Hasil Penyelidikan KLB Diare Di Kec. Luyo Polewali Mandar

CFR Diare Pada KLB Diare Di Kec. Luyo Polewali MandarPOLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT.– Telah dilakukan penyelidikan kejadian kesakitan dan kematian akibat diare di wilayah Kerja Puskesmas Batupanga Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar Mulai tanggal 15 Mei 2009 sampai dengan 15 Juni 2009. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui besarnya masalah, distribusi dan penyebab masalah sebagai bahan untuk upaya pencegahan dan penanggulangan  yang akan dilakukan oleh Puskesmas  Batupanga dan jaringannya.

Metode yang dilakukan adalah penyelidikan observasional deskritif terhadap pencatatan dan pelaporan diare di Puskesmas Batupanga dan jaringannya, wawancara dengan penderita pada  lokasi   kejadian dan  pengambilan sampel air, tanah dan  tinja  untuk diperiksa di laboratorium (Makassar).

Hasilnya telah terjadi kematian karena diare (dehidrasi) sebanyak 5 orang dari 373 penderita diare  (Case Fatality Rate =1.3 %) selama  satu bulan mulai dari 15 Mei Sampai dengan 15 Juni 2009,  di wilayah Kerja Puskesmas Batupanga Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar.  Case Fatality Rate yang selanjutnya di singkat CFR  dengan 1,3 % artinya jika  dalam hitungan populasi penderita yaitu tiap 100 penderita diare cenderung ditemukan 1-2 penderita diare yang berlanjut pada dehidrasi dan kemudian mengakibatkan kematian atau juga setiap 50 penderita  ada satu kematian diare karena dehidrasi.

Selama  periode satu bulan ada  sekitar  373 Penderita diare ditemukan,  192 diantaranya adalah laki-laki (51.5%) dan  Perempuan  yang menderita sebanyak 181 penderita (48.5%). Diare memang menyerang tidak mengenal jenis kelamin, laki-laki dan perempuan sama saja, tidak ditemukan perbedaan secara bermakna antara laki-laki dan perempuan, ketika seseorang mulai terpapar faktor penyebab diare maka dalam waktu  beberapa jam  orang tersebut langsung menderita diare.

Berdasarkan kelompok umur  ada 17 (4.6%) penderita  masuk dalam kelompok umur  Bayi (0-1 tahun),  Anak Balita (1-5 tahun) sebanyak 112 (30%) penderita, Sisanya adalah kelompok umur 5 tahun keatas yaitu sebanyak 244 (65.4%) penderita. Distribusi penderita secara bermakna sesuai dengan banyaknya populasi dilokasi kejadian, namun demikian ada kecenderungan penderita yang berlanjut dengan kematian mulai  terjadi pada mereka yang digolongkan pada kelompok rawan.

Penderita yang meninggal yang dikategorikan  dalam  kelompok umur yang digolongkan sebagai kelompok rawan  yaitu dari 5 penderita yang meninggal adalah  1 penderita bayi,  3 penderita anak  balita dan 1 penderita  adalah  usia lanjut.

Lokasi KLB di Kec. LuyoLokasi Desa dengan kesakitan dan kematian penderita diare yang  terbanyak ditemukan di disekitar Desa Pussui yaitu sebanyak 112 penderita tampa kematian (CFR 0.0%), masyarakat didesa ini masih cukup mempunyai kemampuan melakukan tindakan penanggulangan kepada mereka yang menderita diare agar tidak mengakibatkan kematian.

Kasus dengan kematian terpusat  sekitar Desa Tenggelang ditemukan penderita  sebanyak 64 penderita dengan 1 kematian (CFR 1.7%) . Dan juga di temukan di Desa Sambali-Wali ditemukan penderita sebanyak 104 penderita dengan 3 kematian (CFR=2.9%) serta  Desa Mappilli Barat dengan 35 penderita dan 1 kematian (CFR=2.8%), yang pasti pada keluarga yang anggotanya meninggal karena diare sangat lamban dalam hal penanggulangan  karena beberapa diantaranya dalam hal ketidaktahuan tindakan awal penanggulangan diare. Untuk Desa-desa disekitanya (Desa Botto, Sambali-Wali, Batupanga, Baru dan  Mambu) ditemukan sekitar 58 penderita dengan tampa kematian (CFR = 0.0%).

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap 10 sampel air, tanah, tinja penderita didapatkan —-penyebab diare adalah Escherichia Coli dan Shigella, bakteri ini banyak terdapat dalam tinja manusia dan dapat mencemari lingkungan sekitar,  penyebab lainnya adalah Coliform atau biasa dinyatakan dengan Most Porbable Number (MPN) Coliform, pertanda lingkungan telah tercemar diatas batas ambang jumlah bakteri Coliform yang di toleransi…… Bakteri ini berhubungan langsung dengan kebiasan membuang hajat disembaran tempat. Dari 373 penderita hanya 15 % yang  menggunakan Jamban Keluarga, Sekitar 85 % penduduk atau keluarga membuang hajat di sembaran tempat misalnya saja di bawah pohon coklat tampa ada lubang penutup, dibiarkan tercecer  kemana-mana, Seranga (lalat, semut dan lain-lain) menghinggapi kotoran dan kemudian terbang mencemari makanan, susu, minuman  dan lain-lain, ada juga sebagian penduduk yang membuang hajat disungai yang sekaligus air sungainya juga dipakai sebagai sumber air untuk mencuci, mandi dan keperluan rumah tangga dan selanjutnya makanan dan minuman akan tercemar, akan lebih bahaya lagi bila mereka yang tidak biasa mencuci tangan sesudah bekerja atau buang air besar, disamping itu juga mereka yang kontak dengan sumber cemaran tersebut dapat dipastikan akan  menderita diare.

liflet Diare Bahasa MandarDiare adalah penyakit akut yang disebabkan oleh  bakteri sebagaimana disebutkan diatas menyerang usus, mengakibatkan  usus tidak dapat menyerap  zat-zat gizi sebagai hasil dari pencernaan sehingga dengan bantuan cairan tubuh harus dikeluarkan melalui tinja  atau Buang Air Besar dengan perubahan bentuk  dan konsitensi tinja (tinja encer atau ½ cair) dengan frekuensi lebih sering biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari (24 jam) dan biasanya jumlahnya sangat banyak (peningkatan volume), bisa mencapai lebih dari 500 gram/hari. (Depkes. RI 2008)

5 penderita yang meninggal, terjadi karena penderita telah mengalami dehidrasi, terjadi karena tubuh penderita mengambil air dan garam yang diperlukan dari makanan dan minuman.  Pengeluaran air dan garam melalui Buang Air Besar (BAB), Buang air Kecil (BAK) dan melalui keringat dan pernafasan.

Bila pencernaan dalam keadaan sehat, air dan garam dari usus akan masuk peredaran darah. Bila dalam keadaan diare, usus tidak bekerja dengan normal. Air dan garam sedikit yang masuk ke peredaran darah dan lebih banyak yang keluar melalui usus. Oleh karena itu dalam tinja akan lebih banyak terkandung air dan garam.

Hilangnya air dan garam dalam jumlah besar dari tubuh menyebabkan timbulnya dehidrasi. Dehidrasi terjadi bila pengeluaran air dan garam lebih banyak dibanding masukkan. Semakin banyak tinja yang dikeluarkan berarti semakin banyak orang tersebut kehilangan cairan. Dehidrasi juga disebabkan oleh muntah yang banyak yang sering menyertai diare pada sebagian penderita yang ditemukan. Dehidrasi lebih cepat terjadi padi bayi dan anak kecil, pada iklim panas, kering dan pada keadaan panas.

Jika sejumlah besar cairan dan elektrolit hilang, tekanan darah akan turun dan dapat menyebabkan pingsan, denyut jantung tidak normal (aritmia) dan kelainan serius lainnya. Resiko ini terjadi terutama pada anak-anak, orang tua, orang dengan kondisi lemah dan penderita diare yang berat. Hilangnya bikarbonat bisa menyebabkan asidosis, suatu gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah. Hal ini semua yang menyebabkan kematian.

Jadi Kesimpulannya diare di Kecamatan Luyo disebabkan oleh Escherichia Coli, MPN Coliform, dan Shigella, yang banyak  terdapat dalam tinja, tersebar dimana-mana tidak tersimpan pada tempat yang tidak menimbulkan cemaran.  Namun kematian akibat diare di sebabkan  telah terjadi Dehidrasi dan upaya penanggulangan secara dini selalu saja terlambat. Pusat kejadian Diare terdapat di Desa Sambali-Bali (CFR = 1,7%) dan desa Tenggelang (CFR =2,9%). Induvidu yang diserang cenderung pada kelompok rawan yaitu bayi, Balita dan usia lanjut atau dewasa  pekerja  berat.

Rekomendasi untuk tindakan  penanggulangan dan pencegahan  diare adalah Gerakan Jangan Membuang Hajat (Buang Air Besar=BAB) Disembaran Tempat, sebagai tahap awal  dengan membuat lubang sedalam kurang lebih 1 -2 meter, ditutup dengan kayu dan mempunyai penutup lubang. Syukur Alhamdulillah Gerakan ini  sudah mulai diterima masyarakat,  karena pada saat tulisan ini dibuat  ada laporan dari lokasi kejadian masyarakat sepakat memberi nama gerakan ini dengan “WC 8000″ yaitu Pembuatan WC yang biayanya seharga Konsumsi Rokok Sehari warganya Rp. 8000.- Kegiatan lainnya adalah Penyuluhan dan bimbingan  Hidup Bersih dan Sehat,  bukan Cuma sekali namun sesering mungkin sampai masyarakat mempunyai  kemampuan, kesadaran dan kemauan dalam membuat jambang dan menggunakanya serta selalu hidup bersih dan sehat. Petugas kesehatan Puskesmas dan Jaringannya arus selalu mengontrol semua sumber-sumber cemaran atau tempat-tempat hidup dan berkembang bakteri oleh Escherichia Coli, MPN Coliform, dan Shigella agar selalu berada dalam batas ambang yang tidak menimbulkan penyakit.

—————————————–

 

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

———————————————–

Baca Juga Artikel Terkait. Penyebab (etiologi) Diare di Polewali Mandar Belum di Intervensi

 

Iklan

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

One Response to Hasil Penyelidikan KLB Diare Di Kec. Luyo Polewali Mandar

  1. yahoo says:

    Exceptional post however I was wondering if you could write a litte
    more on this subject? I’d be very thankful if you could
    elaborate a little bit more. Appreciate it!

    arali2008 said
    OK If I found on that subject.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: