MENGAPA TINGGI SEKALI KEMATIAN IBU TAHUN 2015 DI POLMAN.?

Polewali Mandar Sulawesi Barat. @arali2008. Maunya Bappeda dan juga maunya bagian Ortala (Organisasi dan Tata Kelola) Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan barusan ada surat dari Inspektorat Provinsi Sulawesi Barat. Bahwa target penurunan angka kematian ibu dan bayi segera di revisi karena adanya kejadian jumlah kematian ibu dari 5 kematian ibu ditahun 2014 menjadi 17 kematian ibu ditahun 2015. (sumber catatan harian penulis minggu pertama bulan Februari 2016 setelah mengikuti rapat dibagian Ortala dan Bappeda Pemda Polewali Mandar)

Bahwa target penurunan AKI dan AKB selama masa jabatan Bupati 2014-2019 itu bukan (bc. bagian perencanaan) yang buat. Tetapi yang buat adalah formula pola kerja (bc. data) yang sudah terbangun dengan baik sejak 5-7 tahun sebelumnya. Jadi kalau diruba atau direvisi itu artinya merusak apa yang sudah baik. “kita semua ingin merusak pola kerja yang sudah baik” yaaa janganlaah !?

AKI 2015

Grafik Data Prediksi, Data Real, secara regresi Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten Polewali Mandar dari tahun 2005 – 2018. Dan Jumlah Kematian ibu di tahun 2015 yang telah mencapai 17 Kematian.

Pola data telah menunjukan cara kerja selama ini sudah sangat baik untuk terus menurunkan AKI dan AKB. kalau tiba-tiba ditahun 2015 melonjak sampai 212 % dari target. (17 kematian dengan target 8) itu bukan data target atau capaian yang perlu diperbaiki.

Yang diperbaiki adalah

Pertama

Secara makro ada program dan kegiatan yang menyimpang dari pola-pola kerja yang sudah terbangun dengan baik selama 5 tahun terakhir. Program dan Kegiatan tersebut bersifat tidak rutin, misalnya saja program Jampersal, yang dua tahun sebelum disiapkan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk mempercepat Angka Penurunan Kematian Ibu dan Bayi, tiba-tiba ditahun 2014-2015 ditiadakan. Walapun ada penggantinya berupa Program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), sasaranya tidak ditunjukkan langsung untuk penurunan kematian Ibu, tetapi lebih diarahkan untuk pembagian Jasa dan penunjang operasional Puskesmas.

Banyak program dan kegiatan rutin cenderung merubah pola kerja yang sudah baik, awalnya menggunakan kerangka CIPO (Consept, Input, Proses dan Output), yang mana Ouput lebih ditekankan pada realisasi sasaran kerja, berubah menjadi realisasi Anggaran. “Output adalah Kegiatan telah di laksanakan dengan Realisasi Anggaran 100 %” jelas sekali bahwa outpun kegiatan lebih ditekankan pada realisasi anggaran daripada sasaran kinerja penurunan kematian ibu.

Kedua

Secara mikro bahwa kegiatan PROGNOSIS tidak disertai dengan upaya PROFILAKSIS terhadap AKI dan AKB itu terlihat dari hasil audit kematian.

Prognosis adalah besarnya kemungkinan meninggal dari keadaan sakit dari seseorang dalam hal ini adalah Ibu Hamil, Bersalin dan Nifas. Sedangkan Profilaksis adalah Prosedur tindakan pencegahan dari adanya prognosis.

Dari 17 kematian ibu hasil Audit Maternal Kematian, profilaksi kurang mendapat perhatian yang terprosedur dan terstandarisasi, misalnya pendarahan pasca persalinan, apabila tidak dilakukan profilaksis, maka dalam hitungan menit akan mengakibatkan kematian.

Ketiga

Beberapa persoalan lainnya adalah Intervensi Bappeda Kabupaten Polewali Mandar yang terlalu bersifat Tehnis, telah diambil alih, misalnya Hasil Kajian  Bappeda Polewali Mandar Tentang Sebab Kematian Ibu menyimpulan bahwa Kematian Ibu Banyak Terjadi di Wilayah Perkotaan daripada Pedesaan karenanya perlunya adanya Tindakan pencegahan berupa deteksi dini

Bappeda membuat kesimpulan kematian ibu, banyak terjadi diperkotaan dari pada pedesaan. ITU ADALAH KEKELIRUAN. Kalau dilihat dari sisi jumlah memang demikian. Tetapi itu tidak bisa dijadikan kesimpulan, Ini benar-benar kesimpulan yang secara tehnis epidemiologi tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Yang benar adalah wilayah pedesaan dan perkotaan angka kejadian kematian ibu sama saja. masing-masing 2 per 1000 kelahiran hidup. Data menunjukkan Pedesaan kematian 6 dengan 3.305 Kelahiran hidup. Perkotaan kematian 11 per 5.301 kelahiran hidup. Bahasa operasionalnya adalah setiap 1000 kelahiran hidup akan terjadi 2 kematian ibu di desa maupun wilayah kota.

Pencegahan yang bersifat Deteksi Dini  yang disimpulkan oleh Bappeda Polewali Mandar juga sangat jelas, bahwa Bappeda secara tehnis tidak mengerti tentang konsep deteksi Dini.

Deteksi Dini atau dalam Kajian Epidemiologi biasa disebut dengan Faktor Resiko Dini yang dapat di artikan sebagai kegiatan mendeteksi seberapa besar kemungkinan orang sehat akan menderita sakit. Dan deteksi dini harus dilakukan oleh orang-orang profesional dan memiliki Surat Tanda Regresi Sebagai Tenaga Profesional Kesehatan.

Yang dideteksi adalah orang sehat, kegiatan ini sudah dilakukan oleh para provider kesehatan ditingkat pelayanan langsung dan juga langsung pada sasaran populasi program dan kegiatan. Konsep yang tepat dalam mencegah kematian ibu adalah Prognosis dan Profilaksis bukan Deteksi Dini dari ibu maternal yang sehat, yang memungkinkan mereka sakit, tetapi mencegah ibu maternal yang sakit dari kemungkinan meninggal

Diakui memang !? untuk menurunkan angka kematian Ibu dan Bayi melibatkan lintas sektor, namun perlu diketahui bahwa secara tehnis dalam hal tanggung jawab. ada hal-hal tehnis yang tidak bisa diserahkan kepada instansi lain. misalnya saja PROGNOSIS, itu sangat tehnis, SKPD atau badan lain tidak bisa mengambil peran tersebut.

Informasi terakhir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat dr H. Achmad Asis. M.Kes, mengatakan, “Bahwa satu-satunya urusan kesehatan di daearah (Provinsi maupun Kabupaten) adalah Tanggung Jawab dan wewenang  SKPD Kesehatan atau Dinas Kesehatan.

Pola kerja dan keterlibatan lintas sektoral yang tidak berdasarkan kewenangan yang penulis nyatakan telah menyimpang dari pola kerja yang telah baik dan bekerja sesuai dengan kewenangan.

Akhir dari tulisan singkat ini, Apakah harus merubah target penurunan AKI dan AKB atau merubah pola kerja yang cenderung menyimpang? Penulis sebagai seorang praktisi kesehatan mengatakan yang dirubah atau diperbaiki adalah Pola Kerja, Karena Sebelumnya pola kerja telah menunjukan pola kerja yang baik dan ditahun 2015 menunjukkan adanya pola kerja yang menyimpang, maka perlu dilakukan REDUKSI dan AKSELERASI pola-pola yang telah menyimpang, kembali ke pola yang telah terbukti selama 5-6 tahun terakhir dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dengan sangat signifikan (baik).

 —————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: