Agama Harus Tetap Ada

Polewali Mandar Sulawesi Barat, @arali2008.– Dalam menjalani kehidupan sosial dunia, seseorang kadang akan mengorbankan harta bendanya, ketika hartanya tidak memungkinkan lagi untuk dikorbankan, maka dirinyalah yang di korbankan, ditugaskan untuk membela negara sampai ketitik darah penghabisan, demi mempertahankan Pemerintahan Negara dimana yang tinggal. Namun dalam keadaan persaingan global antar Negara yang sangat mempengaruhi, suatu Negara kadang harus mengikuti Negara lainnya dan kemudian pemerintahannya turut juga berbaur dengan kepentingan yang lebih besar demi kehidupan warga negaranya. Dalam keadaan demikian maka agamalah satunya-satunya  yang dapat mempertahankan keaslian negara dan pemerintahannya lepas dari  negara dan pemerintahan yang telah menjadi naungan barunya.

Peristiwa demikian telah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (bc. NKRI), dimana di jaman kerajaan/kesultanan/kedatuan, yang telah dinyatakan sebagai suatu bangsa, demi kepentingan yang lebih besar untuk kehidupan sosial warganya, menyatakan bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesultanan Buton adalah salah dari kesultanan dari berbagai kesultanan/kerajaan/kedatuan pada masa belum adanya NKRI, telah menyadari berbagai kemungkinan perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara dan penyatuan  kepada kepentingan yang lebih besar yaitu membuat Undang-Undang Dasarnya dengan norma dan azas perubahan global  dunia, semua dapat di korbankan kecuali agamanya.

Syara Agama Islam Kesultanan Buton. Dalam Undang-Undang Dasar Martabat Tujuh Kesultanan Buton, Bagian Pertama menyebutkan norma dan azas penyelenggarakan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, agama berada dalam posisi tertinggi setelah pemerintah, negara, diri sendiri dan harta kekayaan, artinya harta dapat dikorbankan demi harga diri, harga diri dapat dikorbankan demi negara, Negara dapat di korbankan demi pemerintahan dan pemerintahan dapat di korbankan demi agama.

pengurus-mesjid-agung-keraton-buton

Aparat Syara Kidina (Syara Agama Islam) Kesultanan Buton

Penyelenggaran Agama dalam struktur tata laksana Kesultanan sebagaimana disebutkan dalam bab VI UUD M-7 Kesultanan Buton, disebut dengan Syara Kidina atau Syara Agama Kesultanan, kedudukannya merangkap sebagai Aparat Mesjid Agung Keraton Kesultanan Buton, bersifat otonom, sebab di beri kuasa dan petunjuk dari Kesultanan dengan kewenangan dalam menyelenggarakan keagamaan, termasuk juga berfungsi sebagai lembaga peradilan agama islam

Adapun struktur Sara Kidina adalah sebagai berikut :

  1. Lakina Agama
  2. Imamu
  3. Khatibi
  4. Moji (Bilal)
  5. Bisa Patamiana
  6. Tunguna Aba
  7. Mokimu

Dalam pasal 13 Bab VI Undang-Undang Martabat Tujuh Kesultanan Buton, Syara Kidina disebutkan Tugas dan Kewajibannya menyelenggarakan keagamaan, bersifat otonom. yang anggotanya adalah sekaligus merangkap sebagai Aparat mesjid Agung Keraton Kesultanan Buton, Sara Kidina juga berfungsi sebagai lembaga peradilan, membait sultan terpilih dan menyelenggarakan urusan keagamaan kesultanan lainnya.

Kedudukan dan tugas dari pejabat Syara Kidina adalah:

  1. Lakina Agama adalah sebagai pemimpin umum keagamaan. Lakina Agama mengepalai seluruh aparat keagamaan dalam kesultanan. Bertugas memberikan penerangan/bimbingan agama, nasehat keagamaan kepada Sultan. Lakina memiliki fungsi koordinasi atau penghubung syara wolio (pemerintahan sultan) dengan aparat pejabat syara kidina.
  2. Imam, bertugas memimpin ibadah dalam mesjid agung kesultanan dan sebagai pemimpin keagamaan dalam suatu kadie (bc. 72 pemerintahan daerah). Imam di pilih berdasarkan ke dalam pengetahuannya di bidang agama. Imam diteladankan sebagai Sultan Bhatin masyarakat Buton. Imam merupakan kepala pemerintahan dalam menjalankan agama Islam. Imam tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin sholat dalam mesjid keraton melainkan bertindak sebagai penghulu dalam masyarakat dan membait Sultan terpilih.
  3. Khatib, berjumlah 4 orang. Khatib bertugas menggantikan Imam bila Imam berhalangan. Khatib juga bertugas sebagai juru penerang/khotbah dan menjadi juru dakwah Sultan bagi seluruh masyarakat Buton.
  4. Moji (Bilal) berjumlah 10 orang, pendamping khatib. Bertugas di mesjid setiap waktu dan pada upacara-upacara keagamaan dan Guru dalam pendidikan agama Islam
  5. Bhisa Patamiana disebut juga ahli kebatinan kesultanan. Bhisa ini berjumlah empat orang yaitu Mojina Silea, Mojina Peropa, Mojina Kalau, dan Mojina Waberongalu. Jabatan mereka tidak diubah-ubah dan merupakan jabatan seumur hidup, dimana pengangkatannya melalui turun temurun. Adapun tugas mereka menjaga dan mengawas musuh kesultanan yang datanya dari luar maupun dari dalam kesultanan melalui ilmu kebatinan keislaman yang mereka miliki. Mencegah terjadinya wabah penyakit dan hal-hal lain yang dapat menjatuhkan negeri dari malapetaka atau kehancuran.
  6. Tungguna Aba berfungsi sebagai pengawas dan penasehat imam, dalam hal sah atau batal, bertindak sebagai hakim dan penuntut untuk melakukan pemberhentian dan pergantian dari semua aparat mesjid. Ada juga yang disebut dengan Tungguna Toba bertugas sebagai bendahara syara kidina dan Tungguna Bula bertugas sebagai pengawas dan peredaran bulan.
  7. Mokimu, berjumlah 40 orang, sebagai pendamping khatib dan moji yang bertugas dalam mesjid dan upacara-upacara keagamaan dan kesultanan. Mokimu dipimpin oleh yang bertugas sebagai, asisten atau staf dalam syarana agama islam, Mokimu juga bertugas sebagai pelaksana hukum dera atau rajam kepada orang yang yang melanggar syariat islam misalnya zina, menurut ketentuan adat istiadat Buton.

Kelembagaan Syara Kidina (agama islam) ini, adalah satu-satunya kelembagaan Kesultanan yang masih aktif sampai saat ini, sebagaimana telah menjadi azas dan normanya dalam UUD M-7 Kesultanan Buton yang dibuatnya, harta, warga, Negara (wilayah) dan pemerintahan telah di korbankan atau telah di satukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, AGAMA HARUS TETAP ADA.

11536070_10204529266976386_3042606740663067280_n

Para aparat syara kidina (agama islam) Kesultanan sementara melaksanakan aktifitasnya melayani umat, di Mesjid Agung Kesultanan Buton.

Ketika anda sedang menghadapi masalah besar dalam kehidupan social, negara dan berbangsanya, karena harta, diri, Negara dan Pemerintahan tiada berdaya, maka ikutilah agamamu (islam.red), jangan lihat dari kiri atau kanan, jangan lihat dari depan atau belakang, tapi naiklah keatas (arsy.red) menghadap Tuhanmu dan lihat ke bawah, masalahmu akan terlihat kecil.

Sumber. Terjemahan UUD M-7 Kesultanan Buton

——

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: