Di Wawancarai YASMIB : Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Gender

arali008Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.– Dalam mendorong pembangunan yang responsif gender di Sulawesi Barat, selain membangun jejaring secara social di tengah masyarakat, YASMIB selaku organisasi non pemerintah juga melakukan intervensi ke penyelenggara pemerintah. Dalam hal ini, instansi yang terkait dalam sejumlah aspek pembangunan seperti bidang kesehatan, pendidikan, badan perencanaan pembangunan daerah, dinas PU dan lain sebagainya.

Nah, apa perubahan yang dihasilkan dalam berbagai usaha tersebut ? Bagaimana pengaruhnya terhadap peningkatan kapasitas secara personal di sejumlah instansi pemerintah ? dan seterusnya.

Berikut ini wawancara dari YASMIB ( Pak Rahmat) dengan narasumber Arsad Rahim Ali, kepala bagian perencanaan dan pelaporan Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar.

Apa yang bapak tahu terkait perencanaan dan pengangaran berbasis gender di Polewali Mandar ?

Jawab ; Terkait dengan perencanaan dan penganggaran berbasisi gender di Polewali Mandar khususnya SKPD Kesehatan, ada tiga hal yang harus diketahui yaitu perencanaan, penganggaran dan gender atau issu gender. Saya harus jujur katakan bahwa ketiga hal ini, belum menjadi satu kesatuan utuh untuk menjawab issu gender dalam proses perencanaan dan penganggaran. Issu gender dalam kesehatan hanya sebagai bahan analisis determinan person jenis kelamin, laki-laki atau perempuan hanya dilihat dari sejauh mana berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan terjadinya penurunan atau peningkatan kasus-kasus penyakit atau masalah kesehatan.

Menurut bapak , sejauh mana realisasi perencanaan dan penganggaran berbasis gender di Polewali Mandar ?

Jawab ; Realisasi dalam perencanaan dan penganggaran dapat dilihat dari mulainya disusun renja (rencana kerja) dan kemudian penyusunan RKA SKPD, disini masih belum terlihat secara nyata issu gender termuat dalam proses dokumen penyusunan perencanaan dan penganggarannya, di renja Dinas Kesehatan belum terlihat demikian juga dengan data-data pendukung dalam penyusunan RKA. Issu gender nanti mulai terlihat ketiga pelaksanaan kegiatan atau program dilaksanakan yaitu dengan melihat laporan-laporan perkembangan indicator status pelayanan yang dihubungkan dengan status kesehatan berdasarkan data terpilah. Laporan pelayanan kesehatan bayi misalnya pelayanan kesehatan pada bayi harus dilayani semuanya tidak melihat apa laki-laki atau perempuan semua di perlakukan sama. Pembedahan pelayanan kesehatan pada bayi yang biasa disebut dengan factor kesenjangan nanti terlihat pada kasus-kasus status kesehatan bayi sebagai factor resiko misalnya bayi dengan BBLR, bayi dengan kelainan bawaan,

Selaku bagian dari penyelenggaraan anggaran, menurut bapak, apa yang paling penting dilakukan dalam mendorong pembangunan yang berprespektif gender, terutama yang berpihak pada perempuan.?

Jawab ; Dalam sasaran kegiatan program kesehatan perempuan terutama, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas Wanita Usia Subur itu masuk dalam sasaran kelompok populasi rawan. Itu sangat jelas sudah merupakan kebijakan dari pusat sampai ke tingkat layanan kesehatan. Dalam RKA yang kemudian menjadi DPA telah mempunyai kode rekening program dan kegiatan dalam penganggarannya. Misalnya dalam kode rekening Program Pelayanan Kesehatan ibu yang terurai dalam kode-kode rekening kegiatannya semuanya jelas telah berpihak pada perempuan.

Bapak sekarang di Dinas Kesehatan, institusi ini memiliki peran besar dalam pembangunan di daerah, apakah selama ini telah menajdikan aspek gender, terutama perempuan, sebagai salah satu pertimbangan dasar dalam perencanaan dan penganggaran responsif gender ?

Jawab ; Yaa. Dalam hal pertimbangan dasar yang kemudian menjadi kebijakan dasar dalam perencanaan dan penganggaran responsip gender yaitu dengan menetapkan perempuan sebagai sasaran program dan kegiatan prioritas baik dalam hal prose pelaksanaan kegiatan, output dan outcome yang termuat dalam dokumen kinerja kesehatan

Seperti apa bentuk konkritnya ? Angka kematian ibu sebagai indicator outcome bahkan tujuan, status pelayanan ibu maternal sebagai indicator output

Bagaimana pengalaman bapak, dalam menggunakan gender analysis Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS) dalam penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran ? pengalaman di tingkat TAPD dan pada saat pembahasan di DPRD ?

Jawab ; Dalam hal Analysis pathway (GAP) yang Sembilan langkah, masih fakus pada penyusunan dokumen laporan tahun kesehatan atau yang dikenal dengan Laporan Profil Kesehatan, laporan dibuat dengan dalam format jenis kelamin berdasarkan laporan hasil program dan kegiatan, yang kemudian dalam narasi deskriptifnya dijelaskan kesenjangan dan factor-faktor penyebabnya baik internal maupun eksternal , kemudian ditarik kesimpulan untuk menjadi kebijakan dan rencana aksi. Laporan Profil kesehatan yang dibuat tiap tahunnya merupakan data dasar ( base line) dan indicator kinerja dinas Kesehatan dan tentunya di dalamnya terlihat terlihat indicator gendernya.

Untuk Gender Budget Statement (GBS) belun tertata dengan baik baik karena dua hal. Pertama issu gender terutama perempuan itu sudah merupakan sasaran utama dan telah ada kode rekening program dan kegiatan yaitu Program Pelayanan kesehatan ibu dengan berbagai kegiatannya yang berorientase pada pada keberpihakan pada perempuan. Artinya Ada tidak adanya BGS akan tetap menjadi perhatian DInas Kesehatan. Kedua GBS ini belum masuk dalam system penyusunan penganggaran misalnya dalam renja dan dasar-dasar dalam penyusunan RKA-SKPD Dinas Kesehatan.

Pengalaman di tingkat TAPD pada saat pembahasan, Analysis pathway (GAP) yang Sembilan langkah belum digunakan sebagai bahan pembahasan, yang digunakan adalah laporan Profil Kesehatan, sementara Gender Budget Statement (GBS) analisis situasinya didasarkan pada profil kesehatan dan penganggarannya yang dilihat adalah program dan kegiatan yang telah mempunyai akun rekeningnya dalam RKA-SKPD.

Menurut bapak, apakah perencanaan dan penganggaran yang responsif gender cukup aplikatif ? apa kekurangan dan kelebihannya ?

Jawab ; Saya belum bisa mengatakan apakah aplikatif atau mungkin tidak aplikatif, tetapi yang jelas cukup aplikatif jika mempunyai data dasar (base line) seperti yang saya sebutkan dan saya aplikasikan pada penguatan data profil kesehatan yang berbasis gender, tampa ini semua tidak bisa diaplikasikan, itu adalah kekurangannya, kelebihannya adalah kita bisa berpikir terstruktur step by step dalam penyelesaikan persoalan yang terus berulang dan tidak akan berakhir dengan peningkatkan kualitas pembangunan yang berbasis gender, perempuan akan terus menjadi kelompok yang beresiko (rawan) dan harus terus menjadi perhatian. Setiap tahun ada ibu hamil dan akan melahirkan, itu adalah persoalan yang terus berulang dan tidak akan berakhir.

Dalam rangka mendorong perencanaan dan penganggaran yang responsive gender, apa tantangan yang bapak hadapi ?? ( apa misalnya soal SDM yang terbatas, kapasitas pengetahuan SDM, struktur dan koordinasi kelembagaan, dari segi regulasi dan lainnya)

Jawab ; Tantangan yang dihadai adalah pencapaian kualitas yaitu kualitas perencanaan dan penganggaran yang responsip gender itu sendiri, seperti yang saya katakan pada pertanyaan sebelumnya, persoalan gender terutama perempuan akan terus berulang dan tidak akan berakhir, kita akan terus tertantang untuk terus menjadikan issu gender sebagai prioritas, hingga kita mendapat kebijaksanaan sewajarnya. Tantangan itu adalah terbentuk kerja tim, yang terdiri dari bagian perencanaan, bagian pelaksana program, bagian pemberi pelayanan dan tentunya sasaran gender itu sendiri. Yaa, jadi menyakut SDM, struktur dan koordinasi kelembagaan, dari segi regulasi dan lainnya, masih merupakan tantangan yang harus di hadapi.

Menurut bapak, apa yang perlu dibenahi dalam perencanaan dan penganggaran yang renponsif gender di Polewali Mandar ?

Jawab ; Pertama, khususnya kesehatan adalah Data Dasar dalam hal ini Laporan Profil Kesehatan sudah harus tuntas format-format isian jenis kelamin, Kedua, formulasi PPRG yang terdiri dari GAP dan GBS sudah harus jelas dimana tempatnya sebaiknya dalam renja SKPD dan yang ketiga, adalah Tim kerja dalam perencanaan dan penganggaran yang renponsip gender ini harus ada dan mutlak ada dan bila perlu kegiatannya di masukan atau jadikan kode akun rekening dalam rekening program dan kegiatan dalam struktuk program dan anggaran RKA-SKPD.

Dalam mendorong PPRG seperti apa strategi yang bapak terapkan secara kelembagaan di Polewali Mandar ?

Jawab ; Masih pada penguatan Data Base (Data Dasar) yang berbasis gender, ini dikelolah secara kelembagaan program, setiap tahunnya semua program diharuskan membuat lapoaran tahunnya yang kemudian terhimpun dalam laporan profil kesehatan tahunan yang berbasis analisis gender

Apa pendapat bapak terhadap keterlibatan masyarakat dalam pembangunan di Polewali Mandar ?

Jawab ; Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dapat dilihat dari partisipasinya. Dalam program kesehatan ada beberapa indicator untuk dapat menunjukan keterlibatan atau partisipasinya yaitu Penentuan strata-strata dalam Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) dalam strata pratama, madya, purnama dan mandiri. Misalnya Strata Posyandu dan Strata Desa Siaga. Keterlibatan masyarakat yang aktif bila berada pada strata purnama dan mandiri. Di Kabupaten Polewali Mandar presentasenya Strata posyandu aktif hanya berkisar 25 % dan Strata Desa Siaga hanya berkisar 20-30%. Ini dapat diartikan bahwa keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan rata-rata hanya 25 %, sebesar 75 % yang menunggu, menikmati untuk dilayani, seharusnya ini dibalik 75 % aktif terlibat dan hanya 25 % perlu ditangani secara khusus bisa karena sakit, atau masih berada dalam tahap ketergantungan.

Menurut bapak, apakah masyarakat Polewali Mandar , terutama perempuan, cukup memiliki peran dalam pembangunan ?? ( seperti apa kongkritnya)

Jawab ; Ini susah jawabnya, apakah peran perempuan sebagai sasaran program atau peran perempuan sebagai pelaku program, Peran perempuan sebagai sasaran program dapat dilihat dari posisi mereka ketika hamil misalnya tiap tahun sekitar 8000an ada perempuan hamil dan bersalin di kabupaten Polewali Mandar. Idealnya dari 8000an ibu hamil harusnya 8000an laki-laki (suaminya)juga harus terlibat dalam pelayanan kehamilan dan persalinan jadi idealnya mereka harus berbagai peran , kenyataan peran mereka (ibu hamil) begitu berat, sehingga tidak jarang masih ditemukan kematian saat persalinan. Sementara peran perempuan sebagai pelaku program, kader posyandu misalnya ada sekitar 2700 kader posyandu adalah perempuan, peran mereka ini sangat besar, hanya sayang sekali peran mereka ini tidak mandiri, tidak diarahkan untuk mandiri dalam mengelola posyandu, posyandu hanya mandiri 25 %, sebesar 75 % tidak mandiri, padahal tiap tahun mendapatan insentif anggaran. Dan sangat disangat disayangkan juga yang mendampingi mereka di posyandu sebagian besar adalah perempuan juga (Bidan dan tenaga kesehatan perempuan lainnya). Pertanyaannya apakah perempuan cukup memiliki peran dalam pembangunan? Saya kira belum, perempuan sebagian besar masih dalam posisi sebagai pekerja, belum di posisikan sebagai pemegang peran dalam pembangunan.

Kalau menurut bapak, seberapa besar peran Yasmib mendorong keterlibatan perempuan dalam pembangunan di Polewali Mandar ?

Jawab.; Dalam bentuk dukungan dan pengawalan keterlibatan perempuan dalam pembangunan sudah sangat banyak, sejauh yang saya amati pendekatan melalu jalur formal (pemerintah kabupaten, kecamatan maupun desa) sudah sangat banyak.

Dalam beberapa momen kegiatan yang terkait dengan upaya mendorong pembangunan berprespektif gender, bapak pernah dilibatkan yasmid,kegiatan apa itu ? Apa yang dapat bapak simpulkan dari kegiatan tersebut ?

Jawab ; Diantaranya workshop PPRG dan bahkan yang terakhir Training of Fasilitator PPRG, Proses perencanaan dan penganggaran pembangunan kesehatan mulai dari musrermbang desa, kecamatan dan kabupaten juga perencanaan sector mulai dari puskesmas sampai dengan dinas kesehatan. Juga Fasilitasi pertemuan PKK dan Kader posyandu tingkat desa. Kesimpulannya Bahwa pembangunan berprespektif gender yang berbasis issu gender itu tidak akan selesai tetapi akan terus berulang, dorong yang dilakukan YASMIB setidaknya telah memberikan arah cara-cara menghadapi persoalan-persoalan gender yang terus berulang tersebut.

Apa tanggapan Bapak terhadap YASMIB ? menurut Bapak apakah gerakan YASMIB memiliki pengaruh?

Jawab ; YASMIB Sebagai LSM yang melakukan pengawalan dan dorongan dalam proses pembangunan berprespektif gender kepada pemerintah setingkat kabupaten bahkan kecamatan dan desa, yang telah mempunyai organisasi, sumber daya dan cara-cara kerja pemerintahan yang telah formal adalah tidaklah mudah dilakukan, YASMIB sebagai LSM telah melakukannya. Dan itu cukup berpengaruh.

Kalau secara personal, apa pengaruhnya menurut bapak ? pengaruhnya dari segi mana?

Jawab ; Secara personal adalah cara-cara melakukan pengawalan perencanaan dan penganggaran dalam suatu program pembangunan pemerintah.

 Secara kelembagaan apa pengaruhnya bagi institusi tempat bapak menjabat ? pengaruh dari segi apa?

Jawab ; Pengaruh dari segi kelembagaan adalah sharing (berbagai pengalaman) dari dua lembaga Pemerintah dan non pemerintah dalam mewujudkan proses perencanaan dan penganggaran berprespektif gender agar lebih bijak dalam mengayomi issu-issu gender.

 Apa respon pertama kali ketika dilibatkan YASMIB di beberapa kegiatan?

Jawab ; Peran dan kepentingan serta partisipasi saya terungkap, dengan penjelasan dan pertanyaan-pertanyaannya, hanya saja peran dan kepentingan serta partisipasi saya itu tidak bisa saya realisasikan semuanya karena situasi yang begitu cepat berubah. Ketika GAP dan GBS ditawarkan saya punya peran dan kepentingan untuk berpartisipasi menampilkannya, dokumen pendukung pada RKA-SKPD, hanya karena situasi yang begitu cepat berubah menampilkan GAB dan BGS bukan sesuatu yang penting, tetapi bukan berarti tidak diperlukan. Penting untuk menyusunnya tetapi tidak terlalu penting untuk menampilkannya.

  ——————————————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: