Keraguan Al Ghazali, antara Hukum Indera, Hukum Rasio dan Hukum Tuhan

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.- Menarik untuk saya catat, keraguan Al Ghazali ***, antara hukum indera, hukum Rasio dan Hukum Tuhan Azzawajalla, dalam hubungan dengan ilmu epidemiologi — Ilmu yang mempelajari tentang terjadinya penyakit dan atau masalah kesehatan pada masyarakat atau kelompok masyarakat— khususnya kajian Inferensi Epidemiologi Kesehatan dibangun berdasarkan  pengamatan indera dan hukum-hukum rasional serta berbagai tahap-tahap kerja yang disusun secara konsisten dan rasional. Itu sudah cukup untuk dipakai bekerja, dan memberikan penjelasan dan argumentasi rekomendasi pembenaran kerja seorang epidemiolog. 

Suatu kebenaran harus ada argumentasinya,  namun demikian  argumentasi  bisa saja terpatahkan dengan argumentasi lainnya  yang lebih kuat, Argumentasi yang kuat itu harus disusun berdasarkan hukum-hukum logis, dan selanjutnya disebut argumentasi yang logis. Jika alasan argumentasi logis ini tidak dapat diterima lagi , maka sulit  atau bisa jadi tertutuplah jalan menujuh kebenaran. Hanya orang yang bekerja dengan Baik, Benar dan bersih, nantinya yang akan mendapatkan kebenaran.

Ini  catatan yang saya, setelah membaca dan menuliskannya kembali tulisan  Al-Ghazali, Imam. “Kegelisan Al-Ghazali: Sebuah Otobiografi Intelektual/ Imam Ghazali, penerjemah, Achmad Khudori Saleh, Bandung, Pustaka Hidayah, 1998. Dengan sub judulnya, DALAM KERAGUAN. Tulisan Al-Ghazali tersebut saya tulis kembali sebagai berikut;

DALAM KERAGUAN. Ternyata, aku tidak mempunyai pengetahuan yang meyakinkan, sebagaimana yang telah aku jelaskan, kecuali pengetahuan dari hasil pengamatan indera dan hukum-hukum rasional, Dengan demikian segala persoalan rumit harus dipecahkan lewat kekuatan pengamatan indera atau rasio, Akan terapi Aku Ragu.

ghazali

 Imam Al Ghazali

Penerjemah menambahkan dalam catatan kaki tentang keraguan Al-Ghazali, “kenyataaannya, kondisi seperti ini tidak hanya ada pada Al Ghazali, tetapi terjadi pada pemikir lainnya, yang diistilahkan dengan “masa kacau”, Al Hallaj pernah menanyakan masalah ini kepada sebagian kaum Hawari. Dijawab, bahwa itu adalah “ Kekacauan Yahudi”,  Namun hal ini di bantah oleh Al Hallaj sendiri dan dikatakan bahwa itu adalah “Kekacauan para nabi”.  Mereka yang dipilih oleh Allah “terlempar” dari (hukum)  makhluk, untuk kemudian melihat- tanda-tanda keangungan-Nya dan merasa tenang di dalam-Nya.  Mereka diberi rahasia hakikat saat terjaga atau tidur”

Apakah indera bisa dipercaya mengingat mata yang merupakan organ terkuat dari indera, terkadang juga menipu, misalnya bayang-bayang yang oleh mata tampak diam, tidak bergerak, ternyata tidak demikian, ia bergerak sedikit-demi sedikit, sehingga akhirnya  bergeser sama sekali dari tempat asalnya, begitu pula bintang-bintang  yang tampak kecil, — ternyata berdasarkan ilmu-ilmu alam— amat besar, bahkan ada yang melebihi bumi kita, Hukum indera Batal oleh bukti-bukti yang tak terbantahkan.

Sekarang, tidak ada yang bisa diandalkan kecuali pengertian-pengertian logis, seperti bilangan 10 lebih banyak daripada 3, larangan tidak akan bisa bersatu dengan perintah, yang hadist tidak mungkin sekaligus  qadim, yang ada tidak mungkin tiada pada waktu yang bersamaan, dan yang bersifat pasti tidak mungkin mustahil.

Akan tetapi hukum indera memprotes, Bagaimana Anda bisa memastikan, bahwa hukum rasional lebih kuat daripada hukum indera ? Dahulu  anda percaya hukum indera, kemudian mendustakannya karena ada hukum rasio, andakata hukum rasional tidak muncul. Anda tentu akan tetap percaya kepada indera. Siapa tahu , pada saat nanti, akan muncul hukum lain yang bisa mematahkan hukum rasio, saat ini memang belum tetapi tidak berarti tidak mungkin.

Aku termenung, ragu-ragu, Hukum Indera memprotes dengan mengemukakan soal mimpi, tidaklah anda menyaksikan dalam mimpi bahwa hal itu benar-benar terjadi ? namun saat terbangun, anda sadar bahwa itu hanya ilusi belaka, ”Boleh jadi apa yang anda yakini sekarang  yang berhubungan dengan indera atau rasio, sebenarnya berhubungan dengan kondisi  saat ini saja, ketika dalam kondisi lainnya yang lebih sadar, anda akan insaf, bahwa itu hanya mimpi. Dalam tingkat yang lebih tinggi, mungkin sama seperti yang dialami kaum sufi ketika pada kondisi tertentu menyaksikan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan hukum rasio, atau  dalam kondisi yang lebih sadar lagi, sesudah mati, seperti yang di katakan rasul,

“ Manusia semua tertidur,  Jika Mati mereka terjaga”,

Maksudnya kehidupan dunia ini,—- Al Ghazali, setelah mengalami keraguan menerima cahaya Ilahi yang menenangkan dan menghilangkan keraguannya —- pada hakekatnya hanyalah mimpi jika dibanding dengan akhirat, Jika mati tampak sesuatu yang berbeda dengan yang disaksikan sekarang saat difirmankan,

“Kami singkapkan penutup matamu, maka penglihatan hari ini, menjadi sangat tajam” (QS. Qaf,22),

Keraguan itu  demikian mengkhawatirkan dan menyesakkan, sulit aku menghilangkannya kecuali atas bukti dan argumentasi yang kuat, padahal tidak mungkin menyusun argumentasi kecuali dengan hukum-hukum logis, jika usaha terakhir tidak diterima, maka tertutuplah jalan menujuh kebenaran.

Hampir dua bulan, aku diliputi keraguan-keraguan ini dan kondisiku tidak ubahnya seperti kaum filosof – kaum filosof yunani–  Alhamdulillah, Allah berkenan menyembuhkan hatiku dengan pancaran cahaya-Nya. Pikiranku kembali jernih dan seimbang mampu menerima pengertian-pengertian logis. Nur Ilahi, itulah yang akhirnya menjadi  kunci pembukaannnya, termasuk untuk mencapai makrifat, bukan susunan  argumentasi logis.

Karena itu siapa yang mengatakan bahwa alam gaib bisa terbuka dengan dalil-dalil rasional , ia berarti telah menyempitkan rahmat Tuhan  yang luas, Ingatlah ketika, ditanya makna “lapang” dalam ayat “Siapa yang hendak diberikan petunjuk, dilapangkan dadanya untuk menerima islam” (QS. Al-Araf,125), Rasul menjawab, “ itulah cahaya yang di pancarkan Allah kedalam dada manusia”,  Apa tandanya ? menjauhi dunia semu dan hanya menghadapkan diri pada keabadian,” Jawab Rasul. Demikian pula  yang dimaksud rasul dalam sabdanya, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan mahluk-Nya dalam kegelapan kemudian Dia  percikkan kepada mereka secercah dari Cahaya-Nya” (Hadist Riwayat Ahmad, Turmudzi, Ibn Jarir, Thabrani dan Hakim)

Dalam riwayat lain disebutkan, “ Sungguh Allah  telah menciptakan mahluk Nya dalam kegelapan, dan kemudian Dia  limpahkan  kepada mereka secercah cahaya Nya, Siapa yang terkena cahaya itu berarti akan mendapat petunjuk, yang tidak terkena akan tersesat”

Cahaya itulah yang harus di cari untuk mencapai Kasyf, suatu cahaya yang memancar pada saat-saat tertentu, semata-mata  atas kemurahan Illahi, sehingga kita harus terus berjaga untuk menyongsongnya, Seperti yang dikatakan Rasul, “Ada saat-saat tertentu bagi Tuhan untuk melimpahkan karunianya. Bersiaplah Kalian” (Hadist riwayat  oleh Ibn Najjar dari Ibn Umar)

Seluruh uraian ini aku maksudkan agar kita terus berusaha sekuat  tenaga dalam mencari sesuatu sampai tidak ada lagi yang dicari, Namun, apa yang telah ada (jelas) tidak perlu dicari lagi, bila dicari, justru akan menjadi samar, Siapa yang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicari, ia akan terkecoh dalam mencari sesuatu yang harus dicari.

Kuasailah profesi anda, jika anda seorang epidemiolog,  atau profesi lain yang anda tekuni, teruslah berusaha sekuat tenaga  sampai tuntas, sampai tidak ada yang perlu dicari lagi, gunakan hukum indera, hukum rasio dan atau logis dan hukum Tuhan Azzawajalla. Dan sebagai simpulan dari bacaan diatas penulis dapat ambil tiga pernyataan :

  1. Kebenaran bisa didapatkan dari Hukum indera, namun demikian bisa batal dengan adanya bukti-bukti yang tidak terbantahkan.
  2. Batalnya kebenaran dari hukum indera karena adanya argumentasi logis yaitu dengan adanya argumentasi yang kuat yang disusun berdasarkan hukum-hukum logis, Namun demikian  hukum rasio (bc. Logis) dapat batal dengan tidak adanya lagi bukti-bukti kebenaran, hukum logis sudah tidak dapat diterima lagi untuk mendapatkan pencerahan.
  3. Ketiadaan kebenaran logis karena adanya Hukum Tuhan Azzawajalla, yang hanya dapat diperoleh oleh mereka yang selalu berbuat baik, benar dan bersih dalam setiap profesi yang ditekuninya.

**** Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Wikipedia

Baca tulisan terkait,


Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Iklan

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: