Disajikan Dengan pendekatan Epidemiologi Narkoba

Polewali Mandar Sulawesi Barat. @arali2008.— Merdeka atau Mati ! Merdeka dengan bebas dari Narkoba atau mati konnyol dengan Narkoba, segala upaya pencegahan penggunaan Narkoba telah kami lakukan. Semua tergantung Induvidu-Induvidu.

Kasus Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif lainnya) di Indonesia mulai dari tahun 2000 sampai dengan 2012, menunjukan angka 3000 an kasus diawal tahun  2000-2003 dan selanjutnya meningkat terus 7000 an kasus setiap tahunnya hingga mencapai 5 jutaan orang (prevalensi 2.5%)  sampai dengan tahun 2012 (Sumber : BNN tahun 2012)

Adalah beberapa bagian dari materi penulis tentang Narkoba  sebagai tindak lanjut dari  surat Komandan Kodim Wilayah Kabupaten Polewali Mandar Bpk Yudhi Murfi, surat permintaan petugas Dinas kesehatan Kabupaten Polewali Mandar untuk membawah materi Jenis dan Bahaya Norkoba, untuk para anggota TNI dan Istrinya Senin tanggal 9 Maret 2013 diruang Aula Kantornya. Oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali ( drg. Hj. Nurwan Katta MARS) menunjuk Penulis untuk membawah materi tersebut.

Sesuai dengan profesi penulis sebagai seorang fungsional epidemiologi kesehatan ahli maka materi  yang diberikan ini ——– Jenis dan Bahaya Norkoba, Pencegahan dan Pemberantasannya——- dibuat dengan sudut pandang epidemiologi kesehatan yaitu dengan menggunakan  etiologi (proses terjadinya kasus Narkoba) dengan pendekatan segitiga epidemiologi.——- Disajikan Dengan Pendekatan Epidemiologi Narkoba—— Seperti terlihat pada gambar dibawah ini

etiologi kasus narkoba

Narkoba  sebagai AGENT, sementara HOST sebagai User dan Envirotment sebagai Lingkungan dimana Narkoba digunakan dan Beredar.

Narkoba sebagai AGENT  ditempatkan sebagai substance dari drugs Narkoba (zat/bahan dari narkoba) yang telah di Undangkan sebagai Undang-Undang NARKOTIKA-PSIKOTROPIKA  yaitu UU RI NO 22 / 1997 tentang Narkotika diantaranya OPIUM, KOKAIN dan GANJA. Dan Undang-Undang  RI NO 5 /1997  tentang Psikotropika diantarnya  AMPHETAMIN, HIPNOTIK, SEDATIF  dan lain-lain.  Berdasarkan Undang-undang hal ini penulis menjelaskan secara singkat jenis-jenis narkoba dan gambar-gambarnya.

HOST sebagai User yaitu : Host sebagai user berasal dari kelompok resiko; narapidana, pekerja hiburan, pekerja seksual, sopir, pelaut, pekerja keras, mahasiswa dan lain-lain. Dimulai dari pemula sampai dengan korban yaitu

  • PENGGUNA, mulai dari pengguna pemula dengan ciri khas menyendiri dan sering keluar malam,
  • PEMAKAI atau PENGGUNA TETAP,  dengan ciri terlambat bangun karena selalu keluar malam, terus menyendiri, bolos terhadap pekerjaan rutinnya dan selalu bermasalah dengan keuangannya
  • PECANDU, dengan ciri khas terlihat mata mengantuk dalam kesehariannya, menikmati sensasi dunia dengan stimulan halusinasi.
  • KORBAN. yach ! mereka sudah tidak berdaya lagi, dengan indikasi yang sangat jelas mereka adalah korban penggunaan Narkoba.

Sementara itu Envirotment sebagai Lingkungan dimana Narkoba digunakan dan beredar, diantaranya karena pertemanan, pekerjaan, adanya bandar Norkoba dan lain-lain

Menurut Depkes RI, NARKOBA adalah Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial.

Sementara itu menurut WHO adalah  semua zat kecuali makanan, air dan oksigen yang jika dimasukan kedalam tubuh, dapat mengubah fungsi tubuh secara fisik dan atau psikologis.

Inti pokok materi yang penulis bawakan adalah subtansce dari drugs Narkoba (zat/bahan dari narkoba) reaksinya terhadap pengguna (User) mulai dari pengguna pemula, pemakai/pengguna tetap, pecandu dan Korban.

Reaksi atau efek tersebut adalah

  • Depresan : Pemakai akan tertidur atau tidak sadarkan diri.
  • Halusinogen : Pemakai akan berhalusinasi
  • Stimulan : Mempercepat kerja organ tubuh seperti  jantung dan otak sehingga pemakai merasa lebih bertenaga untuk sementara waktu.
  • Adiktif : Pemakai akan merasa ketagihan sehingga akan melakukan berbagai cara agar terus bisa mengonsumsinya. Jika tidak bisa —— kritis (SAKAW).

Dan selanjutnya dengan pengetahuan yang sedikit penulis mencoba menjelaskan  toleransi tubuh terhadap zat aditif dari Narkoba seperti pada gambar dibawah ini

Toleransi tubuh terhadap zat aditif

Penggunaan dosis normal zat dan atau bahan obat yang masuk dalam tubuh dan mempengaruhi fungsi tubuh secara fisik dan spikologis, Hal ini biasa diberikan oleh seorang dokter dengan resep 3 x sehari sebagaimana yang ditunjukkan garis biru pada gambar, merupakan tindakan yang normal dan tidak memunculkan sifat aditif. Namun sebaliknya  penggunaaan dosis yang tidak normal seperti yang diperlihat pada garis merah pada gambar diatas, sekali pakai langsung melewati dosis maksimal dan langsung menyentuh aspek biologis, Narkoba dengan sifat aditif kariernya maka sekali mencoba akan langsung memperbesar peluang untuk menjadi pecandu. Yang jelas Tubuh yang makin lama main toleran kian membutuhkan narkoba dengan dosis yang kian lama kian tinggi.

Saya kemudian memberikan contoh dari Jaky (mantan Pencantu) dari Yayasan Pelita Hati Pengalaman selama sepuluh tahun terjerat dalam ketergantungan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Narkoba ) membuat  Saya  (35th) sadar bahwa pecandu perlu orang lain untuk menghentikannya. Seperti pecandu lain, Saya hanya mencoba, lama-lama menjadi kecanduan, hingga pada suatu kondisi saya merasa hidupku tak berguna sama sekali. Saya telah melakukan sesuatu yang sia-sia. (Oleh Jaky (mantan Pencandu) dari Yayasan Pelita Hati”

Peningkatan Kasus Narkoba ternyata diiringi pula dengan peningkatan kasus HIV. Saya sedikit termenung tentang jumlah kasus HIV yang dilaporkan oleh salah satu Unit Tehnis Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar, saya tidak menyampaikannya dalam presentase karena bersifat rahasia, saya hanya menyampaikan telah ada ada 4 kasus HIV di Polewali Mandar, satu diantaranya meninggal dunia, tentunya kasus narkoba juga telah banyak di Polewali Mandar, kasusnya tiap tahun terus mengalami peningkatan.

Seseorang yang telah terjerat Narkoba, disamping akan menghancurkan dirinya karena ketergantungan dan beban psikologis, juga akan menghancurkan keluargnya terutama ekonomi keluarga karena begitu  mahal harga Narkoba, dalam sekejap pelan tapi pasti akan menghancurkan kekayaan yang dengaan susah paya dikumpulkan.

Kurang lebih 30 Menit  penjelasan materi, sebelum  ditutup  ada beberapa pertanyaan  dari peserta salah satunya adalah Sang tentara sedikit memberikan pengantar, “Dengan hanya penyuluhan dan dengan mengajak orang untuk tidak Narkoba sepertinya tidak dapat mencegah adanya kasus-kasus baru”. Kemudian sang tentara bertanya “Apa sebenarnya yang telah dilakukan Pemerintah Khususnya Departemen Kesehatan  cq Dinas Kesehatan dalam Pencegahan dan Penanggulangan narkoba?”

Jawaban saya seakan menyimpulkan materi yaitu :

  1. Dinkes terus mengamati perkembangan kasus, jika ada kasus baru, petugas kesehatan kemudian mengintervensi kelompok resikonya misalnya  dari hasil survei sopir mobil penumpang Polewali –Makassar dari 100 sopir di temukan 2-3 sopir telah menggunakan Narkoba (tahap coba-coba). Maka sang pimpinan akan memerintahkan untuk melakukan penyadaran terhadap 100 sopir penumpang tersebut.
  2. Untuk kasus-kasus yang sudah kecanduan Pemerintah cq departemen kesehatan mendirikan panti-panti rehabilitasi sepertinya kasus Raffi Ahmad Sang artis yang terlibat kasus narkoba.
  3. Dan yang terakhir adalah menfaatkan para mantan pecandu sebagai suka relawan untuk mencegah perkembangan kasus-kasus narkoba.

Namun demikian segala upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan semua kembali kepada Induvidu, Mau menjadi pengguna Narkoba dengan hidup tidak normal ataukah menghindari Narkoba dan hidup dengan normal. Hanyalah Tuhan Yang Maha Esa Yang Tahu.

—————————————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: