Data Sasaran Proyeksi Penduduk Versus Data Sasaran Real

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.– Pada pertemuan koordinasi  program KIA dan Gizi yang menghadirkan  petugas gizi dan koordinator Bidan serta kepala Puskesmas  se Kabupaten Polewali Mandar (20 Puskesmas), yang dilaksanakan di ruang pertemuan Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar  tanggal 24 Oktober 2012, saya ditugaskan oleh Kepala Unit Pelaksana Tehnis Penunjang Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar sdri. Sunar, SKM, M.Kes untuk memberikan presentase tentang penggunaan data sasaran penduduk proyeksi dan data sasaran penduduk real.

Presentase yang diberikan kepada saya ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan peningkatan kapasitas manajemen data pengelolaan program gizi  tingkat propinsi Sulawesi Barat yang dilaksanakan tanggal 9-11 Oktober 2012. Untuk disosialisasikan ke tingkat puskesmas terhadap presentasi yang disajikan dipertemuan tersebut.

Waktu yang diberikan kepada saya setelah program Gizi dan Program KIA Tingkat Kabupaten  (sdri Hj. Mudra dan  Sdr Sunar) mempresentasekan beberapa hasil cakupan program dari bulan Januari –September 2012. Sehingga presentase saya lebih pada menilai  permasalahan kedua program tersebut dari sudut pandang penggunaan data sasaran proyeksi dan data sasaran real.

Permasalahan tersebut adalah

  1. Beberapa pencapaian hasil program  dari bulan Januari sampai dengan bulan September 2012 telah mencapai lebih dari 100% (Misalnya pencapaian D/S 120%  untuk program gizi dan pencapaian Persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 110% dan ada juga yang berada jauh dari target yang di tetapkan.
  2. Angka-angka pencapaian yang melebihi 100% ini yang kemudian menjadi permasalah yang muncul seakan saling menyalakan antara para penangung jawab program di tingkat Kabupaten dan para pelaksana program  yang bekerja ditingkat unit layanan fasilitas kesehatan.

Kedua permasalahan ini yang kemudian menjadi topik utama presentase saya, dikombinasikan dengan materi  pengantar yang saya telah dsiapkan tentang mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan data fokus pada penggunaan data proyeksi dan data real. Alur mekanisme penggunaan dan pemanfaatan data dimulai dari tingkat layanan yang terendah yaitu

  1. Posyandu
  2. Desa dengan Poskesdesnya maupun yang tidak mempunyai poskesdesnya
  3. Puskesmas
  4. Kabupaten dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten.

Mekanisme penggunaan dan pemanfaatan data pada berbagai tingkatan administrasi tersebut dapat saya uraikan sebagai berikut

Penggunaan dan pemanfaatan data di tingkat Posyandu.

Penggunaan dan pemanfaatan data di Posyandu adalah penggunakan data real bulan data proyeksi.

Saya tidak mengerti mengapa ada penggunaan data proyeksi ditingkat Posyandu, sebelum-sebelunya tidak ada istilah data sasaran proyeksi di tingkat posyandu. Dalam satu pertemuan dengan staf Unicef dan staf Kementerian Dalam Negeri untuk mengsosialisasikan  penggunaan Dokumen ASIA (Analisis Situasi Ibu dan Anak)  dengan Pendekatan HAM (Hak Asasi Manusia) di  malam harinya di Ruang pertemuan Bappeda Kab. Polewali Mandar (5 Oktober 2012). Staf dari kementerian dalam negeri mengatakan ternyata data sudah diproyekkan juga yach? Maksudnya sudah diproyeksikan juga ditingkat Posyandu. Merupakan catatan saya yang sangat penting untuk mendapat perhatian.

Tidak ada alasan apapun menggunakan data sasaran proyeksi ditingkat posyandu. Karena posyandu  sudah menpunyai sasaran yang sudah jelas dan juga pelayanan  yang akan diberikan kepada sasaran tersebut.

Penggunaan data proyeksi memunculkan permasalahan yang tidak seharusnya terjadi. Di contohkan bila  diproyeksikan jumlah bayi di Posyandu X pada Bulan Januari 2012 sebanyak 20 bayi, maka seorang petugas imunisasi misalnya akan mengambil dua botol ampul Imunisasi DPT, ternyata kemudian di posyandu yang ia kunjungi hanya ada 10 bayi, maka petugas imunisasi tersebut akan mengalami kerugian satu ampul  imunisasi DPT (1 ampul =10 bayi).

Penggunaan dan pemanfaatan data di tingkat Desa

Sementara itu penggunaan dan pemanfaatan data di tingkat Desa (Poskesdesa) sudah seharusnya juga harus mengunakan data real bukan proyeksi. Kalaupun terpaksa menggunakan data proyeksi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi misalnya  ada wilayah desa X yang tidak bisa diakses tiap bulannya sementara wilayah lainnya dapat diakses tiap bulannya, maka dengan terpaksa wilayah yang tidak bisa di kunjungi secara rutin sasaran program digunakan data proyeksi yang memberikan data keseluruhan tingkat desa, namun demikian ini hanya bersifat sementara dan merupakan strategi seorang petugas untuk dapat memperhitungan sasaran pelayanannya. Bukan merupakan keputusan tetap  dalam satu tahun pelaksanaan program.

Penggunaan dan pemanfaatan data real ditingkat Desa merupakan rekapitulasi dari tiap posyandu dan tercata dalam sistem pencatatan yang telah baku dalam buku register sasaran program misalnya pada program pelayanan kesehatan ibu maternal dan anak disebut dengan buku kohort.

Dalam buku kohort (atau buku register pencatatan sasaran) akan terlihat keseluruhan sasaran (by name, by address) sebagai  sasaran-sasaran real terupdate  yang akan diberikan layanan kesehatan tiap bulannya.

Penggunaan dan pemanfaatan data di tingkat Puskesmas.

Puskesmas mempunyai wilayah kerja desa/kelurahan, otomatis data-data  sasaran maupun hasil layanan terjadap sasarannya juga bersifat real bukan merupakan data proyeksi dalam hal penetapan sasaran populasinya.

Di Puskesmas sudah harus tersedia seluruh nama-nama dan alamatnya sasaran yang berada disetiap desa/kelurahannya. Bukan hal yang sulit untuk mempersiapkan data tersebut karena data tersebut tinggal direkapitulasi (ditulis ulang/digandakan ulang)  dan disimpan di Puskesmas oleh petugas pengelola program Puskesmasnya.

Data proyeksi yang digunakan hanya sebagai pembanding, ini pun bukan dibuat oleh puskesmas tetapi oleh pepanggung jawab program di tingkat Kabupaten. Puskesmas tetap menggunakan data sasaran real dan hasil penjumlahan layanan kesehatan sebagai data cakupan perhitungan layanannya. Misalnya Data pemberian Vitamin pada Bayi 6-12 bulan adalah data hasil pemberian dibagi dengan data sasaran real yang tercatat pada buka register kohort bayi, bukan dibagi dengan data bayi yang diproyeksikan oleh Kabupaten.

Data proyeksi hanya merupakan pembanding atau target yang ditentukan dalam setahun untuk melihat apakah capaian-capaian progran telah berada dalam  rencana target strategisnya program. Disini adalah tiga hal yang harus diperhatikan dan merupakan tugas penanggung jawab program di tingkat kabupaten.

  1. Capaian hasil program telah sejalan dengan target yang ditetapkan
  2. Capaian hasil program berada diatas target yang ditetapkan
  3. Capaian hasil program berada jauh dibawah target yang dtetapkan

Petugas Puskesmas tetap berkonsentrasi pada  capaian-capaian yang diperoleh dibanding dengan sasaran realnya. Sementara Penangung jawab program berkosentrasi pada  tiga hal yang disebut diatas.

Penggunaan dan pemanfaatan data di tingkat Puskesmas.

Petugas Kabupaten atau penanggung jawab program ditingkat kabupaten apabila memahami dengan benar  penggunaan data proyeksi. Maka ia tidak akan menyalakan petugas puskesmas yang cakupannya  melebihi diatas target dari data yang diproyeksikan atau lebih rendah dari yang ditargetkan.

Saya benar-benar heran, teman saya sebagai penanggung jawab program ditingkat kabupaten memcoba menyalakan puskesmas, dengan mengatakan saya dibuat malu puskesmas dengan capaian yang melebih  angka 100 %.

Sebenarnya  ini tidak boleh terjadi jika penanggung jawab program ditingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan Kabupaten) memahami fungsi data proyeksi sebagai fungsi monitoring. Karena capaian yang melebihi  100% adalah sangat dimungkinkan bila menggunakan data proyeksi sasaran, namun tidak memungkinkan bila menggunakan data real.

Seorang petugas Kabupaten yang baik bila menemukan angka capaian yang melebihi 100% maka dengan fungsi monitoringnya akan melakukan verifikasi terhadap data real puskesmas, bila benar puskesmas mempunyai data real (sasaran maupun jumlah layanan)  maka pada dasarnya cakupan yang melebih 100% (misalnya 120%) pada dasarnya telah mencapai 100% dan  laporan verifikasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari laporan bulanan yang melebihi 100% tadi. Di akhir tahun akan menjadi bahan verifikasi tahunan  untuk ditetapkan sebagai cakupan selama setahun.

Seorang petugas kabupaten harus selalu berpikir dan melakukan tindak lanjut sebagai berikut

  1. Capaian hasil program yang telah sejalan dengan target yang ditetapkan  normalnya kisaran kurang dan lebih 5% merupakan capaian yang baik. Kelebihan dan kekurangan 5 % merupakan merupakan kesalahan tetapi  pola capaian yang ideal
  2. Capaian hasil program berada diatas target yang ditetapkan  adalah capaian yang perlu dilakukan verifikasi dengan fokus pada verifikasi data realnya.
  3. Capaian hasil program berada jauh dibawah target yang dtetapkan  merupakan peringatan  kepada pelaksana bahwa capai program belum sesuai dengan yang ditargetkan dan beberapa hal yang perlu diverifikasi penggunaan dan pemanfaatan data  realnya.

Kesimpulannya Seorang petugas kabupaten —- Penanggung jawab Program Dinas Kesehatan —– harus selalu berpikir dan melakukan tindak lanjut bila menemukan ketidak sesuai atau Data  Sasaran Proyeksi Penduduk  Versus Data Sasaran Real.  Ia harus menempatkan data sasaran proyeksi penduduk sebagai  pembanding atau target rencana strategis tahunan dan hanya berlaku untuk tingkat Kabupaten dengan tingkat Puskesmanya (bukan wilayah Puskesmas atau tingkat desa/kelurahan). Sementara Data Sasaran Real sudah merupakan tugas pokoh puskesmas dengan wilayah kerjanya, menggunakan data real dalam menjumlah dan menghitung capaian pelayanannnya.

——————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: