Tahun Ke II Pengobatan Massal filaria di Polewali Mandar.

slide1Polewali Mandar Sulawesi Barat,– Tiba-tiba Kepala Seksi Pengendalian dan pemberantasan penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar (Bpk H. Arfah) datang diruang kerjaku, ia menanyakan pengobatan masal filaria yang dilakukannya di kabupaten Polewali Mandar yang telah memasuki tahun kedua 2009. Pada tahun pertama pengobatan masal (tahun 2008 ) obat yang digunakan adalah Deathyl Carbamazine Citrate (DEC), Albendazol dan Paracetamol. Pada tahun kedua (2009) pengobatan massal filaria hanya menggunakan obat DEC, inilah yang menjadi pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya dari saya, “apakah bisa pengobatan masal filaria hanya menggunakan satu obat?”, karena ia diperintahkan oleh petugas dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Barat, segera saja untuk melakukan pengobatan masal filaria di kabupaten Polewali Mandar. Bpk H. Arfa meminta pendapat dari saya dari sudut pandang epidemiologi.

Untuk menjawab ini, harus dimengerti dulu dasar dilakukannya pengobatan massal. Dasarnya adalah standar WHO bila Angka Mikro filaria di atas 1 % maka suatu wilayah sudah harus mengadakan pengobatan massal untuk memutuskan mata rantainya. Dasar inilah yang dipakai Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar untuk melakukan pengobatan masal, karena di tahun 2007 Kabupaten Polewali Mandar berdasarkan survei terbatas di 4 Kecamatan yang menggambarkan situasi kabupaten ditemukan 2,37 % mikrofilaria pada tubuh manusia. Selanjutnya rekomendasi WHO terhadap obat yang digunakan untuk pengobatan massal adalah Deathyl Carbamazine Cistrate (DEC), Albendazol dan Paracetamol.

Obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) berfungsi untuk melumpuhkan otor cacing mikrofilaria, dan cacing kecil ini selanjutnya tidak akan bertahan di tempat hidupnya yaitu di kelenjar getah bening, keluar dari tempat hidupnya yaitu disirkulasi darah membuat komposisi dinding otot yang sudah lumpuh, akan berubah, dan lebih mudah dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh dalam beberapa jam saja. Untuk cacing filaria dewasa yang mati hanya sekitar seperduanya. Sisanya masih tetap hidup, tetapi cacing filaria dewasa yang masih hidup ini, aktifitasnya menjadi lambat bahkan tidak bisa berproduksi (mandul) selama 9-12 bulan

slide3Sementara obat Albendazole dikenal sebagai obat cacing usus (cacing gelang, kremi, cambuk dan tambang). Di daerah endemis filariasis, kecacingan usus, ditemukan cukup tinggi, dan memang di Kabupaten Polewali Mandar Prevalensi Cacingan pada anak sekolah dasar ditemukan sangat tinggi yaitu 45-65 %. Dengan pemberian Albendazol dapat meningkatkan efek DEC dalam mematikan cacing filaria dewasa dan mikro filaria (anak cacing) tanpa menambah reaksi yang tidak dikehendaki. Sementara itu, untuk obat paracetamol diberikan untuk mengatasi timbulnya reaksi pengobatan, misalnya timbulnya reaksi demam.

Dari Dasar pengobatan diatas maka dapat dijawab bahwa pengobatan massal filaria di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun pertama (tahun 2008 ) pemberian dengan menggunakan 3 jenis obat dan pada tahun kedua (2009 )  hanya dengan menggunakan satu jenis obat, dapat saya jelaskan sebagai berikut :

  1. Sangat-sangat tidak efektif membunuh cacing filaria dengan jangka waktu satu tahun, cacing dewasa yang sempat hidup dan tidak berproduksi (mandul) selama 9-12 bulan, pada saat pemberian tahun kedua, cacing filaria tidak mandul lagi, ia akan mempunyai anak (manusia adalah reservoirnya), dan kemudian anaknya mati dengan satu obat ini (DEC), tetapi cacing dewasanya, mungkin sebagian dapat dihancurkan namun sisanya tidak akan berpengaruh, karena efeknya yang sangat rendah, sehingga ia terus mempunyai anak selama tahun ketiga. Bukannya memusnakan cacing filaria didalam tubuh mala sebaliknya memproduksi kembali cacing filaria. Memang cacing dewasanya akan mati, tetapi mati bukan karena efek obat tetapi karena masa hidupnya memang sudah berakhir ( umur cacing filaria + 5 tahun), namun anaknya akan terus hidup dan melalui gigitan nyamuk (hampir semua jenis nyamuk adalah vektor) ditularkan kembali ke orang-orang disekitarnya.
  2. Kalau memang pengobatan masal filaria hanya menggunakan satu obat saja (DEC) seharusnya dilakukan dalam jangka waktu tidak satu tahun tetapi kurang lebih tiap 6 bulan atau waktu dimana cacing dewasa tidak sempat berproduksi anaknya.
  3. Masalah penyakit cacing pada usus, prevalensinya yang sangat tinggi, diharapkan dengan pengobatan masal filaria dapat diturunkan prevelansinya akan tetapi menjadi masalah yang tidak perna tuntas. Biaya besar yang dikelurkan dikeluarkan, perlu dipertanyakan “Apakah tidak mubajir pengobatan masal yang hanya membunuh cacing filaria yang prevalensinya hanya 2,37 %? Apa tidak sebaiknya hanya lokasi (kecamatan-kecamatan) yang mempunyai kasus filaria saja.? lokasi yang tidak diidentifikasi adanya kasus sebaiknya tidak dilakukan pengobatan massal, karena hal itu adalah kerugian, lainnya halnya kalau ada obat Albendazol, tentunya akan sangat bermanfaat untuk membunuh penyakit kecacingan.
  4. Dan yang paling penting adalah kader yang sudah dilatih, ditempah menjadi satu misi yaitu bebaskan filaria dan kecacingan mayarakat Polewali Mandar. Ketika mereka melakukan pengobatan, kemudian menyampaikan maksud dan tujuan pengobatan ini, masyarakat akan kembali mempertanyakan “mana obat cacingnya?” kira-kira apa yang dijawab kader, sudah bisa dipastikan mereka akan jawab “obat filaria dan kecacingan. Ini benar-benar pembodohan masyarakat.
  5. Terakhir adalah Komitmen Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar ingin mengeliminasi penyakit filaria sampai dibawah 1 % atau komitmen ingin memutuskan matai rantai penularan cacing mikrofilaria dalam pengobatan massal 3 tahun (2008-2010) akan sangat sulit untuk bisa diwujudkan. Dan untuk itu strategi pengobatan untuk eliminasi terpaksa harus dirubah kembali menjadi lima tahun.

slide2Pertanyaanya adalah “apakah masih ada komitmen dan konsistensi serta selalu bertindak menyeluruh (conprehensif) dalam pengobatan masal penyakit filaria untuk sampai dengan lima tahun kedepan?”. Jawabnya adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar masih harus terus berjuang, bukan saja penggerakan masyarakat untuk pengobatan massal tetapi juga menyediakan anggaran operasional dan penyediaan obat-obatnya. Anehnya Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Barat yang seharusnya mendukung secara penuh Kabupaten Polewali Mandar dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat malah masih perlu dipertanyakan. Karena program yang sudah matang disusun tetapi malah dibuat mandul setelah diintervensi oleh Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Barat. memang Propinsi Baru, tenaga baru, pintar dan berpikir global tapi dimana komitmen lokalnya.

————————————————————————————————————————————————-

Baca juga tulisan lainnya

  1. Peran Kepala Dinas Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat Penyediaan Air Bersih Pedesaan
  2. Mungkinkah Dewan Kesehatan Kabupaten (DKK) Polewali Mandar Dapat Berfungsi
  3. ADEK dan Penanggulangan Kusta di Propinsi Sulawesi Barat
  4. Bedah Konsep Strategi RPJPM 2007-2012 Propinsi Sulawesi Barat
  5. Penyakit Cacing pada Anak SD di Polewali Mandar Tahun 2006 -2008
  6. Pemberian Vitamin A pada Balita Di Polewali Mandar
  7. Musrenbang antara Kebutuhan, Keinginan dan Proses Perencanaan Program SKPD
  8. Apel Siaga Pencanangan Pencegahan Penyakit Berbasis Nyamuk
  9. Kantong Penularan Penyakit Kusta di Polewali Mandar
  10. Kepedulian pada Persalinan Ibu Masih Sangat Rendah.

————————————————————————————————————————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemilogi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat.
Iklan

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: