melakukan mu’atabah yaitu menyesali hal-hal ibadah yang belum sesuai dengan cara bertobat.
Seyogyanya juga lintasan hati penting untuk diawasi (bc. Muraqabah) dengan 4 jenis lintasan (Khathir).
  1. Lintasan Rabbani
  2. Lintasan Malaikati
  3. Lintasan Nafsani
  4. Lintasan Syaithani
Lintasan perbuatan haram, makruh, dan maksiat adalah datangnya dari setan. Lintasan perbuatan mubah yang digemari adalah datangnya dari nafsu. Lintasan perbuatan wajib dan sunat serta kerja kebajikan dengan ikhlas adalah datangnya dari malaikat.
Dan Jika lintasan perbuatan amat keras tampa dorongan setan, nafsu dan tak disangkal oleh malaikat maka itu adalah datangnya dari Allah Ta’ala semata-mata, ‘Rabbuna wa rabbunlmala ikati warruhi”.
Rabbbani wal malaikati
Berusahalah menghimpun lintasan Rabbani dan Malaikati lebih besar daripada lintasan syaithani dan Nafsani sebagai tanda Anda telah berhasil melakukan Muhasabah dan Muraqabah.
Maka beruntunglah siapa-siapa yang selalu melakukan penilaian diri (muhasabah) dan mengenal lintasan hati dengan pengawasan (muraqabah) dalam kehidupannya didunia demi kehidupan akhirnya kelak.
Demikian catatan dengan tag kesehatan spritual dalam kategori status kesehatan yaitu keadaan sehat secara spritual yang memungkinkan dapat hidup produktif di dunia wal akhirat.

***

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi, Kesehatan dan Sosial
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Tentang Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi, kesehatan dan Pembangunan Kabupaten di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: