PD3I dan Pemberian Imunisasi Rutin di Polewali Mandar

slide11Polewali Mandar Sulawesi Barat.@arali2008—Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang selanjutnya di singkat dengan PD3I adalah salah satu program Nasional yang indikator keberhasilannya tergantung dari kabupaten/kota untuk menggerahkan desa-desanya agar dapat mencapai UCI (Universal Child Immunization) yaitu cakupan imunisasi harus mencapai diatas 80% dari seluruh sasaran populasinya. Penyakit yang dapat di cegah tersebut adalah TBC, Tetanus, Diptheri, Pertusis, Polio, Campak dan Hepatitis B. Penyakit ini disamping dapat menimbulkan kematian, kesakitan juga kecatatan, bahkan apabila tidak ditangani secara maksimal dapat menular dan mengakibat kejadian luar biasa (KLB). Salah satunya upaya pencegahan yang menyeluruh hanya dengan pemberian imunisasi. Namun sangat disayangkan cakupan pemberian imunisasi dibeberapa kabupaten di Indonesia masih sangat rendah, tak terkecuali di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat. Pada tahun 2007-2008 sendiri cakupan UCI 80% desa di Kabupaten Polewali Mandar hanya mencapai 12 % (16 desa/kel dari 132 desa/kel). Rendahnya cakupan imunisasi ini berdampak ditemukannya beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang sebelumnya tidak ditemukan mulai muncul (lihat gambar). Padahal penyebab masalahnya sangat klasik yaitu distribusi vaksin yang tidak rutin dan tidak merata. Tenaga kesehatan tidak mempunyai kemampuan melayani bayi yang akan diimunisasi bila selalu saja dikatakan vaksin sudah habis dan kalaupun ada selalu saja distribusinya yang tidak merata.

Penyelenggaran program imunisasi di Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Barat harus dimaksimalkan karena cakupan imunisasi yang tinggi dapat memberikan gambaran status kekebalan bayi terhadap penyakit yang merupakan salah satu gambaran status kelangsungan hidup disamping cakupan dan angka-angka kematian ibu, bayi dan status gizi yaitu dapat memberikan gambaran keberhasilan pembangunan kesehatan kedepan terhadap kelangsungan hidup anak atau generasi yang akan datang di suatu wilayah. Jadi apabila cakupan imunisasi rendah misalnya hanya mencapai 60% dengan tingkat kekebalan yang didapat hanya 85 % ini artinya hanya sekitar 50 % anak balita dalam suatu wilayah yang mempunyai kekebalan comunitas/populasi, 50 % anak balita yang tidak kebal akan beresiko untuk menderita penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, disamping itu juga penyakit-penyakit lainnya misalnya diare, ISPA akan dengan mudah menjangkiti anak-anak balita. Tidak mengherankan kalau di tahun 2008 di kabupaten Polewali ditemukan peningkataan kasus ISPA dan diare secara bermakna serta menimbulkan kematian yang tidak seharusnya terjadi.

Tidak ada cara lain untuk dapat mencegah P3DI dan penyakit infeksi lainnya pada balita selain peningkatan cakupan sampai 100%, hal ini dapat kita lihat pengalaman bangsa Indonesia terhadap pemberian Imunisasi cacar pada tahun 1956 yaitu dengan melaksanakan imunisasi ‘cacar’. Kegiatan ini berhasil membebaskan penyakit cacar di Indonesia, sehingga pada tahun 1974 Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO (World Health Organisation – Lembaga Kesehatan Dunia).

Penyelenggaran program imunisasi harus dimaksimalkan karena cakupan imunisasi yang tinggi dapat memberikan gambaran status kekebalan bayi terhadap penyakit yang merupakan salah satu gambaran status kelangsungan hidup disamping cakupan dan angka-angka kematian ibu, bayi dan status gizi yaitu dapat memberikan gambaran keberhasilan pembangunan kesehatan kedepan terhadap kelangsungan hidup anak atau generasi yang akan datang di suatu wilayah.
Terbuktinya kemampuan imunisasi didalam memberikan kekebalan terhadap tubuh seperti halnya Indonesia yang telah dinyatakan bebas cacar oleh WHO tahun 1974, beberapa pakar kesehatan kemudian mengembangkan beberapa antigen yang mulai ditambahkan dalam kegiatan program imunisasi yaitu

  • Tahun 1973, vaksinasi BCG untuk pencegahan penyakit TBC
  • Tahun 1974, vaksinasi TT untuk pencegahan penyakit Tetanus
  • Tahun 1976, vaksinasi DPT untuk pencegahan penyakit Diphteri, Pertusis (Batuk rejan) dan Tetanus
  • Tahun 1980, vaksinasi Polio untuk pencegahan penyakit Poliomyelitis (lumpuh)
  • Tahun 1982, vaksinasi Campak untuk pencegahan penyakit Campak
  • Tahun 1998, vaksinasi Hepatitis B untuk pencegahan penyakit Hepatitis B

Dengan demikian program imunisasi telah mencakup enam jenis antigen** yang dapat menghindarkan manusia dari penyakit menular yang berbahaya dan dapat menimbulkan kesakitan (kecacatan) dan kematian yang selanjutnya disebut ‘Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi’ di singkat dengan PD3I.

** Antigen adalah bahan yang dapat bereaksi dengan produk respon imun dan merupakan sasaran dari respon imun, dapat menimbulkan pembentukan antibodi.
Antibodi adalah bahan larut digolongkan dalam protein yang disebut globulin atau dikenal dengan imuniglobulin atau lebih dikenal dengan kekebalan tubuh, mempunyai dua ciri yang penting yaitu spesifitas dan aktifitas biologiknya atau kekebalan yang spesifik dan adanya aktifitas biologiknya untuk melawan penyakit tertentu.

Siapa yang perlu diimunisasi? yaitu yang mereka seperti yang disebutkan dibawah ini :

  1. Semua anak-anak dibawah umur satu tahun
  2. Anak-anak SD Kelas I s/d kelas VI
  3. WUS – Wanita Usia Subur (terutama calon pengantin) yang belum diimunisasi terhadap tetanus.
  4. Ibu Hamil; untuk melindungi bayinya dari menderita penyakit Tetanus setelah lahir.

Mengapa mereka semua harus dimunisasi?. Karena masyarakat perlu mengetahui bahwa bayi dan Ibu yang segera akan melahirkan dapat dilindungi dari 6 penyakit menular. Penyakit-penyakit ini amat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, namun dapat dicegahkan dengan imunisasi. Imunisasi  yang diberikan ini sangat berguna untuk :

  • Menurunkan angka kesakitan dan kematian dari penyakit menular.
  • Memberikan kekebalan terhadap penyakit menular tertentu, sehingga biaya pengobatan tidak diperlukan.
  • Bayi atau anak balita tahan terhadap beberapa penyakit berbahaya, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sehat.

Mereka yang diimunisasi tersebut kadang menimbulkan Reaksi samping Imunisasi tetapi Para orang tua tidak perlu khawatir terhadap imunisasi yang dilakukan terhadap anak-anaknya dan juga wanita hami dan usia subur. Suntikan hanya menyebabkan sakit sedikit untuk sesaat, hal itu wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Reaksi samping adalah suatu reaksi yang dapat timbul setelah pemberian imunisasi. Macam-macam reaksi samping per  jenis imunisasi tersebut adalah :

  1. Pemberian imunisasi BCG akan meninggalkan luka pada tempat penyuntikan selama 2 minggu sampai 6 bulan dan setelah sembuh akan memberi luka bekas. BCG selalu disuntikan pada lengan lingkar atas kiri supaya selalu dapat dipantau bila seseorang sudah atau belum diimunisasi
  2. Pemberian imunisasi DPT, 2 jam setelah imunisasi sampai maximal 3 hari, ada kemungkinan reaksi samping, seperti :
    • pembengkakkan dan kemerahan pada tempat penyuntikan.
    • pegal, nyeri dalam kaki.
    • demam, rewel, muntah
  3. Pemberian imunisasi POLIO, hampir tidak pernah ditemukan reaksi samping
  4. Pemberian imunisasi CAMPAK, akan menimbulkan sedikit pembengkakkan dan kemerahan pada tempat penyuntikan. Dan beberapa reaksi samping yang mungkin timbul adalah
    • demam (tinggi) dimulai pada hari ke 5-6 setelah imunisasi selama 2 hari,
    • kemerahan pada kulit setelah 7-10 hari,
  5. Imunisasi DT – ( Difteri dan Tetanus Toxoid ) reaksi sampimg yang kemungkinan muncul adalah
    • pembengkakkan dan kemerahan pada tempat penyuntikan.
    • nyeri, pegal di tangan yang akan hilang setelah beberapa hari.
    • demam ringan
  6. Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) reaksi samping adalah pembengkakkan dan kemerahan pada tempat penyuntikan.
  7. Imunisasi Hepatitis B reaksi sampimg yang muncul adalah pembengkakkan dan kemerahan pada tempat penyuntikan. nyeri dan pegal, sakit kepala, demam ringan.

Reaksi-reaksi sampiing tersebut diatas, sekali lagi orang tua tidak perlu khawatir, karena apila ada reaksi samping yang berlebih dalam pelaksanaan nya di masyarakat petugas kesehatan biasanya telah dibekali tatalaksana penanganan reaksi samping yang biasa disebut penanganan KIPI  (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yaitu suatu kegiatan penanggulangan kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam satu bulan setelah imunisasi yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi, yang meliputi :

  • Kunjungan lapangan.
  • Investigasi/pelacakan.
  • Perawatan rujukan.
  • Pemeriksaan laboratorium.
  • Pengkajian kasus tersangka KIPI.

Bagaimana dengan Jadwal imunisasi ? ada dua tempat dan jadwal pemberian imunisasi yaitu di posyandu dan rumah sakit, masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut :

Bagi bayi yang dilahirkan di rumah dan yang datang ke posyandu mempunyai jadwal imunisasi adalah :

  • Umur 2 Bulan BCG, DPT1,   Polio 1
  • Umur 3 Bulan            DPT2,  Polio 2,  Hep. B 1
  • Umur 4 Bulan            DPT3,  Polio 3,  Hep. B 2
  • Umur 9 Bulan Campak         Polio 4,  Hep. B 3

Dan Jadwal imunisasi bagi bayi yang dilahirkan di Rumah Sakit adalah :

  • Umur 0 Bulan   BCG,     Polio1,  Hep.B 1
  • Umur 2 Bulan   DPT 1   Polio2,  Hep.B 2
  • Umur 3 Bulan   DPT 2   Polio 3,
  • Umur 4 Bulan   DPT 3   Polio 4.
  • Umur 7 Bulan——————–Hep.B 3
  • Umur 9 Bulan   Campak

Melihat jadwal imunisasi  tersebut maka seorang bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari  :

  • 1 dosis BCG,
  • 3 dosis DPT,
  • 4 dosis Polio,
  • 4 dosis Hepatitis B,
  • 1 dosis Campak.

Sementara untuk Ibu hamil dan WUS meliputi 2 dosis TT.

Dan Anak sekolah tingkat dasar meliputi, 1 dosis DT, 1 dosis campak, 2 dosis TT.

PD3I

Penyakit yang Dapat Decegah Dengan Imunisasi

Sebagaimana disebutkan diatas  bahwa Penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi adalah TBC, Tetanus, Diptheri, Pertusis, Polio, Campak dan Hepatitis B. Berikut penjelasannya secara singkat sebagai berikut :

Tuberkulosis

Suatu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis kadang juga oleh Mycobacterium Bovis atau Mycobacterium Africanum. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan (tuberkulosis pulmoner) mengakibatkan paru-paru tidak berfungsi normal, terjadi difusi pleura, sesak napas, batuk disertai dahak yang berwarna hijau dan kuning dan cenderung berdarah. Tetapi dapat menyerang organ lain (tuberkulosis ekstrapulmoner), misalnya tulang dan sendi, jaringan limfe, selaput otak, usus dan ginjal saluran kencing dan lain-lain. Masyarakat harus dapat membedakan  mereka yang Sakit TB dengan Infeksi TB.  Jika orang (dewasa atau anak) mengalami Sakit TB akan menunjukkan gejala dan tanda Sakit TB. Sedangkan jika hanya terinfeksi TB tanpa sakit TB tidak akan ada gejala dan tanda sakit TB.

– Gejala-gejalanya adalah

  • Tidak enak badan
  • Lemah
  • Anorexia dan BB turun. MMBB (Masalah Makan dan Berat Badan),
  • Batuk-batuk > 2 minggu —- spuctum
  • Anemia ( karena adanya luka parut dst)

– Indikator

  • Foto thorax
  • Pemeriksaan Spuctum (+)
  • LED (Laju Endap Darah) meningkat
  • Uji tuberkulin (Mantoux test)

– Pengobatan /terapi

  • Obat
  • Diet
  • Istirahat.

Penyakit ini merupakan penyakit infeksi penyebab kematian, merupakan penyakit kelompok masyarakat sosial ekonomi rendah. Menyerang berbagai golongan umur dan merupakan penyakit keluarga. Cara penularan: ‘droplet’ sipenderita yang mengandung Mycobakterium Tuberkulosis terutama didaerah padat penduduk melayang-melayang di udara bisa bertahan beberapa jam kemudian masuk melalui saluran respiratonik (pernapasan) pada orang disekitarnya, menginfeksi paru dari sini kemudian menyerang organ lain misalnya tulang dan sendi, saluran kencing, selaput otak, usus dan ginjal, jaringan limfe dan lain-lain

Risiko TB tertinggi: pada usia dibawah 3 tahun ditularkan oleh penderita TB paru orang dewasa. Anak batita sangat jarang menularkan kuman TB. jika seorang anak terinfeksi TB, berarti ada orang dewasa sebagai sumber penularannya yang perlu dicari dan kemudian diobati agar tidak menulari orang lain lagi.

Dampak imunisasi BCG: untuk TB Paru yaitu penyakitnya menjadi lebih ringan.

Difteri

Penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri corynaebacterium diphteriae menyerang saluran pernapasan (tractus respiraticus) bagian atas dengan tanda khas terbentuknya Pseudomembran (berupa membran dalam rongga hidung, laring, faring dan tonsil) yang tak muda lepas dan muda berdarah serta dilepasnya eksotoksin menimbulkan gejala umum, bila mengenai saluran pernafasan dapat menyebabkan obstruksi atau penyumbatan jalan nafas,
Gejala lainya :

  • sering didapati pada difteri adalah tonsil dengan pembengkakkan sekitar leher disertai nyeri menelan dan sesak napas disertai bunyi (stridor)
  • Pemeriksaan apusan tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri
  • Pada minggu 2-3 toxin yang dilepaskan oleh tonsil tersebut dapat menyebabkan kegagalan jantung.

Golongan umur penderita difteri biasanya dibawah 15 tahun. Dan cara penularan: melalui partikel yang tercemar. Dan dapat dicegah dengan imunisasi.

Pertussis

Penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri pordetella pertussis menyerang saluran pernapasan dan mengakibatkan batuk berhari-hari (batuk 100 hari) atau juga biasa disebut  batuk rejan dan paling sering ditemukan pada anak  umur < 15 tahun (pada umumnya diatas 3 tahun ). Dapat dicegah dengan imunisasi tetapi  tidak menjamin. Penyakit ini sering menyebabkan wabah.
Gejala-gejala    :

  • pada awalnya berupa pilek dan batuk
  • mulai hari ke 10 batuk bertambah.
  • setelah 1-30 batuk keras berturut-terut penderita baru dapat melakukan menarik nafas (batuk rejan).
  • kadang-kadang penderitia sampai muntah.

Komplikasi:     pneumonia yang banyak menimbulkan kematian, kerusakan jaringan otak (encephalopati). Kematian sering dijumpai pada umur di bawah 1 tahun. Cara penularan:     melalui kontak erat. Reservoir:    manusia (penderita itu sendiri) dengan penularan melalui ‘droplet’

Epidemiologinya berdasarkan distribusi orang, tempat dan waktu:

  • Biasanya ditemukan pada keluarga miskin
  • Penyakit serius pada bayi terutama Negara berkembang
  • Sering terjadi pada daerah-daerah kekurangan pangan
  • Ditemukan pada lokasi atau daearh terpencil
  • Bila terjadi wabah banyak ditemukan pada usia 2-3 tahun
  • Indikator tanda-tanda terjadinya wabah
  • minimal 2 orang atau lebih meninggal pada waktu seminggu
  • atau disuatu daerah ditemukan kasus tiap dua minggu

Di katakan telah terjadi wabah jika memenuhi kriteria  jumlah penderita baru  mengalami kenaikan 3 kali lipat atau dalam satu bulan  terjadi kenaikan 2 kali lipat atau sebelum tidak  ditemukan kasus.

Pencegehan:

  • melalui imunisasi
  • Perbaikan status gizi
  • Diberikan pengobatan ( symptom)
  • Istirahat

Tetanus

Penyebabnya adalah  Clostridium Tetani. Reservoir bakteri: usus manusia dan hewan serta tanah yang terkontaminasi kotoran hewan atau manusia.
Gejala-gejala:

  • berupa kejang rangsang atau kejang spontan,
  • muka tampak menyeringai,
  • pada bayi mulut terkunci.

Pencegahan:     Pemberian vaksinasi TT pada Ibu Hamil  Pemberian vaksinasi TT pada setiap umur

Poliomyelitis

Penyebabnya adalah  virus polio. Reservoir atau tempat hidup dan berkembangnya virus adalah  manusia terutama penderit sub-klinis
Gejala- gejala:

  • gejala awal,
  • infeksi saluran nafas bagian atas
  • dan demam ringan.

Penularan: virus polio secara fecal oral atau droplet. Sangat cepat terutama didaerah pemukinan yang dapat dengan sanitasi kurang. Pencegahan: melalui vaksinasi polio

Campak

Penyebabnya adalah virus morbili
Gejala-gejala:

  • berupa pilek diserta sakit mata,
  • bintik timbul dimulai dari dahi dan belakang telinga, kemudian menyebar kemuka, badan dan anggota badan.
  • Bintik menghilang setelah 3-4 hari meninggal bercak warna kemerahan yang bertahan 1-2 minggu diakhiri dengan kulit mengelupas.

Penularan: campak penyakit yang sangat menular, letusan wabah campak biasanya  terjadai pada daerah padat penduduk
Komplikasi: Infeksi telinga, sakit mata berat dan pneumonia. Komplikasi ini sering menyertai campak dengna gizi kurang antara lain kekurangan vitamin A.

Pencegahan: Pemberian vaksinasi Campak. Pemberian Vitamin A dosis tinggi kapada bayi, ibu pada masa menyusui maupun penderita campak dapat menurunkan tingkat kematian.

Hepatitis B

Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, fungsi utamanya adalah  sebagai berikut :

  • bagian dari sistem sirkulasi
  • bagian dari sistem metabolisme
    1. Desiminasi asam amino, mensintesis protein plasma dan urea
    2. Mensintesis, menyimpan, dan melepas glikogen
    3. Mensintesis garam empedu, lipoprotein, phopolipid oksidasi asam lemak
    4. Menyimpan Fe, Cu dan mineral lain
    5. Mengkonversi protein menjadi vitamin A, Mengkonversi Vit. K menjadi protrombin, Hidroksilasi Vit D menjadi kalsidial, menyimpan vitamin A dan D  dll
  • merupakan  organ yang memproduksi empedu ( karena ada kantung empedu pada bagiannya )
  • sebagain bagian dari detoxikasi obat, bahan-bahan berbahaya, racun dan produk akhir dari metabolisme yang bersifar racun.

Dikatakan Hepatitis karena adanya perubahan dan peradangan degenerasi sel-sel hati oleh infeksi :

  • virus dan bakteri
  • parasit dari fungus, protozoa
  • obat-obatan
  • bahan kimia termasuk alkohol

Infeksi hepatitis B baik dalam bentuknya yang sementara (‘transien’) atau bentuknya yang menetap (‘permanen’) merupakan masalah kesehatan masyarakat serius. Pada saat tahun 1997 diperkirakirakan bahwa di dunia terdapat 350.000.000 orang pengidap virus hepatitis B, dimana hampir 78% diantaranya tinggal di Asia. Angka kasus hepatitis B di Indonesia berkisar antara 5 – 20  dari 100  orang mengidap virus hepatitis B sehingga Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi.

Penyebabnya adalah  virus Hepatitis B dengan Reservoir  adalah manusia. Gejala-gejala    :  berupa kurang nafsu makan, muntah. Kelompok risisko tinggi adalah bayi dari ibu penderita, percandu narkoba, tenaga dokter dan perawat. Penularan: melalui transfusi darah, suntik yang sudah dipakai, selama kehamilan dari ibu ke bayi.

Sumber Penularan infeksi virus Hepatitis B adalah

  • Darah
  • Air Seni
  • Tinja dan sekresi usus
  • Air liur dan sekresi naso-faring
  • Semen, sekresi vagina dan darah menstruasi
  • Air susu, keringat dan berbagai cairan tubuh lain

Cara penularan Hepatitis B : Penyebaran (transmisi) virus hepatitis B dapat melalui berbagia cara:

  • Penularan melalui kulit (perkutan):
  • pasca transfusi
  • alat suntik
  • Penularan melalui selaput lendir

Pencegahan:    melalui vaksinasi Hep. B (3x) di bawah 1 tahun.

Penutup

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi hanya bisa berhasil jika cakupan imunisasi bisa mencapai diatas 80 % sasaran. Keberhasilan ini akan dapat memberikan gambaran status kelangsungan hidup disamping cakupan dan angka-angka kematian ibu, bayi dan status gizi yaitu dapat memberikan gambaran keberhasilan pembangunan kesehatan kedepan terhadap kelangsungan hidup anak / generasi yang akan datang di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat  khususnya dan Indonesia pada umumnya.

—————————————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: