Pendarahan Pada Proses Persalinan

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.– Baru saja penulis mendampingi dr. Annas Budi, Sp. OG, MARS dan dr. Mardyah, Sp.OG, M.Kes, menfasilitasi Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN) bagi tenaga kesehatan bidan, diselenggarakan P2KP Polewali Mandar dari tanggal 1-9 Mei 2014 di Ruang Pertemuan Komite Medik RSUD Polewali. Sebagaimana setiap pelatihan APN angkatan sebelumnya, ada penekanan-penekanan materi ajar, kali ini ada 3 Hal penting yang penulis catat dalam Pelatihan APN ini,

Ketiga hal penting yang diberi penekanan tersebut adalah :

  1. Perubahan Buku Acuan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal yang dikeluarkan oleh Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012.
  2. Perubahan devinisi Kala Satu Persalinan
  3. Pendarahan pada proses persalinan.

Dari kedua dokter spesialis Obstetrik dan Ginekologi  pada RSUD Polewali  yang saya fasilitasi  (baca : Dampingi) tersebut terhadap tiga hal yang ditekankan dapat diuraikan sebagai berikut :

Perubahan Buku Acuan

Perubahan Buku Acuan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal yang dikeluarkan oleh Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR) bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 adalah perubahan pada jumlah langka asuhan persalinan normal dari 58 menjadi 60 langkah. Perubahan itu terjadi pada tambahan langkah inisiani dini ASI dan pemeriksaan bayi lengkap,  Penuntun Belajar Keterampilan Asuhan Persalinan Normal dengan 60 Langkah dapat diklik atau di download  disini 

Perubahan devinisi Kala Satu Persalinan.

Kala satu persalinan dimulainya proses persalinan yang ditandai dengan adanya kontraksi rahim (baca; kandungan) yang teratur, adekuat, dan menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap. Kala satu dibagi menjadi dua fase yaitu fase laten dan fase aktif

Pada reteratur lama Fase laten dimulai dari awal kontraksi rahim (kandungan) hingga pembukaan mendekati 4 cm dan ditandai dengan kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik serta sang ibu Tidak terlalu mules. Pada reteratur baru walaupun sudah terjadi pembukaan 4 cm atau lebih dan belum mencapai kontraksi maksimal 30-40 detik, belum dapat dikatakan telah terjadi perpindahan fase laten ke fase aktif, sebagaimana Fase aktif didefinisikan telah terjadi Pembukaan 4 cm hingga lengkap, adanya kontraksi diatas 3 kali dalam 10 menit dengan Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mules serta adanya Penurunan bagian terbawah janin.

Secara tehnis medis dilatasi Serviks 4 cm dan Interpretasinya terkait Frekuensi dan Lama Kontraksi terhadap batasan Fase laten dan Fase aktif dalam kala satu persalinan adalah

  1. Jika kontraksi < 4 kali dalam 10 menit dan lamanya < 40 detik maka observasi dalam 1 jam ke depan (dalam partograf di tulisan atau dicatat pada 2 kotak kecil). Jika kondisinya masih sama maka hal ini menunjukkan persalinan belum masuk ke fase aktif
  2. Selanjutnya Jika kontraksi > 4 kali dalam 10 menit tetapi lamanya masih < 40 detik maka observasi dalam 1 jam ke depan (dalam partograf di tulisan atau dicatat pada 2 kotak kecil). Jika hasilnya masih sama maka hal ini menunjukkan adanya inersia uteri hipotonik
  3. Bila 4 jam (2 jam sebelumnya + 2 jam berikutnya belum juga kontraksi maksimal 40 detik baru kemudian dapat dinyatakan sebagai fase aktif dengan penyulit (inersia uteri hipotonik)

Pendarahan pada proses persalinan

Picture1

PPH on bed only 1000 ml … sisa darah dalam tubuh hanya 1000 ml.

Penting penulis catat karena pendarahan pada proses persalinan adalah penyebab utama kematian ibu setelah infeksi dan pre eklampsia atau eklampsia. Padahal penyebab dari pendarahan itu sendiri secara ilmiah ataupun praktek telah diketahuinya penyebab dan tindakan pencegahannya, namun tetap saja kematian ibu akibat pendarahan masih berada pada presentase tertinggi.

Kenapa bisa terjadi pendarahan dan kemudian menyebabkan kematian ? yang jelas dari berbagai laporan kematian ibu, penyebab kematian ibu karena pendarahan, kebanyak terjadi pada pasca keluarnya bayi atau pada tahap Kala III yaitu Masa setelah lahirnya bayi dan berlangsungnya proses pengeluaran plasenta dan Kala IV yaitu Masa setelah plasenta lahir hingga 2 jam setelah itu. Kematian ibu pada tahap kala III sangat berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan penolong persalinan (Bidan dan tenaga kesehatan lainnya) tentang fisiologis kala III dan Perdarahan pada Atonia Uteri.

Pemahaman fisiologis kala III dapat dimulai dari pengertian tentang tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang utero-plasenter akan mendorong plasenta ke luar.

Perlu diingat bahwa Sekitar 60% dari perdarahan pascapersalinan terjadi pada ibu tanpa risiko yang dapat dikenali sebelumnya. Demikian juga ketidaksiapan dalam menghadapi atonia uteri atau perdarahan pascapersalinan. Sementara itu Manajemen aktif kala III merupakan upaya profilaksis (baca: Pencegahan) komplikasi perdarahan dengan 3 tindakan pertama ; pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir, kedua ; melakukan penegangan tali pusat terkendali dan ketiga  masase fundus uteri.

Efek Pendarahan

Pengaruh pendarahan pada proses persalinan dan efeknya terhadap sirkulasi dan oksigen, gagal jantung yang mengakibatkan kematian ibu pada proses persalinan

Perdarahan pada Atonia Uteri (pembulu darah melalui jaringan otot tidak segera menjepitnya) secara fisiologis dimulai dari ujung pembuluh darah di tempat implantasi akan terbuka sesaat setelah plasenta dilepaskan. Sekitar 350-500 ml darah per menit akan keluar melalui ujung pembuluh darah tersebut. Ingat! Dihitung permenit, kalau rata-rata 400 ml darah permenit, 5 menit saja terjadi pendarahan, maka sebanyak 2000 ml atau 2 liter, maka perubahan tanda vital (hipotensi) akan terjadi sama sang ibu. Dan apabila ini tidak segera dihentikan dan tidak adanya tindakan pemulihan maka akan mengakibatkan atau terjadinya syok hipovolemik, jumlah darah telah hilang sampai dengan 50 % dari jumlah darah dalam tubuh. Penghentian perdarahan dari bekas tempat implantasi plasenta hanya dapat terjadi jika anyaman miometrium menjepit pembuluh darah yang berjalan diantara anyaman tersebut. Atonia atau hipotonia membuat mekanisme penjepitan tersebut gagal berfungsi, hingga akhirnya darah terus keluar sampai mencapai 80 % atau tinggal 1 liter darah dari kurang lebih 5 liter darah yang ada dalam tubuh, hanya 5-10 menit —– SAYA ULANG, “HANYA 10 MENIT”—– saja sang ibu meninggal dunia karena kurangnya darah menuju jantung dan akhirnya jantung gagal untuk mempertahankan sel dan jaringan terus hidup.

Kesimpulannya, Pendarahan pada proses persalinan dapat didefinisikan ; Keluarnya darah diatas 25 % dari jumlah total darah dalam tubuh (+ 5.000 ml) selama proses persalinan seorang ibu yang dapat diketahui dengan indikasi adanya hipotensi yang apabila tidak segera dihentikan akan mengakibatkan syok, gagal jantung dan berakhir dengan kematian.

Baca juga tulisan terkait:

  1. Mencermati Angka Kematian Ibu di Propinsi Sulawesi Barat.
  2. Hasil Audit Non Klinis Kematian Ibu dan Bayi

—————————————————————————–

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

One Response to Pendarahan Pada Proses Persalinan

  1. yulianaaza mengatakan:

    salam kenal ya, d tggu kunbal nya
    numpang naya, bagaimana cara mencari teman di blog. Trimz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: