Berpikir Sistem dari Sistem Puskesmas

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.-– Petugas kabupaten/kota, jangan sekali-sekali mendesak puskesmas untuk segera menyelesaikan kegiatannya, karena dengan mendesaknya, puskesmas akan melaksanakan kegiatannya dengan sedikit rekayasa. Petugas Kabupaten Juga jangan cenderung memperlambat selesainya kegiatan puskesmas, karena hasilnya tidak akan maksimal. Baiknya adalah Petugas Kabupaten/kota harus dapat melihat kapan harus mempercepat dan kapan harus memperlambat.

contoh Masalah, penyebab Masalah dan hubungan komponen-komponen lainnya dalam sistem Puskesmas

Berpikir Sistem adalah konsep (C=Consept) berpikir dengan melihat dan memahami “Objek” secara utuh dengan komponen Input-Proses-Output (IPO) menjadi Consept-Input-Proses-Output (CIPO).

Kalau dirumuskan  sebagai berikut :

Dari IPO ke CIPO

IPO  —————  CIPO

Kalau objek tersebut adalah Puskesmas, maka Puskesmas tersebut sudah harus terkonsep dalam pemikiran secara utuh, dan karena berhubungan dengan model sistem puskesmas (Input-Proses-Output), konsep puskesmas sudah harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, demikian juga untuk program dan kegiatannya, sudah harus terkonsep dan bersifat operasional serta tujuan yang jelas.

Konsep bersifat operasional maksudnya adalah memiliki pengertian untuk difahami, memiliki petunjuk cara kerja (indikasi pengukuran) untuk dapat melakukan pekerjaan dan memiliki kriteria objektif untuk mencapai tujuan, yang menandahkan pekerjaan telah dilakukan dengan baik atau sebaliknya pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan baik.

Dalam bekerja petugas harus mengerti

dan memahami pekerjaannya,

tahu cara kerjanya

dan tahu cara mengukur hasil kerjanya.

Intinya adalah kegiatan dan program puskesmas yang berkaitan secara teratur dan berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan sistem puskesmas, biasanya dituangkan dalam standar operasional sumber daya, misalnya standar operasional prosedur(SOP) kegiatan, masih dalam alur  berpikir sistem, dengan menggunakan pendekatan Consept-Input-Proses-Output (CIPO), ketika seorang mulai melaksanakan kegiatan, jangan sampai ada sumber daya input yang bergerak lambat (Delay) dan ada juga sumber daya yang bergerak terlalu cepat (inforcement) untuk mencapai output. Semua sistem yang dibangun atau yang telah ada  harus berada dalam keadaan seimbang (Balance) sesuai dengan yang di Conseptkan. Bila terjadi proses perlambatan (Delay) maka di percepat (be accerelated). Bila terjadi  proses percepatan maka harus diseimbangkan.

Contoh :

Pada bagian gizi terjadi proses perlambatan dalam kegiatan yang berimplikasi pada terlambatnya dalam pembuatan laporan, terjadi karena standar operasional prosedur  dalam sistem Puskesmas yang dibuat terlalu rumit dan berbelit-belit atau karena faktor lainnya misalnya kurangnya pemahaman konsep pelaksanaan kegiatan.

Keterlambatan laporan gizi akan mempengaruhi kinerja bagian gizi, dan bagian lainnya dari sistem puskesmas serta berakhir dengan rendahnya kinerja mutu pelayanan puskesmas,  ——-terlihat lambat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan———- Namun sebaliknya bila dalam pembuatan laporan adanya penekanan untuk dipercepat, maka kecenderungan yang terjadi adalah terjadinya rekayasa kegiatan  yang berimplikasi pada rekayasa laporan (laporan fiktif) atau kegiatan yang dilaksanakan cenderung mengabaikan standar operasional prosedur  yang baik dan benar. Dengan berpikir sistem, hal-hal yang membuat proses terjadinya perlambatan dan percepatan akan selalu dikendalikan dan berada dalam keadaan pelaksanaan standar operasional prosedur —–Input-Proses-Output—– yang baik dan benar, dalam sistem dan subsistem pelayanan dan supra sistem Puskesmas.

Setiap petugas puskesmas harus berpikir, terutama sang pimpinan puskesmas, ketika suatu kegiatan akan dilaksanankan, sang petugas harus berpikir kebelakang bahwa kegiatan tersebut telah mempunyai konsep atau telah dibuat konsepnya dengan model sistem “Input-Proses-Output,  jika dalam pelaksanaan  kegiatan  mulai terlihat keluar  atau lambat dalam pelaksanaan model sistemnya, maka petugas tersebut harus cepat mengarahkan pada model sistemnya, sang petugas harus terus berpikir kedepan bahwa dalam jangka waktu tertentu sudah harus mencapai tujuan akhirnya.

Masalah kadang ditemukan dalam pelaksanaan kegiatan puskesmas, petugas harus cepat menyelusuri sumber daya dan prosedur 6M+Time, “Apa yang menyebabkan terjadi masalah dalam pelaksanaan kegiatan?” Biasanya dalam 6M+Time hanya ada 1-2 sumber daya dan prosedurnya yang lambat atau terlalu cepat berfungsi, benahi segera, pastikan berfungsi normal, tidak ditemukan lagi masalah, sampai akhirnya kegiatan telah dilaksanakan.

Sumber daya dan prosedur 6M+Time adalah

  1. Man yaitu Petugas (medis/paramedis dan non medis/paramedis) dan proses kinerjanya. Di Puskesmas petugas tersebut adalah Dokter Umum, Dokter Gigi, Apoteker/Assisten Apoteker, Epidemiolog Kesehatan, Nutritionist, beberapa Perawat, beberapa bidan, Sanitarian, Laboran dan petugas kesehatan lainnya.
  2. Money yaitu Sumber-sumber pembiayaan kesehatan dan Proses memperoleh pendapatan dan penggunaan anggaran (penganggaran), diantaranya APBD kabupaten/kota, APBD Propinsi, APBN dan beberapa sumber dana lainnya.
  3. Material yaitu Bahan dan obat serta persediaan lainnya dan bagaimana Proses penggunaannya
  4. Metode yaitu Prosedur kerja atau Standar Operasional Prosedur (SOP) layanan kesehatan medik maupun masyarakat dan Proses penggunaan prosedur kerja tersebut
  5. Markets yaitu Masyarakat, kelompok masyarakat, keluarga dan induvidu , serta penderita dalam Standar dan penggunaan Pelayanan  minimal Kesehatan sasaran Populasi diiwlayah kerja Puskesmas.
  6. Machine yaitu Perlengkapan dan peralatan kesehatan Puskesmas termasuk sarana kendaraan bermotor roda dua dan empat termasuk proses penggunaannya
  7. Time yaitu jadwal kegiatan/layanan kesehatan di Puskesmas yang dibagi dalam jadwal harian, mingguan, bulanan, tribulan, smester dan tahunan. Semuanya dilakukan dengan tingkat efektifitas (waktu) yang optimal

Pencapaian tujuan kegiatan jangan sampai hanya diarahkan “telah selesai dilaksanakannya kegiatan” tetapi harus diperhatikan apakah output benar-benar telah tercapai dengan baik dan benar. Baik artinya kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan model sistemnya. Benar Artinya hasil kegiatan telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, baik secara kualitas (mutu) maupun kuantitas (jumlah).

Baca juga tulisan terkait

  1. Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas
  2. Sistem Pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
  3. Stakeholder, istilah apakah itu ?
  4. Membaca Undang-Undang RI No. 36 th 2009 tentang Kesehatan
  5. Proyeksi dan Prediksi Kebijakan Kesehatan Polewali Mandar.

————————————————————–

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: