Dapat Nilai ”E” Status Gizi Balita di Sulawesi Barat

Polewali Mandar Sulawesi Barat, @arali2008. — Keadaan Gizi Balita di Sulawesi Barat adalah Masalah Kesehatan Masyarakat Tingkat Berat. Nilainya ”Eror”, seharusnya dinyatakan sebagai keadaan gangguan tingkat BERAT oleh para Pengambilan Keputusan Strategis  kebijaksanaan, minimal melalui surat edaran. ”Keadaan gizi Balita di Sulawesi Barat adalah Masalah Kesehatan Masyarakat tingkat Berat”.  

Keadaan ini berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di tahun 2016. Dilakukan dengan pengukuran tubuh balita yang dikenal dengan pengukuran Antropometri. Penilaian status gizinya, disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain yaitu variabel Umur, Berat Badan (BB), dan Tinggi Badan (TB), dan diformulasikan dengan indesk BB/U, TB/U dan BB/TB, hasilnya dapat memberikan gambaran, keadaan gizi masa kini, masa lalu dan sensitive terhadap perubahan lingkungan dan penyakit infeksi.

Masalah Penurunan Status Gizi Balita sebagai masalah kesehatan masayarakat tingkat berat menjadi bebas dari masalah kesehatan masyarakat adalah program strategis nasional, bila tidak diupayakan, dapat dikenai sanksi yaitu sanksi administratif kepada Kepala Daerah

Anak Balita Kurang Makan dan Terinfeksi Penyakit.

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan  yang menurun. Berat badan ini  dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. (Djumadias Abunain, 1990).

Data hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) di tahun 2016 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi status gizi buruk+gizi kurang dengan menggunakan indesk BB/U, untuk Provinsi Sulawesi Barat, ditemukan sebesar 24.8 %, dari 5 kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat hanya kabupaten Mamasa yang angka prevelansi rendah yaitu 13 %, nilai ini  dibawah ambang batas masalah kesehatan tingkat berat (>20%), yang di keluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

 

Slide1

Tingginya prevalensi Gizi Buruk + Kurang ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan balita di wilayah Provinsi Sulawesi Barat sangat kurang atau juga penyakit infeksi masih sering terjadi pada anak balita yang menyebabkan mereka mengalami gangguan pertumbuhan pada massa jaringan organ-organ tubuhnya.

Sangat terlihat pada kasus gizi buruk  yang ditemukan pada periode Januari s/d Oktober 2017, ada 17 penderita gizi buruk dengan gangguan penyakit dan 2 penderita gizi buruk dengan tampa gangguan penyakit, terjadi karena kurangnya konsumsi makanan hariannya.

Anak Balita Hidup dalam lingkungan yang tidak layak.

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa penyapihan, bahkan pada masa dalam kandungan, ada gangguan dalam gangguan konsumsi makanan dan penyakit pada ibunya. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan menurut umur), jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya  hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun (Depkes RI, 2004).

Data hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi status gizi stunting atau pendek dengan menggunakan indesk TB/U, untuk Provinsi Sulawesi Barat, ditemukan sebesar 39.7%, dari 5 kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat semuanya, berada diatas ambang batas  dan dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat tingkat berat (>20%), lihat Gambar.

Slide2

Angka prevalensi balita pendek ini, jika ditemukan kasusnya dan kemudian dilakukan investigasi sebab musebabnya, akan terlihat di lokasi kasus gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan anak balita tidak sehat yang menahun. Keadaan ini menunjukan bahwa ibu-ibu hamil dan bayi serta balita untuk hidup dan berkembang, tidak layak untuk hidup dalam lingkungan yang demikian.

Anak Balita sangat sensitive (bc.peka) untuk menderita gizi kurang dan buruk.

Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).

Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive (bc. peka) dalam menunjukkan  keadaan gizi kurang bila  dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi  kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius  dan berhubungan langsung dengan  angka kesakitan.

Slide3

 

Keadaan berat badan dan tinggi badan balita di Sulawesi barat adalah masalah serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan, prevalensinya (sulbar) 10.8 %, berada diatas ambang batas 10 % sebagai keadaan masalah kesehatan tingkat berat, demikian juga dengan keadaan lima kebupaten lainnya, kecuali Kabupaten Mamasa yang prevalensinya hanya 4.1 %. (lihat Gambar)

Harus menjadi ISU

Data PSG yang dilakukan dan dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI khususnya Anak-anak balita di sulawesi barat, menunjukkan situasi masalah kesehatan masyarakat tingkat berat, mereka mengalami tiga keadaan, PERTAMA Anak Balita Kurang Makan dan Terinfeksi Penyakit. KEDUA, Anak Balita Hidup dalam lingkungan yang tidak layak. Dan KETIGA, Anak Balita sangat sensitive/peka untuk menderita gizi kurang dan buruk.

Pemerintah Sulawesi Barat seharusnya merespon fakta dan hasil Pemantauan Kementerian Kesehatan ini, mengeluarkan Surat Edaran, dengan isu, PERTAMA, status Gizi balita di Sulawesi Barat dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat tingkat berat. KEDUA, setiap anak balita mendapat jaminan kebutuhan gizi makannya, tercegah dan terobatinya penyakit infeksinya. KETIGA, Setiap Anak balita harus hidup dalam lingkungan yang layak dan KEEMPAT, setiap anak balita harus bebas dari ancaman gizi kurang dan buruk.

Menjawab ISU ini sudah merupakan konsekwensi dari Peraturan Menteri Kesehatan nomor 43 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Kesehatan, turunan dari UU no 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yaitu Setiap balita mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar.

“bahwa Kepala Daerah yang tidak melaksanakan program strategis nasional akan dikenai sanksi yaitu sanksi administratif, diberhentikan sementara selama 3 (tiga) bulan, sampai dengan diberhentikan sebagai kepala daerah” (Pasal 68 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah)

 —-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Tentang Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi, kesehatan dan Pembangunan Kabupaten di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: