Silsilah Keluarga

Arsad Rahim Ali, lahir di Kota Bau-Bau. Kota ini sebelumnya adalah kota administarsi Bau-Bau Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara adalah salah satu kota tua di Kawasan Timur Indonesia. Berdasarkan data administrasi Hindia Belanda (Staatblad no. 325 tahun 1916) Bau-Bau adalah onderafdeling ibu kota dari afdeling Buton, salah satu dari 11 Afdeling yang ada di Pulau Selebes (Sulawesi) khususnya Selebes bagian Tenggara (Pen; Sekarang Propinsi Sulawesi Tenggara). Tercatat dalam staatblad Hindia Belanda tersebut (perjanjian Korte Verklaring 18 April 1906) afdeling buton dibedakan dengan afdeling lainnya yaitu dibawah kekuasaan kesultanan Buton yang merdeka dan berdaulat sebagai suatu negara (red. Sebelum adanya NKRI sebagai bentuk pengakuan)  Negara sahabat dari kerajaan Belanda.

Sejak lima atau enam abad yang silam, Kota Bau-Bau telah menjadi kota Bandar Kerajaan Buton yang berpusat di Wolio, Mitra kerja kerajaan Bone di Kabupaten Bone, Kota Tua Makassar Kerajaan Goa Sulawesi Selatan, dan Kerajaan Ternate Propinsi Ternate serta beberapa kerajaan kecil di kawasan Buton dan sekitarnya, termasuk jauh sebelumnya Kerajaan Majapahit telah mengenal Kerajaan Buton.

Butun (Buton) adalah desa “ibu kota dari kerajaan butun” tempat tinggal para resi “orang-orang yang terhormat” yang dilengkapi dengan taman, lingga dan saluran air, rajanya bergelar Yang Mulya Maha Guru. (Mpu Prapanca, 1365, Negara Kertagama. Mesium Indonesia)

Pemukiman pertama (nenek moyang penulis) kota Bau-Bau di mulai sekitar awal abad ke 13, oleh migrasi kelompok orang yang datang dari Johor, (pencari agama Islam dari kawasan Asia Tengah). mereka adalah mencari agama Allah SWT yang telah lama mereka dengar tetapi mereka belum menganutnya, belum ada yang mengajarkannya, mereka sangat rindu akan agama ini, Mereka ini terdiri dari empat kelompok (Si Empat Orang), mereka sepakat mencari agama ini dengan berlayar, setelah melalui perjalanan laut dan singgah di berbagai daratan, tibalah mereka diselat Buton, mereka sangat tertarik dengan wilayah ini (Pulau Buton), mereka sepakat menunggu agama Islam di pulau ini, mereka membagi pendaratan menjadi empat bagian yaitu

  1. Kelompok pertama dipimpin oleh Si-Panjonga. Mereka mendarat di Sula sekitar kota Bau-Bau sekarang
  2. Kelompok yang dipimpin oleh Si-Tamanajo mendarat di Kapontori (sekitar wilayah Kabupaten Bombona sekarang ini, yang dulu adalah wilayah Kerajaan Buton)
  3. Kelompok yang dipimpin oleh Si-Simalui yang mendarat di Kamaru (Bagian selatan)
  4. Dan kelompok Si-Jawangkati di Wawasangka (Masih sekitar wilayah kabupaten Buton bagian timur)

Beberapa tahun kemudian (awal abad ke 13) setelah masing-masing mendirikan pemukinan diwilayah pendaratannya,  mereka kemudian berkumpul diwilayah yang dipimpin oleh Sipanjonga. Mereka sepakat membangun perkampungan bersama di wilayah Wolio, yang kemudian menjadi cikal bakal pusat pemerintahan kesultanan kerajaan Buton. Sekarang wilayah ini dikelilingi oleh Benteng keraton kesultanan Kerajaan Buton, Benteng (Kastil) terluas di Dunia Fersi Buku Musium Rekor Indonesia (MURI) dan Guines Book of Recor versi Dunia sebagai peninggalan asli peradaban sistem pertahanan militer kesultanan Buton.

Salah Satu Pintu Masuk utama Benteng (Kastil) Buton yang sampai sekarang masih tetap utuh

Setelah perkampungan Wolio yang dipimping oleh Si Panjonga berkembang, datanglah kelompok putri raja yang datang melalui Negeri Tiongkok yaitu Kelompok Putri Raja Wakaka. Kelompok Putri Raja Wakaka ini diterima dengan baik oleh kempat kelompok sebelumnya. Mereka (Kelima Kelompok ini) kemudian sepakat membentuk suatu kerajaan Buton, karena kelompok ini sangat memuliakan yang namanya wanita maka Putri Wakaka sendiri kemudian diangkat menjadi Ratu…… Yang Mulya Maha Guru ……. Wakaka juga masih merupakan keturunan Raja dari Negeri Tiongkok, berasal dari dinasty KHAN dari Dinasti Fatimiyah Negeri Persia (Timur Tengah) dengan silsilah berasal dari Yastrib Madina.  Putri Raja Wakaka datang ke Buton dengan pengawalan dari panglima perang Dungku Cangia dan prajuritnya dari Negeri Tiongkok karena ketika mereka datang pertamakali di wilayah Buton, atribut kerajaan diikutkan, misalnya saja lambang-lambang kerajaan berupa Naga sebagai Simbol kerajaan, lambang Nenas sebagai simbol kemakmuran, pakaian-pakaian kerajaan, termasuk ajaran kepercayaan pengikutnya yaitu ajaran agama Hindu ——walaupun Ratu Wakaka sendiri telah menganut islam—— dan atribut-atribut wanita lainnya yang sekarang telah dijadikan pakaian adat Buton.

Beberapa tahun kemudian, datang pula kelompok dari kerajaan Mataram, putra-putri dan para pembesar dari Raja Raden Wijaya kerajaan Mataram yaitu Sibatara (Sri Batara), dan anak dari Raja Raden Wijaya yaitu Raden Jutubun dan saudara perempuannya Lailan Mangrani yang dipanggil dengan Putri Lasem. Raden Sibatara (Sri Batara Seorang Musafir/panglima dari Dinasti Fatimiyah di Timur Tengah telah menjadi Pembesar di Kerajaan Mataram)  kemudian mempersunting Ratu Wakaka sebagai Istrinya,

Sang Raja/putri Wakaka melalui wali nikah saudara misannya sekaligus sebagai pengawal pribadinya “Sri Aden” menerima Sri Batara sebagai suami karena kesamaan/kejelasan asal usul dan bahasa yang digunakan ketika melamar sang Raja/putri yaitu bahasa dan cucu dari penguasa  Dinasti Fatimiyah di Timur Tengah. Mereka adalah jodoh dari seorang putri dan pangeran dari negeri 1001 malam yang ditakdirkan menjadi raja dan ratu di negri buton.

Ratu Wakaka dan Suaminya Sibatara tak lama kemudian melahirkan seorang putri yang diberi nama Bulawambona, bersamaan dengan itu Sipanjango (seorang yang sangat dihormati) mendapatkan cucu La Baaluwu

La Baaluwu diduga bersaudara dengan Sawerigading dan Tenriabeng  adalah  anak-anak Kandung dari Raja Luwu II Batara Lattu Kerajaan Luwu (Palopo) Sulawesi Selatan.  La Baaluwu  anak dari Batara Lattu dari Istri kedua “Putri Lasem”, sementara Sawerigading dan Tenriabeng anak dari istri pertama sang raja yaitu We`Datu Sengngeng.  Putri Lasem kemudian membawah anaknya La Baaluwu untuk menjadi anak  angkat (dipelihara) oleh Sipanjonga. Putri Lasem sendiri adalah saudara (red ; saudara senasip dan sepenanggungan) dari Sibatara suami dari Ratu Wakaka. Putri Lasem istri dari raja luwu kemudian menjadi ratu di Bone Sulawesi Selatan  dengan gelar watampone

Putri Raja Bulawambona dan La Baaluwu ini kemudian dijodohkan, setelah mereka dewasa, Putri  Bulawambona diangkat menjadi Ratu II oleh ibunya Ratu Wakaka, Ratu Bulawambona kemudian  dinikahkan dengan La Baaluwu, mereka mempunyai anak (putra) yang diberi nama  Bataraguru, merupakan cucu dari Sang Ratu Wakaka, yang juga sekaligus sebagai putra makota dari kerajaan Buton ini. Setelah Ratu Wakaka meninggal, Bataraguru kemudian menjadi Raja ke III, ia mempunyai beberapa putra salah satunya adalah putra Rajamangku yang kemudian nikah dengan anak putri dari Raja Bone (Kerajaan/kesultanan Bone)  —- sekarang Kabupaten Bone Propinsi Sulawesi Selatan—- yaitu putri Walilangke, cicit dari Putri Lasem

Dan selanjutnya turunan dari Rajamangku dan Walilangke secara silsila (turunan) adalah :

  1. La Karahamba putra dari Rajamangku
  2. La Sampula putra dari La Karahamba. Ia dan istrinya bersama penjaga keluarganya, tukang kebunnya, nelayannya dan para saudagarnya tercatat sebagai penghuni pertama pulau siompu, —-Kata Siompu di ambila dari Nama Penghuni Pertamanya La Sampula dengan sebutan Si Ompu —–  salah satu pulau yang berada pada bagian depan wilayah selatan kota Bau-Bau Buton. Pulau yang dikenal sebagai penghasil jeruk terbaik di wilayah Buton
  3. La Ladja salah satu putra dari La Sampula, dikenal sebagai Lakina Siompu digelar sebagai Kosokana. Pandai dalam mengatur dan mengawasi keuangan keluarga besar orang tuanya.

Mereka bertiga ini bukan putra makota, tetapi putra makotanya adalah saudara-saudara laki-laki sekandung, dan telah hadirnya Syaikh Maulana Sayid Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman Al Fathani seorang ahli tasawuf Arab-Persia melalui Gujarat dengan membawah amanat dari kesultanan Dinasty Fatimiya yang telah berubah menjadi Kekhalifahan Dinasty Ustmani berkedudukan di Turki agar singgah di kerajaan Buton dimana ratu dan rajanya berasal dari para pembesar dinasti fatimiya agar mulai mengajarkan syariat Islam, dan menempatkan agama islam dalam posisi tertinggi …Qaim ad-Din….. dalam pemerintahan kerajaan buton. Pada tahun 1491, berkat peran Syaikh Maulana Sayid Abdul Wahid,——Semoga Allah Swt Memberkatihnya——– pilihan raja tidak didasarkan lagi pada putra makota karena kerajaan Buton ini telah berubah menjadi Kesultanan Buton, yang mana sultannya diambil (dipilih) dari Orang Pilihan sebagai Khalifatul Khamis.

Kesultanan Buton (1500- 1950) adalah satu dari sedikit tradisi demokrasi tertua di dunia.  38 orang sultan yang pernah  bertahta di Kesultanan Buton dipilih dan diangkat secara demokratis bukan berdasarkan keturunan sebagaimana lazimnya pemerintahan monarchi seperti hal kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Setelah dipilih secara demokratis oleh lembaga siolimbona Sultan (Dewan Sultan) dilantik di batupopaua suatu lokasi di sekitar Mesjid Keraton Buton yang masih terpelihara hingga saat ini.

Mesjid Keraton Buton

Mesjid Keraton Buton  yang berada dalam Benteng (kastil) berkedudukan sebagai pusat kerja kesultanan Buton Urusan keagamaan (Islam)

Sultan Pertamanya adalah Sultan Kaimuddin, nama yang identik dengan gelarnya Qaim ad-Din=Penegak Agama Islam (1542-1658). Agama Islampun dijadikan dasar Kesultanan, dengan Undang-Undang Dasar (UUD) Martabat Tujuh —--yakni Undang-Undang Dasar yang berisi penyelenggaranan kesultanan dengan tiga dewan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dengan pendekatan sufisme Tujuh Martabat yang harus dijalankan seluruh rakyat kesultanan Buton yaitu : Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Ruh, Alam Misal, Alam Ajsam dan Alam Insan………….. Pembangunan Mesjid Agung Keraton pun mulai dilaksanakan dan selesai pada tahun 1712. Mesjid ini berkedudukan sebagai pusat kerja kesultanan Buton Urusan keagamaan (Islam) dengan 60 ketenagaan (1 Pimpinan, 1 Imam, 4 khatib, 12 bilal/muazim, 40 staf (makmun) 2 staf lainnya, Sampai sekarang masih tetap difungsikan.

Turunan La Ladja yang dikenal sebagai Lakina Siompu dengan Gelar Kosokana (karena ia sangai pandai dalam mengatur sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran keuangan keluarga besarnya di pulau siompu, ia kemudian diangkat sebagai Bonto Ogene Pertama sebagai Bonto Ogene Matanaeyo=wilayah timur kerajaan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton).

Di Pusat Kesultanan Buton, La Ladja dengan Jabatan Bonto Ogene Matanaeyo, kemudian mendidik putra-putrinya dengan ajaran islam yang sudah sekian lama mereka rindukan, putra-putri turunannya disamping ahli dalam agama juga merupakan menteri dalam kesultanan Buton, secara silsila atau turunan mereka itu adalah

  1. Bonthona (red: tokoh perwakilan/pimpinan seluruh rakyat pribumi dalam dewan kesultanan siolimbona) Rakia Buku
  2. Bonthona Malaika Tuda
  3. Bonthona Gundu-Gundu Mancuana
  4. Maa Hasimu (red: “Maa” nama panggilan bagi anggota dewan kesultanan siolimbona yang terhormat), lebih kosentrasi pada pendalaman pengenalan Allah SWT yaitu orang yang selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepadaNya, Usaha yang utama yang dilakukan yaitu menuntut Ilmu, agar bisa berbuat taat dan takwa serta menyerjakan semua kewajiban kemudian menjadi Wara (saleh), zuhud dan tawakkal.
  5. Bonthona Maumonto yang nikah dengan Inna Mando Wedahari
  6. Innalandi, seorang Ibu yang mengajarkan kasih sayang, saling hormat menghormati, saling berkorban, saling menjaga dan saling memelihara antar sesama
  7. Maa Bungke (anggota dewan kesultanan siolimbona yang terhormat dari perwakilan perempuan) yang Nikah dengan La Ifu
  8. La Asa, putra dari Laifu dan Maa Bungke adalah seorang yang alim
  9. H. Abdul Rahim (Bonto Lanto atau biasa dipanggil Yarona Lanto) Putra dari La Asa, dikenal sebagai salah satu dari wali empat (Bisa Patamiana atau ahli kebatinan/islam kesultanan yang terakhir) yang wafat tahun 1980  (tanggal 26-3-1980) ……. Semoga Allah Swt menempatkan mereka sebagai hamba-hamba yang  sholeh.

Sebagai seorang Bonto Lanto, ahli dalam pertahanan spritual kesultanan Buton, Beliau mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cara menguraikan eksitensi Tuhan menurut pendekatan nurani (batin, bukan logika). “ Batin yang telah dekat dengan Tuhan menghasilkan suatu presepsi mengenai sifat-sifat Tuhan (makrifat), pada Tingkat makrifat inilah manusia menjadi refleksi kuasa Tuhan”. Pada zamannya ini juga berakhir kesultanan Buton, dengan sultan terakhir Muhammad Falihi (1937-1960) dan kemudian kesultanan Buton sebagai negara merdeka dan berdaulat menyatakan  diri sebagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Falsafah terakhir dari negeri butuni benar-benar telah diterapkan :  “Pemerintah, jiwa dan harta dapat dikorbankan demi keselamatan Agama”. Agama menempati posisi tertinggi setelah pemerintah, negeri, jiwa dan harta. Itulah Buton, Negeri Butuni, tak salah bila dikatakan bahwa peradaban tertinggi orang-orang buton adalah Undang-Undang Dasar Martabat Tujuh Kesultanan Buton, masih tetap berada dalam batin orang-orang buton sampai saat ini.

Selanjutnya H. Abdul Rahim (Yarona Lanto) mempunyai 4 Putra, salah satunya adalah

  1. H. Muhammad Ali (wafat tahun 1992) yang tertua dari empat bersaudara, kakek dari penulis,
  2. Ayahanda Rahim Ali (seorang saudagar) ——-ayahanda dari penulis, putra kempat dari H. Muhammad Ali—— Nikah dengan Ibunda Rosina warga turunan dari pasukan Raja Bone Arung Pallaka. Karena Raja Bone Arung Pallaka yang berselisih dengan Raja Makassar Sultan Hasanuddin, ——- padahal masa kecil kedua raja ini adalah teman sepermainan di instana kerajaan Gowa Makassar——- Arung Pallaka bersama pasukannya bermukim di Kerajaan Buton kurang lebih 3 tahun lamanya. Turunan Pasukan Arung Pallaka sekarang bermukin di Pulau Makassar di depan Kota Bau-Bau sekarang (sekitar 15 menit ditempu dengan motor laut).

Dinamakan Pulau Makassar karena  pulau ini tempat tawanan perang dari prajurit dan beberapa pimpinan dari Pasukan Sultan Hasanuddin dengan dukungan Pasukan Ternate, mencoba memperluas wilayahnya dengan menyerang Kesultanan Buton. Pertempuran yang dasyat yang menelan banyak korban dari kedua belah pihak, bentengnya kokoh dan sulit ditembus pasukan Sultan Hasanuddin, perang itu akhirnya, berkesudahan dengan gagalnya kerajaan Goa Makassar menduduki Kesultanan Buton. Mereka hanya berhasil menduduki Selayar yang masih wilayah Kesultanan Buton. Sementara pasukan Ternate hanya berhasil menduduki wilayah Muna. Seluruh pasukan Sultan Hasanudin asal Makassar yang tidak sempat lolos, menjadi tawanan perang dan ditempatkan di pulau ini dibawah pengawasan Arung Palakka dan pasukannya, kemudian tercatat dalam sejarah pulau ini dengan nama Pulau Makassar. Arung Pallaka selama kurang lebih tiga tahun berada di Pusat Kesultanan Buton, oleh pembesar kesultanan Buton mencoba mengisinya dengan belajar tentang strategi perang, ketatanegaraan dan ajaran-ajaran sufistik keislaman. Dengan pengetahuan dan pemahaman ini, Arung Palaka, kemudian mencoba melobi VOC untuk menyerang balik Sultan Hasanuddin, Ia berhasil dan kembali memperbesar kerajaannnya. Kesultanan Buton juga berhasil merebut wilayah Muna dari Pasukan Ternate, kecuali selayar lebih memilih Arung Pallaka dan menyerahkannya ke kerajaan Goa.

  • Arsad Rahim Ali (Penulis) adalah salah satu sembilan bersaudara, putra-putri dari Ayahanda Rahim Ali. Nikah dengan Andi Wiwi Riani pada tanggal 3 Maret 2002, putri dari Pasangan H. Andi Burhanuddin dan Hj. Hasnia Dalle (almarhuma, wafat pada tanggal 3 Maret  2007)
  • H. Andi Burhanuddin adalah putra dari Opu Andi Baso, neneknya  saudara dengan  Opu Andi Jemma (tercatat sebagai Pahlawan Nasional NKRI) Raja Terakhir dari Kerajaan Luwu Palopo, Sulawesi Selatan, Turunan dari Raja-raja dari negeri Sawerigading. Di duga ada hubungan  perkawinan putra-putri dari kerajaan buton dan kerajaan Luwu dari zaman dulu sampai sekarang.
  • Hj. Hasnia Dalle putri dari Pasangan H. Ambo Dalle dan Hj. Makkarena Bt. H. Bocing, cucu dari Raja Appanang Kerajaan Soppeng bagian dari kesultanan Bone Sulawesi Selatan

Dan inilah putra-putriku, turunanku (Arsad Rahim Ali)  bersama istri tercinta (Andi Wiwi Riani) :

  1. Anak Pertama : Aflah Syafi Rahmatullah lahir, 17 Juni 2003, ketika lahir adik iparku bertanya “Siapa yang lahir !?” aku termenunung sejenak dan kemudian kujawab “yang lahir adalah Aflah Syafi Rahmatullah
  2. Anak Kedua :  Muhammad Qalby Al Arsad lahir, 28 Agustus 2006) ketika istriku mengandung aku selalu berdoa “Yaaa. muqallibalquluub sabitqalbi aladiinika ya Rahmanirrahim” Ya Allah yang membolak-balikan hati manusia, tetapkannlah hatiku pada agamamu (islam) wahai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.) Hingga kuberi nama padanya Muhammad Qalby Al Arsad
  3. Anak Ketiga : Atifah Putri Dalle (lahir, 10 Desember 2007) nama yang kuberikan sebagai penghormatan tertinggi kepada Almarhuma ibunda dari istriku yang meninggal tepat pada  tanggal dan bulan hari ulang tahun perkawinanku 3 Maret, dengan mengambil nama almarhum ayahnya H. Ambo Dalle di belakang nama  putriku Atifah Putri Dalle.
  4. Anak Kempat : Khusnul Khatima (lahir, 22 September 2009. Suatu harapan semoga semua yang terjadi dari mulai leluhur nenek moyangku (baik dariku maupun istriku) sampai kepada Turunan terakhirku akan selalu berakhir dengan kebahagian yang di Ridhoi oleh Allah Swt.

Demikian Silsilah Keluarga dari Penulis @arali2008. Arsad Rahim Ali.

Hormat kami

BLOGGER @arali2008

Salam untuk semua, terima kasih.

Identitas penulis baca di : Autobiografi Penulis Penulis Lahir di Buton Sulawesi Tenggara, 19 Januari 1971, oleh orang tua diberi nama Arsad Rahim Ali. Keluarga Penulis AFI,ABI, IFA  dan NUNU serta Istriku Tercinta adalah keluargaku, sengaja ditunjukkan disini karena inilah keluargaku, apa yang penulis tulis dalam blog ini merupakan bagian dari keluarga. Kantor Penulis DINAS KESEHATAN KAB. POLEWALI MANDAR PROPINSI SULWESI BARAT Alamat Jalan Andi Depu Nomor 2 Polewali, Telpon 0428-2410997 Fax 0428-2410998 Email : dinkespolewali@gmail.com

Sumber :

  1. Kitab Yarona Lanto. Ditulis oleh H. Abdul Rahim, bapak  dari H. Muhammad Ali, kakek dari Penulis (Arsad Rahim Ali) dialih bahasakan oleh Abdul Hakim,  9 September 1999, 30 Jumadil Awal 1420 Hijriah. Dan ditulis kembali oleh Arsad Rahim Ali tanggal 26 Juni 2009.
  2. Achadiati Ikram dkk, Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari, diterbitkan Oleh Yayasan Obor Indonesia 2001
  3. Tentang Kesultanan Buton Anda Bisa baca di wikipedia Indonesia

35 Responses to Silsilah Keluarga

  1. HARVIYADDIN mengatakan:

    bila mungkin bisa di kirimkan alamat la ode husain, saya ingin menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan “kombo”_pakaian. saya lagi studi laraingi. salah satu tarian yang melegenda di Buton. bila ada informasi, harap di posting. jika berkenan alamat yang kami minta dapat dikirmkan ke : devisihpp@gmail.com

    arali2008 menjawab
    coba ini hubungi nomor emalnya La Ode Husain : cheng.khall@yahoo.co.id

  2. ana ogi mengatakan:

    Dalam Sastra Bugis Kuno yang tersimpan di Museum I LA GALIGO, bhw Saweringading Kembar Siam dengan WE TENRI ABENG. Tidak ada Saudara Lain termasuk La Baa Luwu.
    Bila dicermati Epos Besar Sawerigading tersirat Kejadian itu berlangsung saat di mulainya Peradaban Manusia di Tanah Bugis Sebelum Masehi (Episode: MULA RITEBBANGNA WELENRENGNGE).
    Pertanyaan:
    Anda Dapat Referensi darimana ataukah Anda Hanya Kait-kaitkan saja karena Kebetulan istri Anda Orang Luwu.

    arali2008 menjawab
    Tulisan diatas adalah tulisan tentang silsilah penulis, agar mudah dikenang diberi latar sejarah dan sedikit berbau sastra, Mengenai La Baa Luwu hubungannya dengan tulisan saya diatas ini sifatnya masih diduga atau asumsi atau hipotesis, dasarnya :
    PERTAMA cerita-cerita santai dari keluarga sang istri sendiri (maaf saya tidak bisa sebutkan orangnya) mengatakan bahwa zaman dulu zamannya raja luwu II Batara latu ada istri sirinya (istri rahasia) yang tidak diterima di kerajaan, ia kemudian pergi atau ditempat di bone (watampone) sebagai wilayahnya, anaknya diduga dipelihara sang pembesar di buton. Apakah sang anak itu adalah La Baa Luwu, bisa “ya”, bisa “tidak”, bila “ya” diduga anak itu adalah La Baa Luwu (red, di artikan Anak Pembesar dari Luwu), kalau “tidak” kira-kira siapa? tidak ada yang lainnya kecuali yang namanya La Baa Luwu tersebut. Sementara di Buton dalam berbagai reteratur ada juga hubungan perkawinan dengan putra-putri raja di kedua kerajaan.

    KEDUA Yang menarik dari La Baa Luwu adalah anak dari istrinya yaitu sang ratu(raja) II kerajaan Buton Bulawambona mempunyai putra yang bernama BATARAGURU BIN LA BAA LUWU sekaligus sebagai Raja III Buton. Sementara di Kerajaan Luwu Raja Pertamanya adalah BATARAGURU. Pertanyaan besarnya adalah “apakah ada hubungannya Raja Buton ke III yaitu BATARAGURU BIN LA BAA LUWU dengan Raja Luwu I BATARAGURU ?” jawabannya tentunya bersifat di duga juga, kalau “Ya” bisa jadi kalau La Baa Luwu berasal dari kerajaan Luwu, bisa jadi ia telah memberikan nama (menyarangkan) pada anaknya sama persis nama kakeknya yang ada di luwu….. tetapi itu semua masih bersifat diduga dengan asumsi kesamaan-kesamaan nama tersebut.

    KETIGA Ada salah satu bukti yang sangat kuat adanya hubungan Kerajaan Buton dengan Kerajaan luwu adalah bahasa wotu (bukan bahasa bugis) sebagai bahasa resmi kerajaan luwu tempo dulu 70 % sama dengan bahasa wolio sebagai bahasa resmi kerajaaan buton, hanya 30 % bahasa bugis bone, Mengenai sastra I LA GA LIGO itu adalah seperti yang anda katakan, “sastra kuno bugis, berlatar belakang Peradaban Manusia di Tanah bugis”, lebih tepatnya adalah cerita dari lontara kerajaan Luwu yang ditulis kembali oleh sastrawan bugis yang kemudian disebut sastra kuno bugis. Berlatar belakang peradaban manusia ditanah bugis, yang lebih tepat adalah TANAH LUWU atau WOTU, yang namanya sastra akan dibuat indah sebagaimana layaknya sebuah sastra, terlalu sempurna, kalau itu dinyatakan sebagai bukti sejarah yang utuh.
    ——————————–
    terima kasih kritikan dan masukan anda sangat baik untuk bahan-bahan perbandingan, mohon maaf tulisan diatas hanya tulisan tentang Silsilah Keluarga Penulis, mengenai sejarahnya itu hanya latar untuk mempermudah menceritakannya.

  3. sulifi mengatakan:

    Maaf ya? mau nanya, sebelum datangnya mia patamiana atau katakan saja sebelum raja wakaka memerintah, Bangunan Kerajaan Buton sudah ada atau belum?, yang bangun siapa?, nama bangunan itu apa?, atau katakan saja archa apakah,….tolong ceritakan sy sebelum masuknya raja wakaka (sebelum islam)

    arali2008 menjawab
    Sebelum datang mia patamiana diwilayah pusat keraton buton adalah hutan belantara, belum berpenghuni, wilayah itu yang sekarang eks keraton buton ditemukan pertamakali oleh kelompok sipangjonga dan membangun pemukiman disitu, memang ketika pertamakali kedatangan sipangjonga mendarat dimuara sungai bau-bau, …. sungai yang sekarang membela kota bau-bau…..sekitar. 4 km dari benteng keraton buton, sudah ada pemukiman disekitarnya yang tak bertuan, mereka adalah bagian dari migran nusantara yang datang dari utara bagian cina, banyak ditemukan keramik-keramik yang menunjukan keberadaan mereka, tidak ditemukan archa, ataupun bekas candi karena mereka hanyalah beberapa rumpun kekuarga dengan kebiasaan hidupnya menganut ajaran Hindu

  4. iswadi mengatakan:

    Saya mau tanya, kakej saya bergelar la ode mas yusuf dari keturunan kesultanan ke 13, dan anak saya sekarang mewarisi sifat. Keturunan kesultanan buton dan kerajaan majapahit.

    arali2008. Menjawab
    Apa pertanyaanya….?

  5. Tanto Nugroho mengatakan:

    saya bangga jadi orang buton….
    terima kasih untuk bacaanx,,,
    sukses buat penulis….

  6. Arya Rajapati mengatakan:

    SIGENTAR ALAM SEBENARNYA AKU
    BANTAL SERAGA LAYANG KUNING KU
    TUNGGAK SINGGAHSANA MAHAMERU KU
    TUJUH PETALA BUMI MEMERINTAH AKU
    Ancestor father side – Raden Wijaya from Majapahit to Penarikan. Ancestor mother side – Abdul Karim b MAT SIDEK @ MD SIDDIQUE bin Abu Bakar bin Daeng Sopo bin Karaeng Agang bin To’ Tuan @Karaeng Aji yang datang kepada tahun 1722.
    Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. About Arya – YM Dato’ Mangkubumi Shahrin Bin Rajapati Kamarulzaman Bin Rajapati Habib Bin YM Rajapati Dato Mohamaed (ADC to Tuanku Antah 1874,Tuanku Mohamed 1901) Bin Rajapatii Ismail Bin Pengiran Arya Adipati Mangkubumi Salleh

  7. hermina mengatakan:

    Sy juga senang baca silsilah keluarga pa arali dari buton. Yang lebih senang lagi karena sy pernah ada kegiatan survey disana saat para pengungsi dari maluku datang ke Buton. bahkan para pengungsi maluku tsb yang PNS/TNI mutasi ke Buton, membanagun komplek perumahan baru. Sy juga sering jalan-jalan di sepanjang benteng kerajaan Buton…, sy sangat bersyukur menjadi bangsa Indonesia yg sangat kaya dg beragam kebudayaan, pribadi, talenta suku dan adat istiadat yg berbeda-beda, tetapi tetap bersatu menuju satu tujuan yg pasti…yaitu untuk mencari ketenangan hidup yg hakiki di dunia dan akhirat nanti…Tetap semangat dan berkarya ya boss…

  8. hermina mengatakan:

    Alhamdulilah sy bisa ketemu dan mengenal lebih dekat dg Pa arali2008. Gara-gara ditinggal monev PDBK ke mamasa oleh pak Fatih, sy bingung di Polman mau ketemu siapa yg benar2 aktif dalam mendukung PDBK Polman, krn ternyata di polman banyak strategi yg diucapkan tp tidak berfungsi dan teamwork yg dibentuk juga tdk jelas. Semoga dg adanya posisi penting pa arali dalam “lokomotif perencanaan” dinas kesehatan Polman, teamwork Polman dalam kegiatan Pendampingan Daerah Bermasalah Kesehatan menjadilebih jelas dan bisa terukur keberhasilannya. Sy saluut dg blog pa arali yg mantaap.sy akan belajar banyak ke pa arali yaa. Pengalamannya dalam menangani epidemiologi gizi dan kesehatan di masyarakat Polman menjadi sinar terang dan harapan yg tidak boleh pudar. Selama ini sy seakan tersesat sendirian mencari mitra kerja yg benar-benar mau bekerja dan bertanggungjawab secara moril maupun material. Sukses ya dan tetap semangat membangun harapan baru untuk Polman. Doa dan harapan sy selalu menyertai mu….hehe…., hebat., tks..

  9. B.Tri Widadi. mengatakan:

    maap sebelumnya , saya seorang pambaca yang tertarik dengan sejarah buton , sislsilah dan juga bentengnya yang katanya mempunyai 12 pintu masuk. konon 12 pintu itu untuk masuknya 12 bangsa apakah itu betul, jika benar bangsa apa saja dan apa sebabnya

  10. Lasubu mengatakan:

    Ya. Satu nukilan yang bermaklumat. Terima Kasih

    Lasuboh Lanuru
    Buton Malaysia.
    Asal Bapak dari Mawasangka

  11. 240482 mengatakan:

    saya sangat bingung dengan sejarah buton itu sendiri, dilain pihak mengatakan wakaka adalah raja yang pertama sekitar tahun 1332 M – 1350 M dan yang membawa islam ke buton adalah syekh abdul wahid yang ayahnya bernama syekh sulaiman dan ibunya putri sultan johor syekh abdul wahid datang ke buton pad tahun 1538m pada masa pemerintahan raja ke 6 raja murhum yang diberi gelar sultan qaimuddin, sedangkan persi saudara arsad bahwa raja pertama wakaka ke buton islam sudah ada di tanah buton, mohon maaf saudara arsad tolong di cek kebenaran tentang silsilah kerajaan buton yg anda ceritakan itu sebaba saya lihat beberapa referensi seperti cerita dari sulawesi selatan dan versi cerita orang buton yang lian sama hanya cerita mas arsad saja yang sangat jauh perbedaannya tolong diluruskan kebenarannya kalau memang cerita mas arsad itu benar tolong buktikan dengan referensi yg jelas jangan mengatas namakan keturunan dari kerjaan dan kesultanan ………………………………………………………

    arali2008 menjawab

    Ada dua komentar Anda yang saya diminta memberikan penjelasan.
    Pertama tentang keberadaan islam di tanah buton.
    yang kedua tentang Atas Jangan mengatas namakan kerajaan dan kesultanan.

    jawaban yang pertama :
    tidak perlu bingun …… seperti yang Anda Komentari “raja pertama wakaka ke buton islam sudah ada di tanah buton” maksudnya adalah sebelum datangnyaa Wakaka sudah ada kelompok sipanjongo yang berasal dari Johor, kelomppk ini adalah orang-orang yang merindukan islam, mereka telah mengenal islam di Johor, karena di johor waktu itu sudah ada islam. Seperti yang anda katakan “syekh abdul wahid yang ayahnya bernama syekh sulaiman dan ibunya putri sultan johor syekh abdul wahid” Artinya islam itu sudah ada di johor dan oleh kelompok Sipanjonga yang notabenenya berasal dari Johor, mereka sudah mengenalnya sebelum meninggalkan negeri Johor— saya tidak bisa pastikan apakah mereka sudah islam atau tidak —- tetapi yang pasti mereka telah mengenal islam dan merindukannya.
    artinya sebelum kedatangan Wakaka di Buton sudah ada kelompok sipanjonga mereka telah mengenal islam dan merindukannya. Putri Raja Wakaka sendiri yang berasal dari Dinasti Fatimiyah Negeri Persia dengan silsila berasal dari Yastrib Madina, secara pribadi sudah mengenal islam, setidaknya telah islam karena turunan dari orang tuanya.

    Mengenai pemerintahan raja ke 6 raja murhum yang diberi gelar sultan qaimuddin, sebagai bukti pemerintahan kesultanan (islam) saya kira sejarawan sudah membuktikan.

    Jawaban yang kedua
    Saya tidak tahu Anda Berasal dari Daerah Mana… bahwa Anda mengatakan “jangan mengatas namakan kerajaan dan kesultanan” Saya kira tidaklah demikian, maaf kalau boleh saya katakan Anda sangat Keliru, tulisan saya ini menyangkut silsilah keluarga saya, dimana saya punya orang tua, orang tua saya punya juga orang tua dan terus keatas sampai ketemu dengan Wakaka. Kalau kemudian diantara nenek-nenek dan kakek-kakek saya itu terlibat dalam kerajaan dan kesultanan, itu bukan berarti tulisan saya ini mengatasnamakan Kerajaan dan Kesultanan yang kemudian Anda gugat, itu versi lain alias cerita tentang kerajaan dan kesultan Buton dalam tulisan saya ini hanya untuk mempermudah penjelasan dan pemahaman tentang Silsilah Keluarga saya.
    Saya kira sejarah tentang kerajaan dan kesultanan buton dan hubungannya dengan sulawesi selatan, pada tulisan saya ini Anda mau menjadikan sumber (referensi) tidaklah Tepat. Sama halnya Anda yang saya tidak kenal tetapi yang jelas Anda sekarang tinggal di tahun 2013 pemerintahan Indonesia yang dipimpinan oleh SBY, dan kemudian saya mau menjadikan sumber referensi, saya kira tidaklah tepat walaupun benar kalau Saya mengatakan dan menyimpulkan “ditahun 2013 di Indonesia ada Pemerintahan SBY”

    Mohon maaf kalau ada kesalafahaman… disarankan kalau Anda mau mengenal Kerajaan dan kesultanan Buton lebih jauh Anda bisa mencari Buku-buku yang resmi, pada tulisan ini sejarah kerajaan dan kesultanan buton dan hubungannya dengan sulawesi selatan tidaklah tepat untuk anda jadikan sumber referensi tetapi bukan berarti salah untuk dijadikam pintu masuk untuk menjelaskan Silsilah Keluarga. Ini adalah tulisan tentang Silsilah Keluarga bukan tulisan tentang Mengatas Namakan Kerajaan dan Kesultanan. Semoga Anda Bijak untuk memahaminya

    Catatan terpenting : Perbedaan mendasar Antara Kesultan Buton dan Kesultanan yang ada di Sulawesi Selatan adalah Monarkinya. Buton tidak mengenal Anak Keturunan Raja, tidak mutlak anak raja atau sultan langsung menajdi raja/sultan, tetapi Raja/sultan dipilih dari orang orang terbaik menjadi raja/Sultan, bahasa sekarang disebut dipilih secara demokrasi.
    Sedangkan Kesultan di Sulawesi Selatan sangat-sangat monarki bahwa raja harus berasal dari keturunan raja. pernyataan ANDA MENGATAKAN ATAS NAMA KERAJAAN DAN KESULATAN hanya berlaku di sulawesi selatan di buton tidak. Jadi Anda sangat keliru Melihat keturunan atau silsilah keluarga saya dengan sudut pandang dengan keturunan dan silsilah keluarga kerajaan dan kesultanan yang ada di Sulawesi Selatan.

  12. azmishah mengatakan:

    Aslmkm wr wb,
    alhmdlh terimakaseh atas tulisan dan segala infomasi yg saudaraku curahkn.
    Mohon kiranya bt saudaraku utk berikn tulisan
    mengenai raja butun yg ke 6.
    Terimaseh

  13. oellaode mengatakan:

    Salut buat saudara Arali, sangat menambah pengetahuan.

    Buat sdr La Ode Husain : Tahun 1995 sy menghabiskan masa libur di tempat Bapak La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir. Sangat beruntung mendengar langsung isi kitab “Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wa Daarul Munajat dari beliau. Beliau juga menceritakan sebab2 mengapa sampai kitab tsb di ‘sita’ dan akhirnya ikut karam. Disini, terdapat sedikit perbedaan dengan cerita yang sdr tulis di atas.

    Salam.

  14. Fanza mengatakan:

    Assalamu alaikum Wr. Wb.
    salut untuk blog anda dan sejarah keluargax….
    kalo berkenan saya ingin minta petunjuk tentang metode penelusuran silsilah keluarga.
    saya lahir dan besar di makassar, dan beberapa tahun lalu saya membaca catatan tentang silsilah keluarga, namun sangat sederhana dan tanpa penjelasan yg berarti. ayah saya asli muna, tapi menurut silsilah beberapa generasi keatas berasal dr buton, yang berujung kepada Laode Karambau(Oputaiko).
    Insya Allah tahun saya berencana berkunjung ke Pulau Buton dan Pulau Muna. yang menjadi pertanyaan saya, dimana kira2 saya bisa mendapat referensi atau literatur resmi tentang silsilah dari Laode Karambau(oputaiko)?
    mudah2an Bang Arsad berkenan memberi pencerahan.
    wassalam.

    arali2008 menjawab
    agak sulit juga yach.. untuk menjawab…karena apa yang saya dapatkan merupakan catatan dari nenek penulis yang kemudian dibuat dalam bentuk tulisan seperti silsilah penulis tersebut. Untuk anda (P’Fanza) seperti pintu masuk sudah ada yaitu dimulai dari La Ode Karambau (Oputaiko) tinggal ditelusuri keatasnya, dimusium bau-bau mungkin salah satu solusinya……..

  15. LA ODE HUSAIN mengatakan:

    inilah terjemahan Undang-Undang Dasar “Martabat Tujuh” Kesultanan Buton

    BAB I
    KATA PEMBUKAAN

    Man-arafaa nafsahu faqad arfa rabbahu artinya barang siapa yang mengenal keadaan dirinya yang sejati (kefanaan), tentunya ia akan mengenal keadaan Tuhan-Nya yang kekal (baqa).

    Binci-Binci Kuli
    Pasal 1
    Pokok adat berdasarkan perasaan perikemanusiaan dalam bahasa adat disebut “Binci Binciki Kuli” yang berarti mencubit kulit sendiri apa bila sakit tentu akan sakit pula bagi orang lain. Dasar inilah yang kemudian melahirkan cita hukum Binci-binciki kuli. Untuk menjamin dasar falsafah tersebut, maka dalam hubungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimanifestasikan kedalam empat pemahaman dasar yaitu:
    1. Pomae-maeka artinya saling takut melanggar rasa kemanusiaan antara sesama anggota masyarakat.
    2. Pomaa-maasiaka artinya saling menyayangi antara sesama anggota masyarakat.
    3. Popia-piara artinya saling memelihara antara sesama anggota masyarakat. dan
    4. Poangka-angkataka artinya saling mengangkat derajat antara sesama anggota masyarakat, terutama yang telah berjasa kepada negara.

    Falsafah Kesultanan Buton
    Pasal 1 A
    Untuk mewujudkan keempat rasa kemanusiaan dalam Binci-Binciki Kuli tersebut, maka perlu adanya urutan kebutuhan atau kepentingan dalam membangun hubungan antar rakyat/warga negara dengan negara yang dapat terlihat dalam falsafah negara kesultanan Buton. falsafah kesultanan Buton terdiri atas lima sila yaitu, Arata, Karo, Lipu, Syara dan Agama. Dalam memahami kelima sila falsafah tersebut, para pemuka adat atau pembesar kesultanan merangkai kelima sila tersebut dalam satu kesatuan yang merupakan urutan kebutuhan atau kepentingan negara dan warga negara. Falsafah tersebut merupakan perwujudan cita-cita bersama dalam membangun rasa pengorbanan dan pengabdian warga negara terhadap negara. Adapun uraian pemahaman falsafah tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Ainda – indamo aarata somanamo karo
    2. Ainda – indamo karo somanamo lipu
    3. Ainda – indamo lipu somanamo syara
    4. Ainda – indamo syara somanamo agama

    Empat Perkara Yang Bertentangan dengan Falsafah Binci-Binciki Kuli
    Pasal 2
    Pasal ini menyatakan segala hal yang dapat membinasakan pasal pertama sebagai pokok adat atau falsafah negara, yang terdiri atas 4 perkara:
    1. Sabaragau (merampas hak orang lain dengan menghalalkan segala cara), hak bersama dimiliki dan dikuasai oleh seseorang.
    2. Lempagi (melanggar, berhianat atau melangkahi ha-hak orang lain)
    3. Pulu Mosala Tee Mingku Mosala, Pulu Mosala artinya mengeluarkan perkataan yang bersifat menyalahi aturan atau menghina orang lain di muka umum. Sedangkan Mingku Mosala yaitu gerak gerik yang menunjukkan ketinggian hati atau keangkuhan, sehingga berpakaian yang tidak selaras dengan kedudukannya, gila pangkat, gila harta dan mabuk ketinggian derajat sehingga melakukan kejahatan maupun pelanggaran.
    4. Pebula maksudnya:
    1. Melakukan perzinaan dalam kampung
    2. Penipuan dan pemerasan terhadap rakyat dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.
    3. Penyalahgunaan Pangkat dan Jabatan
    4. Menggelapkan uang negara (korupsi)

    BAB II
    PEJABAT DAN PEGAWAI KESULTANAN

    Sifat-Sifat Pejabat/Pegawai Kesultanan
    Pasal 3
    Pasal ini menyatakan sifat-sifat yang diwajibkan atas tiap-tiap pemimpin. Sebagai seorang pemimpin diwajibkan bersikap atas atas 4 (empat) perkara yaitu:
    1. Siddiq artinya benar dan jujur dalam segala hal serta rela berkorban demi tegaknya keadilan dan kebenaran.
    2. Tabliq artinya mampu menyampaikan segala perkataan yang mendatangkan manfaat kepada rakyat, sejalan antara kata dan perbuatan.
    3. Amanat, mempunyai rasa kepercayan terhadap rakyat dan sebaliknya dipercaya oleh rakyat.
    4. Fathani artinya, pandai dan fasih berbicara

    Pegangan Pejabat/Pegawai Kesultanan
    Pasal 3A
    Sifat-sifat tersebut diatas disebut “amanat kerasulan”. Selain syarat-syarat tersebut, maka para pegawai kesultanan juga memiliki pegangan dan pengetahuan yang wajib di amaliahkan diantaranya:[1]
    1. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat hiyaat (hidup)
    2. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat ilmu (berpengetahuan)
    3. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat kodrat (kuasa)
    4. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat iradat (kemauan)
    5. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat samaa (mendengar)
    6. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat basar (melihat)
    7. Pejabat/pegawai kerajaan harus bersifat kalam (berkata)

    Susunan Pejabat/Pembesar Dan Pegawai Kesultanan
    Pasal 3 B
    Adapun susunan pejabat atau pembesar pemerintahah Kesultanan Buthuuni, secara garis besar adalah sebagai berikut :
    1. Pejabat/Pembesar Syara Ogena
    a. Sultan
    b. Sapati
    c. Kenepulu
    d. Kapitaraja/ Kapitalau
    e. Lakina Sorawolio
    2. Majelis Syara (memiliki fungsi pengawasan)
    a. Bonto Ogena
    b. Bonto Sio limbona
    c. Bonto Inunca (staf istana)
    d. Bonto Lencina Kanjawari
    e. Bonto dan Bobato
    4. Staf khusus kesultanan
    a. Sabandara
    b. Juru Bahasa
    c. Talombo
    d. Gampikaro
    e. Panggalasa
    f. Wantina Gampikaro
    g. Kenipu
    h. Belobaruga
    i. Tamburu Limanguna
    j. Kompanyia Isyara
    k. Tamburu Pataanguna
    l. Matana Sorumba
    3. Pegawai Syara Kidina/Agama
    a. Lakina Agama
    b. Imamu
    c. Khatibi
    d. Moji
    e. Mokimu
    f. Bisa Patamiana

    BAB III
    STRUKTUR PEMERINTAHAN SARA OGENA/LIPU/WOLIO

    Syara Ogena atau Syara Wolio adalah struktur pemerintahan pusat Kesultanan (Wolio). Struktur ini diambil dari tamsil atau teladan murtabat tujuh dan sifat dua puluh. Tujuh tingkatan dalam ajaran murtabat tujuh, dijadikan tamsil atau teladan dalam penyususnan hierarki struktur pemerintahan kesultanan Buton. Tamsil struktur pemerintahan Sara Ogena atau Sara Wolio tersebut diambil atas teladan martabat ketuhanan (Nurullah, Nur Muhammad, dan Nur Adam) serta tamsil atas penjabaran martabat kehambaan/kemanusiaan melalui pemahaman atas proses kejadian manusia (Nutfah, Alqah, Mudgah, Manusia). Kedua murtabat tersebutlah yang dijadikan tamsil atu teladan dalam menyusun struktur pemerintahan Sara Ogena/Wolio (tingkatan atau pangkat-pangkat pembesar kesultanan). Adapun makna kiasan yang diambil dari tamsil/ teladan murtabat tujuh tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Martabat Ketuhanan
    a. Murtabat Ahdat : ditamsilkan pada Tanailandu.
    b. Murtabat Wahdah : ditamsilkan pada Tapi-tapi.
    c. Murtabat Wahidiyah : ditamsilkan pada Kumbewaha.
    2. Martabat Kehambaan
    a. Murtabat Alam Arwah/ Nutfah : ditamsilkan pada Sultan.
    b. Murtabat Alam Misal/ Alaqah : ditamsilkan pada Sapati.
    c. Murtabat Alam Ajsam/Mudgah : ditamsilkan pada Kenepulu.
    d. Murtabat Alam Insan /manusia : ditamsilkan pada Kapitalao.

    Sultan bertindak sebagai kepala negara dan dalam menjalankan pemerintahanya dibantu oleh Sapati, Kenepulu, Kapitalau, Bonto Ogena, Lakina Sorawolio dan Lakina Baadia. Adapun kedukan dan tugas dari pangkat-pangkat kekuasaan syara ogena dapat diuraikan sebagai berikut:

    Lihat Selengkapnya

    Bagian. II
    S U L T A N

    Pasal 4

    Sulltan adalah memiliki hukum kekuasaan, kebesaran dan kemuliann dalam daerah/wilayah kekuasaanya. Menurut adat mufakat disertai pemahaman agama Islam Sultan ditelandankan sebagai Khalifatullah (bayang-bayang Tuhan di Bumi). Dalam kondisi-kondisi tertentu, Sulltan memiliki hak istimewa (hak prerogatif), selama tujuannya dip…ergunakan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi kepentingan masyarakat umum dan negara. Pedoman yang menjadi dasar pegangan Sultan (hak istimewa) dalam adat ditamsilkan atas dalil “fa`aalun Limaa Yuriydu” artinya Sultan berbuat sekehendaknya.

    Tugas Pokok/Kewajiaban Sultan
    Pasal 4 A
    Dalam pasal ini dijelaskan dasar kepentingan dan kewajiban pangkat-pangkat dari Sultan. Sendi atau dasar kepentingan yang amat diutamakan terhadap kewajiban Sultan adalah :
    1. Menilik dengan mata hatinya lautan kalbu rakyat atau alam batin orang banyak.
    2. Menjadi penuntun dan pemimpin rakyat baik di dalam dan di luar kerajaan/kesultanan.
    3. Menjadi bapak/orang tua rakyat di dalam dan diluar kerajaan atau Kesultanan.
    4. Harus berpegang pada rasa keadilan.

    Hak Kelengkapan Sultan
    Pasal 4 B
    Sultan diberi hak atau kelengkapan atas diri Sultan yang disebut “syara sapulu ruanguna”. Artinya hak kelengkapannya berjumlah 12 (dua belas) bagian adapun uarain atas syara sapulu ruanguna tersebut yaitu :

    1. Syara Jawa
    1. Payung kebesaran dari kain kuning
    2. Permadani
    3. Gambi yisoda yaitu puan dari kayu yang dipikul
    4. Somba atau sembah

    Adapun Syara Jawa berisi 4 (empat) perkara yang menjadi hak penghasilan Sultan yaitu:
    1. Bangku mapasa (perahu yang terdampar atau pecah)
    2. Rampe yaitu barang hanyut yang dipungut rakyat
    3. Ambara yaitu semacam hasil laut
    4. Ikane Ogena yaitu ikan besar yang dipikul dua orang

    2. Syara Pancara
    1. Bante ialah hasil tanah dari papara yang dipersembahkan tiap-tiap tahun.
    2. Kabutu ialah hasil tanah dari kabutu
    3. Pomua ialah kalame atau enjelai dari papara
    d. Kalonga

    Adapun Syara Pancana terdiri atas 4 (empat) perkara yang juga menjadi hak milik Sultan. Keempatnya adalah merupakan hasil perkebunan dalam bahasa adat disebut “antona tanah” yang dipersembahkan kepada Sultan, syara pancara tersebut terdiri atas :

    1. Popene, orang yang membawa keberataan pada Sultan, yang bersangkutan tersebut diharuskan membayar uang sebagai pengikut dirinya, dalam bahasa adat disebut “suruna karo”
    2. Suruna karo (denda)
    3. Tali-tali ialah tambahan denda.
    4. Karambau (kerbau). Barang siapa yang berburu atau membunuh kerbau di hutan lindung tanpa mendapat izin terlebih dahulu dari Sultan, maka kepadanya dikenakan hukuman denda sebesar 120 (seratus dua puluh) boka = Rp. 144,- yang kesemuanya menjadi penghasilan Sultan.

    3. Syara Wolio
    1. Belo Baruga Umane yaitu laki-laki 8 orang (anak keturunan menteri dan kaum walaka yang benusia 7 tahun keatas). Bertugas untuk memegang dan membawa alat-alat kelengkapan adat kebesyaran Sultan di Istana. Belo Baruga adalah mempelajari seluk beluk Tuturuka, adat kesopanan syara Buton, mereka itulah calon-calon pemimpin di kemudian hari.
    2. Belo Baruga Bawine yaitu anak-nak gadis yang masih perawan dari golongan papara yang berjumlah 12 orang berfungsi sebagai selir-selir Sultan. Hal ini dimaksudkan agar Sultan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari tidak berbuat yang tidak-tidak terhadap rakyat pada umumnya.
    3. Susua Wolio ialah perempuan-perempuan keturunan kaum walaka asal limbo yang bertugas mengasuh putra putri Sultan, jumlah sesuai kebutuhan.
    4. Susua Papara ialah perempuan-perempuan yang diambil dari golongan papara, juga bentugas sebagai pengasuh putra putri Sultan.
    Adapun isi dari Syara Wolio juga terdiri atas empat perkara yaitu:
    1. Isalaaka ialah hal-hal yang menjadikan seseorang bersalah atau melanggar hukum
    2. Ikoddosaaka yang menjadikan seseorang itu berutang.
    3. Ibatuaka ialah yang menjadikan seseorang mengabdi sebagai hamba sahaya.
    4. Imateaka ialah yang menjadikan seseorang mati atau mengakhiri hidup.

    S A P A T I
    Pasal 5
    Sapati merupakan kepala syara atau “aroana syara” yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan jalannya roda pemerintahan kesultanan Buton. Sapati juga memiliki hak istimewa yang diambil dari tamsil dalil “Innalaaha laa yukhliful miy aadi” artinya sesungguhnya Tuhan itu tidak merubah-rubah janjinya. Pemahaman dalil ini sejalan dengan pemahaman akan pegangan Sultan yaitu Sultan berbuat sekehendaknya.


    Kewajiban Sapati

    Pasal 5 A
    Pada hakekatnya sendi atau dasar kewajiban sapati yang amat diutamakan adalah 7 (tujuh) perkara yang senantiasa menjadi keyakinan dan penilikan yang sesempurna-¬sempurnanya, sebagai berikut:
    1. Sampaki ialah pendepat dari kesalahan bicara dari siapapun juga tanpa terkecuali Sultan.
    2. Dolango ialah penahan atau pelindung Sultan dan rakyat.
    3. Salambi ialah penguat simpul dalam arti, Sapati menguatkan segala hasil kesimpulan musyawarah.
    4. Bhasyarapu ialah meneguhkan pembicaraan yang telah menjadi ketetapan atau menegakkan adat hasil permufakatan yang telah disepakati sebelumnya.
    5. Tiliki gau tee timbangi yaitu menilik dan merencanakan dasar-dasar pertimbangan segala sesuatu untuk dibawah ke tempat musyawarah
    6. Tiliki andala ruaanguna ialah menilik dua lautan, yaitu alam bathin sendiri dan alam bhatin rakyat.
    7. Segala yang telah dimufakatkan harus dipegang teguh tidak boleh diganggu gugat lagi. Hal ini berpegang pada dalil Innalaaha laa yukhliful miy aadi artinya sesungguhnya Tuhan itu tidak merubah-rubah janjinya

    Hak dan Tanggung Jawab Sapati
    Pasal 5 B
    Sapati memiliki hak atas:
    1. Kamali yaitu istana Sultan dan Mesjid Agung Keraton.
    2. Baruga yaitu tempat musyawarah dan pasar.
    3. Balnara tee badilina yaitu benteng pertahanan beserta kelengkapan perang.
    4. Batu tondo molele artinya, kota dan talangkena yaitu tempat meriam yang terbuat dan kayu.
    5. Pintu gerbang benteng dan penutupnya.
    6. Parit dan patua, saka-saka atau ranjau.
    7. Perahu dan bameanya yaitu tempat pembikinannya.
    8. Tiang bendera dan pakaroana laga.

    Kewenangan Sapati Selaku Kepala Adat/Syara
    Pasal 5 C
    1. Sapati diberi kewenangan untuk memutuskan perkara yang disebut “antona kakaana” yaitu isi dan dasar kekuasannya meliputi 5 (lima) perkara yaitu :
    1. Dosa artinya utang yaitu Sapati berhak menagih denda orang-orang yang bersalah yang terkena hukuman denda
    2. Pasabu artinya, memecat orang yang bersalah.
    3. Pomurusi artinya, membeslaq barang bukti dan orang yang bersalah.
    4. Papasi artinya, mengasingkan orang yang bersalah.
    5. Pekamate artinya, memhukum mati orang yang bersalah.

    2. Sapati juga mengawasi Komapyia Isyara yang terdiri dari 2 (dua) kelompok. Adapun susunan Kompayia Isyara tersebut adalah Lotunani, Alifarisi, Saraginti dan Tamburu.

    K E N E P U L U
    Pasal 6
    Pada hakekatnya dasar kewajiban Kenepelu adalah bertugas memperhatikan dan menampung keluhan rakyat, yang dalam bahasa adat “keni” berarti pegang, dan “pulu” berarti bicara. Tugas utama kenepulu adalah sebagai sekertaris kesultanan dan sewaktu-waktu dapat menjadi hakim atau jaksa pada permasalahan adat yang menjadi kewenangannya. Adapun kewajiban kenepelu ada 5 perkara dan menjadi dasar kewenangannya untuk memutuskannya yaitu:[1]
    1. Arataa indaa kawiaka artinya harta orang yang tidak kawin sah.
    2. Arataa inunuana anana artinya harta yang dituntut oleh anaknya sebagai ahli waris.
    3. Arataa inuna opuana artinya harta yang dituntut oleh cucunya.
    4. Arataa inununa opuana itoputu artinya harta yang dituntut anak cucunya atau cicitnya
    5. Arata imanako artinya harta curian

    LAKINA SORAWOLIO
    Pasal 7
    Pada hakekatnya kewajiban lakina sorawolio yaitu meniru-niru pekerjaan Sapati yang bertujuan untuk persiapan peperangan. Umpamanya, syara Buton memperbaiki benteng, maka Lakina Sorawolio memperbaiki pula bentengnya.

    KAPITALAO/KAPITARAJA
    Pasal 8
    Kapitalao adalah Harimauna Syarana Wolio artinya harimau dari syarat kerajaan. Pada hakekatnya, Jabatan Kapitalau adalah sebagai Panglima Kesultanan Buton yang dinamakan Kompanyia Patanguna yang terdiri atas (Lotunani, Alifarisi, Saraginti dan Tamburu). Kapitalau terdiri atas dua bagian yaitu Kapitalau Sukanaeyo dan Kapitalau Mataneyo. Kewajiban utama Kapitalao adalah mempertanggung jawabkan wilayah barat dan wilayah timur juga mempertahankan wilayah pemerintah pusat (Wolio). Kapitalao di ibaratkan sebagai dasar keberanian Sultan atau Syara, pedang Sultan dan Syara. Kapitalao memiliki unit atau staf yang disebut

    Tugas dan Kewajiban Kapitalau/Kapitaraja
    Pasal 8 A
    Adapun tugas kapitalau adalah :
    1. Kapitalao dianggap sebagai pedang Sutan (Huncuna Laki Wolio) atau syara kesultanan.
    2. Kapitalao mendapat perintah hanya satu kali terhadap kewajibannya mengenai masalah ketertiban dan keamanan. Seandainya ada musuh yang menyerang keultanan, maka Kapitalau secepatnya bertindak untuk melakukan pertahanan atau menjaga keamanan Kesultanan.
    3. Kapitalao juga mengepalai Bobato dalam keadaan perang.

    B O N T O O G E N A
    Pasal 9
    Pada hakekatnya dasar kewajiban Bonto Ogena diibaratkan sebagai gundik dari Sapati yang selalu mengawasi, menjaga dan membantu tugas-tugas Sapati yang 7 (tujuh) perkara. Bonto Ogena terdiri atas dua yaitu Bonto Ogena Matanaeyo dan Bonto Ogena Sukanaeyo. Bonto Ogena oleh Syara Buton di anggap sebagai salah satu bilah pedang dari rakyat papara. Bonto Ogena adalah Sultan bathin dari papara dan berhak menguasai papara, dan juga dijuluki sebagai “tolowiwi” dari Sapati, maksudnya penahan atau penjaga agar Sapati tidak bertindak sesuka hatinya atau sewenang-wenang atau melanggar adat dan peraturan perundang-undangan. Apabila Sapati melakukan pelanggaran, maka Bonto Ogena diberi hak untuk menantangnya dan bertindak memberi sangsi.

    Tanggung Jawab Bonto Ogena
    Pasal 9 A
    Adapun Bonto Ogena bertanggung jawab atas 9 perkara yaitu :
    1. Weti atau pajak yaitu sebagai persembahan dan rakyat berupa hasil tanah atau hasil pertanian dari Papara
    2. Bhante ialah hasil tanah atau pertanian dari rakyat papara bhante.
    3. Kabutu ialah hasil tanah yang dipersembahkan rakyat papara kabutu.
    4. Pomua ialah hasil tanah atau pertanian yang dipersembahkan oleh rakyat.
    5. Kahoti masasa ialah Tuak.
    6. Kahoti mamasa ialah gula merah.
    7. Polanggana kampua artinya pasar dan mata uang dari kerajaan yang terbuat dan kapas yang ditenun disebut uang Kampua.
    8. Kalongana papara yaitu bantuan rakyat papara, pada pesta sederhana yang diadakan oleh Sultan ataupun Sapati berupa hasil perkebunan dan bila pesta besar disertai dengan uang.
    9. Aba tee posanga artinya tempat bertanya dan minta izin. dimana seluruh wilayah kadie yaitu para bonto dan bobato jika hendak berpergian harus atas sepengetahuan Bonto Ogena. Dan Bonto Ogena berhak menegur atau mengusir para Bonto dan Bobato yang menetap lama di Pusat Kesultnan dan melalaikan tugasnya

    Fungsi Pengawasan Bonto Ogena
    Pasal 9 B
    1. Bonto Ogena mengawasi secara kewilayanan yaitu dari 72 kadie tersebut wilayah pale matanaeyo dan wilayah pale sukanaeyo.
    2. Bonto Ogena juga diberi kewenangan atas Matana Sorumba yang bertugas mengamankan wilayah Kadie. Matana Sorumba adalah bertanggung jawab atas pertahanan keamanan dalam wilyah Kadie
    3. Bonto Ogena melakukan pengawasan terhadap Sultan melalui Bontona Gampikaro. Bonto Gampikaro inilah yang akan melaporkan kepada Bonto Ogena, jika Sultan melakukan tindakan yang bertentangan dengan ketentuan syara. Sehingga Bontona Gampikaro ini memiliki dua fungsi yaitu sebagai pengawas sultan karena bertanggung jawab kepada Bonto Ogena dan fungsi kedua adalah bertugas sebagai ajudan Sultan.

    Fungsi Bonto Ogena Sebagai Dewan Pertimbangan
    Pasal 9 C
    1. Bonto Ogena merupakan tempat para pejabat bertanya jika ada hal-hal yang kurang difahami.
    2. Bonto Ogena mempunyai hubungan fungsional dan konsultatif dengan badan Majelis Syara (Sio Limbona) yang merupakan lembaga Majelis Permusyawaratan (Bonto Ogena Sandar menyandar dengan Sio Limbona).
    3. Bonto Ogena memiliki beberapa unit staf yang membantu tugas-tugasnya yaitu Bonto Inunca (berjumlah 11 orang), Bonto Lencina Kanjawari yaitu Bonto urusan luar (berjumlah 8 orang) dan Tolambo Talombo adalah pembantu dari Bonto Ogena, yang masing-masing Bonto Ogena diperbantukan 3 orang. Tugasnya adalah menurut apa yang diperintahkan oleh Bonto Ogena terutama di dalam pengumpulan weti (pajak) dari setiap kadie di dalam kesultanan Buton

    S I O L I M B O NA
    Pasal 10
    Kewajiban Sio Limbona Terhadap Masyarakat Umum
    1. Menanamkan budi pekerti dan akhlak serta perangai terpuji pada masyarakat umumnya agar setiap manusia insyaf serta faham betul tentang perikemanusiaannya.
    2. Sio Limbona bertidak juga sebagai ulama dalam Syara Buton yang menjadi pemimpin dan penasehat bagi rakyat umum.
    3. Sio Limbona menjadi pemerhati dan pengawas terhadap masyarakat umum, mengawasi masyarkat kesultanan agar tidak melakukan Itikad atau adab kesopanan yang salah. Itikad/adab kesopanan yang salah tersebut terdiri atas tiga perkara yaitu :[2]
    a. Periberpakaian yang berdasar atas kebanggaan (kesombongan).
    b. Perilaku/gerak gerik yang berdasar atas kebanggaan (kesombongan).
    c. Peri mengeluarkan tutur kata/bahasa yang berdasar atas kebanggaan (kesombongan).

    Kedudukan Sio Limbona Sebagai Majelis Syara (Parlemen)
    Pasal 10 A
    Kedudukan Sio Limbona sebagai Majelis Syara (Parlemen) adalah menetapkan dan dapat memecat pejabat tinggi kesultanan (Sultan, sapati, kenepulu, kapitalao) melalui prosdur adat. Sio limbona dalam melaksanakan fungsi sebagai Majelis Syara juga oleh Bonto Ogena. Adapun kewajiban dasar Sio Limbona dalam Kedudukannya sebagai Majelis Syara adalah sebagai berikut :
    1. Mengetahui hubungannya dengan Sultan adalah sebagai bersaudara yakni Sio Limbona 9 (sembilan) orang, artinya dalam hubungan adat seolah-olah mereka bersaudara sembilan orang dan di tambah satu orang yaitu Sultan sehingga genaplah menjadi 10 (sepuluh) orang dengan Sultan.
    2. Mengetahui segala hal ihwal pangka-pangka atau jabatan (pegawai) tinggi atau besar.
    3. Mengetahui apa yang di sebut dengan kamhoru-mhoru talupalena atau Bumbuna talu anguna yaitu Kaomu Tanailandu, Kaomu Tapi-Tapi dan Kaomu Kumbewaha.
    4. Mengetahui pulanga (hak-hak) kaum walaka dan kaomu, tidak boleh dipertukarkan.
    5. Mengetahui segala persoalan atau hal ihwal yang menyebabkan orang-orang pembesar atau pejabat kerajaan melakukan suatu pelanggaran hukum.
    6. Mengetahui kesalahan syara (lembaga adat) baik kecil maupun besar.
    7. Mengetahui matalapu (pelanggaran kesopanan dan ketertiban).
    8. Mengetahui segala ketentuan syara yaitu bentuk perundang-undangan baik lahiriyah (syariatnya) maupun bathiniyah (hakekatnya), dan menjadi suri teladan bagi masyarakat pada umumnya.
    9. Sio Limbona berhak menegur dan memberikan nasehat kepada siapaun, apabila terlihat mempermainkan atau melanggar adat atau aturan perundang-undangan mengenai adat kesopanan baik golongan kaomu maupun walaka.
    10. Sio Limbona bertindak juga sebagai ulama syara (ulama tis atun sarana wolio) dalam syara Buton dan menjadi pimpinan dalam adat istiadat Buton.
    11. Wajib memahami atau mengetahui dasar-dasar pokok syara yang empat perkara (pomae-maeka, poamaa-masiaka, poangka-angkata dan popia-piara). Serta mengetahui segala sesuatu yang membinasakan keempat perkara sebagaimana yang terdapat pada ketentuan pasal I Konstitusi Murtabat Tujuh.
    12. Mengetahui segala ajal atau bentuk pengangkatan dan pemecatan pegawai kerajaan.
    13. Wajib mengetahui dasar-dasar peradilan dalam kadie yaitu perkara yang diputuskan di Galampa (rumah tunggu) bagi bonto dan bobato.
    14. harus mengetahui isi dan maksud dari syara waluanguna yang menjadi kewajiban Sapati
    15. harus mengetahui kewajiban Bonto Ogena yang 9 (sembilan) perkara, serta isi kabbintingia. Tidak boleh dipertukarkan kepentingan Syara terhadap Sultan, Sapati dan Kenepulu, sebab kalau dipertukarkan maka akan menjadi ajal bagi kelepasan atau pemecatan Bonto Ogena.
    16. Wajib mengetahui segala kepentingan galampa-galampa (pendopo/ruang tunggu) dari Syara Hukumu, yaitu galampa bidang keagamaan, galampa sahabandara (penguasa pelabuhan) dan mengetahui segala pembicaraan yang berhubungan dean Sultan, Sapati, Kenepulu dan Bonto Ogena.
    17. harus mengetahui bahwa Bonto Ogena adalah tempat persandaran yang teguh, demikian pula sebaliknya dengan Bonto Ogena saling bahu membahu dalam menjalankan peraturan perundang-undangan Syara Buton.
    18. khusus tugas dan kewajiban bonto peropa dan bonto baluwu, sebagai salah satu unsur sio limbona, adalah mengetahui tuturaka ialah peraturan-peraturan terhadap Sultan, mengetahui isi yang Syara 12 perkara yang diperuntukan kepada Sultan, tentang banyak, isi dan rahasia yang terkandung didalamnya.

    Hubungan Tata Kerja antara Sio Limbona dengan Bonto Ogena
    Pasal 10 B
    1. Sio Limbona juga berlaku sebagai tunggu-unggu dari kadie yang di kepalainya. Menteri Peropa dan menteri Baluwu disebut juga dalam adat manggedaina laki Wolio, karena hubungannya yang erat sekali dengan Sultan.
    2. Sio Limbona harus mengetahui bahwa Bonto Ogena itulah tempat popasandaki (‘saling menopang) terhadap peraturan-peraturan syara Buton: “aporomu yinda posaangu apogaa yindaa kolola” artinya bersatu tiada terpatri, bercerai tiada berantara/berjarak.Maksudnya, jika sekiranya Bonto Ogena bertindak sesuai dengan ketentuan Syara (peraturan perundang-undangan) maka itulah yang menjadikan teguhnya persatuan dan kesatuan dengan Sio Limbona. Namun, jika sekiranya Bonto Ogena bertindak tidak sesuai dengan ketentuan syara, maka itulah yang menyebabkan perceraian diantara mereka. Begitupula sekiranya Sio Limbona bertindak tidak sesuai dengan adat dan syara mengakibatkan kejatuhan Sio Limbona. Dan bilamana berjalan sesuai aturan perundang-undangan maka itulah yang menjadikan hubungan mereka kekal.
    3. Semua ketetapan yang telah diambil oleh Bonto Ogena yang telah disampaikan kepada Sapati. Sio Limbona wajib menelitinya apakah sesuai dengan ketentuan syara (peraturan perundang-undangan) atau tidak. Bilamana keputusan yang telah diambil oleh Bonto Ogena itu tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan maka Sio Limbona wajib menyampaikan kepada Sapati, agar Sapati menegur Bonto Ogena.
    4. Syara tidak boleh menghadapi suatu perkara sendiri tetapi harus dimusyawarahkan bersama. Seperti perahu tidak boleh berlayar sebilah atau sepenggal papan saja, perahu itu berlayar harus utuh. Sekalian keputusan perkara diceritakan oleh Bonto Ogena pada Sapauh dalam hal ini Sio Limhona memperhatikan apakah sesuai dengan syara atau tidak. Kalau sekiranya tidak sesuai, Sio Limbona mengunjungi Sapati agar Bonto Ogena dipersalahkan.
    5. Sio Limbona juga diwajibkan mengawasi kewajiban Bontona Dete dan bomona Katapai mengenai alat-alat kebesyaran Sultan yang diserahkan oleh Bontona Baluwu dan Bontona Peropa yang menjadi kewajiban Bontona Dete dan Boniona Katapi, berkurang atau berlebih, itulah yang ditegur oleh Sio Limbona. Jika sekiranya berkurang atau lebih pakaian Sultan, Bontona Dete dan Katapilah yang dipersalahkan.
    6. Sultan diibaratkan sebagai anak kecil duduk dihadapan Bonbona Dete dan Katapi serta Bontona Gampikaro sebab itu Sultan dalam perkara, diberikan baru menerima, disuap baru membuka mulut. Umpama diberikan nyala api Sultan tidak hangus, yang hangus adalah yang memberi, walaupun disuap pakai racun Sultan tidak mati tetapi yang mati adalah yang menyuapinya artinya bilamana penerangan Bontona Dete dan Katapi atau Boruo Gainpikaro terhadap Sultan tidak sesuai dengan adat maka merekalah yang menanggung kesalahannya.
    7. Sio limbona berhak mengawasi kewajiban Bontona Dete dan Katapi seperti dalam hal popene artinya membawa keberatan ke kamali. Sekiranya seorang maradika yang popene atau popenenya budak banyak orang atau budak pangkat atau budak Sio Limbona diselidikinya mana yang layak dibuka dilanjutkan atau yang tidak dilanjutkan. Orang-orang popene lebih dahulu membawa keberatannya pada Bonto Ogena. Bonto Ogena menimbang jika sekiranya keberatannya itu sudah cukup syarat-syaratnya untuk dilanjutkan maka popene itu disuruh menghadap ke kamali. Akan tetapi kalau belum cukup keterangan, Bonto Ogena serta si popene bersama-sama datang ke kantor Sapati, lalu memanggil Sio Limbona untuk memberi nasehat.
    8. Kaitan kewajiban Bonto Ogena dengan Sapati yaitu sesudah perkara diselidiki dengan seksama oleh Bonto Ogena lalu diajukan kepada Sapati untuk di sahkan. Bila suatu keputusan bertentangan dengan undang-undang atau syara Buton yang menanggung kesalahannya bukan Sultan melainkan Bonto Ogena karena jikalau Bonto Ogena memberikan nyala api atau disuap dengan racun, Bonto Ogenalah semata-mata yang menanggung bahayanya.
    BAB IV
    HIERARKI HUKUM DALAM PERMUSYAWARATAN SYARA OGENA

    Dasar kewajiban syara dalam permusyawaratan
    Pasal 11
    Pokok adat yang menjadi dasar hukum dalam Syara Ogena atau Syara Wolio tersebut di sebut dengan “Bambana Tana” artinya pintu tanah. Dasar kewajiban Syara tersebut juga merupakan dasar hukum dalam melakukan suatu permusyawaratan atau pertimbangan hukum yang terdiri atas atas empat dasar hierarki yaitu Syara (undang-undang), Tuturaka (Peraturan), Bitara (Keputusan) dan Gau (Politik). Adapun Uraian keempat dasar hukum tersebut yaitu :

    1. Syara (Undang-Undang)
    Syara (undang-undang) adalah segala keputusan atas dasar permusyawaratan yang bulat dari Syara. Keputusan tersebut berasal dari hak inisiatif Sultan dengan tujuan untuk mengeluarkan suatu keputusan demi kepentingan umum atau rakyat banyak. Hak usul inisiatif sultan tersebut dilegitimasi melalui tiga proses penegasan yaitu :
    a. Basarapu artinya fundasi yang kuat atau menanam tiang kekuatan agar tidak goyah sehingga permufakatan tidak berubah. Basarapu pada dasarnya adalah bentuk undang-undang yang dikeluarkan oleh Sri Sultan yang bertujuan menuju kebaikan rakyat di dalam dan di luar negara. Sultan mempunyai hak untuk meletakkan dasar kebijakaksanaannya agar tidak berubah-rubah.
    b. Salambi artinya simpul ikatan dengan maksud bahwa suatu permufakatan antara rakyat ataupun lembaga-lembaga adat telah mendapatkan persetujuan dari Sultan. Hasil permufakatan tersebut kemudian di simpul dalam ikatan yang satu oleh Sultan dengan tujuan adanya legalitas yang kuat atas hasil permufakatan bersama tersebut.
    c. Untuk mempertahankan basarapu dan kasalambi tersebut maka dibuatlah Dolango yang artinya penahan yang teguh dan kokoh untuk melindungi dan mempertahan hasil-hasil keputusan atau permufakatan atau undang-undang tersebut agar selalu dipertahankan dan barang siapa yang merubahnya makan akan menjadi hancur binasa.

    2. Tuturaka (Peraturan)
    Tuturaka (peraturan) yaitu, perhiasan atau kelengkapan syara artinya, suatu tanda atau atribut yang menunjukkan seseorang itu adalah pegawai atau pejabat negara. Dengan demikian rakyat dapat mengetahui kedudukan dan dasar kewenangan para pagawai dan pembesar kesultanan melalui cara berpakaian dan kelngkapan/perhiasannya sehingga tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan tinggi rendahnya kedudukan atau dasar kewenangannya. Tuturaka ini bertujuan agar pejabat negara tersebut tidak berperilaku menyimpang dan berkata-kata yang tidak sesuai dengan derajat kedudukannya.

    3. Bitara (Keputusan/Pengadilan)
    Bitara (keputusan atau pengadilan). Maksudnya, dalam mengambil keputusan aau menyelesaikan suatu perkara atau perselisihan diwajibkan bertindak dan bersikap adil, artinya ketika ada persengketaan atau perkara kenegaraan maka harus senantiasa diselesaikan secara adil, dengan tidak pandang bulu, sekalipun orang besar maupun orang kecil, lebih-lebih karena adanya hubungan persaudaraan dan lain sebagainya. Fungsi ini bertujuan agar terjadi supremasi hukum.

    4. Gau (Politik)
    Gau (politik), asal permulaan segala peraturan negeri berasal dan permufakatan terdahulu yang dikutip dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Dengan demikian Gau adalah proses politik yang mengutamakan kepentingan negara yang berasal dari permufakatan terdahulu (yurisprudensi) yang dapat diambil hikmahnya oleh pembesar negeri menuju kebaikan negeri yang tentunya berdasarkan Al-Qur’an dan hadits nabi.

    BAB V
    PROSEDUR PERSIDANGAN SYARA

    Persiapan Persidagan dan Musyawarah Majelis Syara
    Pasal 12

    Persiapan Persidagan dan Musyawarah Majelis Syara yaitu :

    1. Apabila Bonto Gampikaro telah mendapat instruksi musyawarah dan Sultan bersama anggota syara, gampikaro menugaskan mokimina pangana untuk menyiapkan keseluruhan perlengkapan seperti rokok minuman dan penganan. Setelah siap dilanjutkan dengan popaliki (mengundang) seluruh syara kerajaan. Popaliki senantiasa dijalankan mulai dan pejabat yang terendah sampai pada pejabat yang tertinggi. Demikian pula dengan kehadiran para undangan, pejabat terendah lebih awal kehadirannya lalu disusul oleh kehadiran para pejabat tinggi hingga Sapati. Ruangan musyawarah dipasangi kelambu dan langit-langit oleh gampikaro, demikian pula tempat duduk dan Sultan beserta kelengkapannya menjadi kewajiban belobaruga. Apabila permadani telah dibuka (atobakemo), menteri gampikaro memerintahkan belobaruga agar tidak meninggalkan ruangan musyawarah.

    2. Apabila undangan keseluruhan telah hadir, salah seorang belobaruga menghadap Sultan atas perintah Bonto Gampikaro untuk menyampaikan bahwa syara sudah berkumpul dan siap mengikuti musyawarah.

    Tata Tertib Musyawarah
    Pasal 12 A
    Tata Tertib pelaksanaan persidangan atau musyawarah yaitu :

    1. Tempat musyawarah disebut baruga atau galampa syara
    2. Sebelum pertemuan secara resmi, terlebih dahulu diadakan pertemuan awal yang bertujuan untuk memudahkan dan mendapatkan bayangan keputusan yang akan diambil dan tidak memakan waktu lama
    3. Dalam musyawarah pertimbangan-pertimbangan senantiasa dimulai dari bawah, dan pejabat terendah sampai berturut-turut ke atas sampai pada akhimya keputusan yang keluar dari Sultan. Keputusan ini disebut kambotu
    4. Anggota Sio Limbona, dalam berbicara selalu menggunakan perkataan “katauku” apabila memberikan suatu keterangan atau penjelasan mengenai adat istiadat sepanjang apa yang menjadi kewajibannya. Dengan kata lain keterangan Sio Limbona itu sudah mutlak benar sesuai dengan adat. Sebaliknya bagi pejabat lain untuk mengeluarkan pendapat menggunakan perkatan ‘salah katauku” yang artinya kalau tidak salah/menurut hemat saya. Maksudnya dalam memberikan keterangan belum pasti benar menurut adat.

    Tata Tertib Tempat Duduk
    Pasal 12 B
    Tempat duduk orang-orang besar kerajaan yang disebut pangka tidak berubah-rubah, demikian pula tempat duduk dan para Bonto. Lain halnya dengan posisi tempat duduk para Bobato posisi duduk tergantung pada tingkat umur, yang tertua duduk bagian atas. Suatu pengecualian bagi Bobato yang disebut bobato baana meja yaitu lakina Kamaru dan lakina Batauga.

    BAB VI
    STRUKTUR PEMERINTAHAN SARA KIDINA/AGAMA

    Syara Kidina atau Syara Agama adalah struktur tata laksana keagamaan atau lembaga yang mengurus masalah keagamaan, sehingga kedudukannya merangkap sebagai aparat Mesjid Keraton Buton, struktur syara kidina ini juga di ambil dari tamsil murtabat tujuh. Kedudukan syara kidina adalah bersifat otonom sebab di beri kuasa dan petunjuk dari Kesultanan dengan kewenangan dalam menyelesaikan sengketa keagamaan, dengan lembaga peradilan yang disebut Syarana Agama. Adapun struktur Sara kidina adalah sebagai berikut :

    1. Lakina Agama berasal dari golongan Kaumu.
    2. Imamu berasal dari golongan Kaumu
    3. Khatibi berasal dari golongan Walaka.
    4. Moji, berasal dari golongan Walaka
    5. Bisa Patamiana dari golongan Walaka dan jabatannya turun temurun.
    6. Tunguna Aba, berasal dari Walaka
    7. Mokimu berasal dari Walaka.

    Tugas Dan Kewajiban Syara Kidina
    Pasal 13
    Syara Kidina/syara agama karena mengurus masalah keagamaan, syara kidina dalam penguraiannya bersifat otonom. Sara kidina atau sara agama ini merupakan struktur tata laksana keagamaan, yang anggotanya adalah sekaligus merangkap sebagai syara mesjid Agung Keraton. Sara Kidina juga berfungsi sebagai lembaga peradilan, menagani kasus nikah, talak, dan rujuk dan petunjuk Syara Kesultanan. Adapun kedudukan dan tugas dari pada pejabat syara kididna adalah:

    1. Lakina Agama adalah sebagai pemimpin umum keagamaan. Lakina Agama mengepalai seluruh aparat keagamaan dalam kesultanan. Bertugas memberikan penerangan/bimbingan agama, nasehat keagamaan kepada Sultan. Lakina memiliki fungsi koordinasi atau penghubung syara wolio (sultan) dengan aparat pejabat syara kidina.
    2. Imam, bertugas memimpin ibadah dalam mesjid keraton dan sebagai pemimpin keagamaan dalam suatu kadie. Imam di pilih berdasarkan ke dalam pengetahuannya di bidang agama. Menagani perkara nikah, talak-rujuk, dan lainnya. Imam diteladankan sebagai sultan bhatin masyarakat Buton. Imam merupakan kepala pemerintahan dalam menjalankan agama Islam. Imam tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin sholat dalam mesjid keraton melainkan bertindak sebagai penghulu dalam masyarakat.
    3. Khatib, berjumlah 4 orang. Khatib bertugas menggantikan Imam bila imam berhalangan. Khaib juga bertugas sebagai juru penerang/khotbah dan menjadi juru dakwah Sultan bagi seluruh masyarakat Buton.
    4. Moji (Bilal) berjumlah 10 orang, pendamping khatib. Bertugas di mesjid setiap waktu dan pada upacara-upacara keagamaan dan guru dalam pendidikan agama.
    5. Bisa Patamiana disebut juga ahli kebatinan kesultanan. Bisa ini berjumlah empat orang yaitu Mojina Silea, Mojina Peropa, Mojina Kalau, dan Mojina Waberongalu. Jabatan mereka tidak diubah-ubah yang merupakan jabatan seumur hidup, dimana pengangkatannya melalui turun temurun. Adapun tugas mereka menjaga dan mengawas musuh kesultanan yang datanya dari luar maupun dari dalam kesultanan melalui ilmu kebatinan keislaman yang mereka miliki. Mencegah terjadinya wabah penyakit dan hal-hal lain yang dapat menjatuhkan negeri dari malapetaka atau kehancuran.
    6. Tungguna Aba berfungsi sebagai pengawas dan penasehat imam, dalam hal sah atu batal, bertindak sebagai hakim dan penuntut untuk melakukan pemberhentian dan pergantian dari semua aparat mesjid. Ada juga yang disebut dengan Tungguna Toba bertugas sebagai bendahara syara kidina dan Tungguna Bula bertugas sebagai pengawas dan peredaran bulan.
    7. Mokimu, berjumlah 40 orang, sebagai pendamping khatib dan moji yang bertugas dalam menjid dan upacara-upacara keagamaan dan kesultanan. Mokimu dipimpin oleh yang bertugas sebagai, asisten atau staf dalam syarana agama. Mokimu juga bertugas sebagai pelaksana hukum dera atau rajam kepada orang yang berbuat zina menurut ketentuan adat istiadat Buton.

    BAB VII
    LEMBAGA PERADILAN

    Dalam kesultanan Buton terbagi atas dua lembaga peradilan yaitu mahkamah syara wolio dan mahkamah syara kidina/agama. Personil peradilan syara wolio adalah sultan, sapati, kenepulu, bonto ogena, sabandara, sio limbona. Fungsi peradian syarana wolio ini secara umum dipegang oleh Sapati dan Kenepulu. Dalam wilayah kadie dipimpin oleh bonto, bobato dan parabela. Sedangan personil peradilan syara kidina/agama yaitu sultan, lakina agama, imam keraton, khatib, moji dan mokimu.[3]

    Peradilan Syarana Wolio/Adat
    Pasal 14
    Peradilan Syarana Wolio[4] disebut juga peradilan adat yang bersifat umum yaitu menagani masalah pidana dan perdata. Namun secara umum menangani atau khusus mengadili masalah-masalah tata usaha negara dan peradilan aparatur negara dalam pemerintahan pusat. Hakim dan peradilan syrana hukumu ini bersifa ad hoc, dimana hakimnya ditentukan melalui rapat kesepakatan Majelis. Para hakim dalam syarana hukumu tersebut adalah hakim yang dibentuk melalui para pakar hukum kesultanan yang dalam proses peradilan hakim-hakim yang terpilih tersebut bersifat Juri (hakim yang di pilih berdasarkan keahliannya atau dari pakar hukum yang mengetahui dasar-dasar hukum yang diperkarakan).

    Peradilan Syara Kidina/Hukumu (Peradilan Agama)
    Pasal 14 A
    Peradilan Syara Kidina disebut juga syarana hukumu adalah Badan peradilan Agama yang khusus mengadili masalah-masalah thalak, rujuk, fasakh, dan pembagian warisan. Sebagai pedoman penyelesaian perkara-perkara tersebut maka ada buku pedoman yang disebut makhaani atau kitabhi nikaha. Secara keseluruhan dasar hukum yang digunakan adalah berdasarkan hukum Islam.

    Tahap-Tahap Penyelesaian Perkara
    Pasal 14 B
    1. Tahap perdamaian. Juru damai bertugas mendamaikan terlebih dulu kasus-kasus yang dipersengketan, sebelum diajukan dihadapan peradilan. Tahap perdamaian dilakukan pada kasus-kasus keperdataan, seperti, pembagian harta warisan dan segala sengketa atau perselisihan yang bersifat perdata. Tahap perdamaiaan atau juru damai dilakukan oleh para aparat kesultanan diantaranya yaitu Wati, Parabela, Bonto dan Bobato. Keempat juru damai tersebut mempunyai batas-batas tugas atau kewenangan yang diatur dalam adat istiadatul azali.

    2. Tahap pemeriksaan, tahap pemeriksaan pada kasus pidana dan perdata yang ditangani oleh peradilan syarana wolio atau peradilan adat dilakukan oleh Sapati atau kenepulu, Bonto Ogena dan Sio Limbona. Sedangkan pada peradilan syarana kidina atau syarana hukumu, dilakukan oleh Lakina agama, imam, khatib ataupun moji.

    3. Tahap peradilan pertama, putusan perkara dapat dilakukan oleh :
    a. Tahap peradilan tingkat pertama, diputuskan oleh Sapati, dan dapat digantikan oleh kenepulu, jika sapati berhalangan atau tidak hadir. Namun secara kolektif yang menjalankan fungsi peradilan yaitu sapati, kenepulu, bonto ogena dan sio limbona dalam kasus pidana atau perdata. Sapati berfungsi ketua badan peradilan. Kenepulu berfungsi memimpin jalannya pemeriksaan. Sio Limbona berfungsi untuk mengawasi sultan, sapati atau kenepulu agar tetap berada pada rel keadilan, juga selaku advitsor (penasehat) baik pada sapati (tahap putusan pertama) dan sultan (tahap banding). Bonto Ogena berfungsi sebagai dewan pertimbangan hukum untuk menilai dan memproses apakah perkara yang akan diajukan dihadapan sapati atau sultan sudah mencukupi alasan dan dasar hukum nya, dan bersama sio limbona memberikan nasehat kepada penggugat atau tergugat.
    b. Pada peradilan hukumu, putusan perkara dapat dilakukan oleh Lakina agama, imam, khatib, sesuai dengan perkara-perkara yang menjadi hak kemenangannya, sehingga masing-masing person dapat menyelsainkan perkara pada tingkat pertama.

    4. Tahap Banding (peradilan tingkat tinggi), apabila perkara-perkara, baik itu dalam peradilan adat maupun peradilan hukumu tidak dapat diselesaikan atau para terdakwa merasa belum mendapatkan keadilan maka dapat melakukan upaya hukum banding yang langsung diserahkan kepada Sultan.

    Sumber Hukum Dalam Penyelesaian Perkara
    Pasal 14 C
    1. Sumber hukum tertulis yaitu; Faraid, Mahafani, Murtabat tujuh, dan Istiadatul azali.
    2. Sumber hukum tidak tertulis yaitu; hukum islam secara umum (Al-Quran dan Hadist), hukum adat (hasil-hasil putusan adat terdahulu/yurispdensi maupun konvensi ketatanegaraan dan Ijtihad atau kebijaksanaan yang dilakukan Sultan.

    BAB VIII
    PEMENCARAN KEKUASAAN

    Pemencaran kekuasaan dalam wilayah kesultanan Buton di bagi atas tiga wilayah kekuasaan yaitu wilayah pemerintahan pusat (Wolio), wilayah pemerintahan daerah (Kadie) dan wilayah pemerintahan daerah otonom/federasi (Barata). Pemencaran kekuasaan atas tiga wilayah kekuasaan tersebut diatur oleh undang-undang khusus yang disebut dengan Syarana Wolio, Syarana Kadie dan Syarana Barata.
    Ada tiga wilayah otonom yang tidak masuk dalam Kadie maupun Barata yaitu wilayah Kobaena, merupakan wilayah otonom yang langsung dibawah otoritas pemerintah pusat dibawah koordinasi Sapati. Kemudian wilayah Mornene dan Polean, merupakan wilayah protektorat yang merdeka dan sebagai jiran Sultan Buton. Pemerintahan kesultanan hanya mendudukan seorang gubernur dimasing-masing daerah guna mengkoordinasikan urusan pertahanan dan keamanan negara, yaitu sombamarusu untuk mornene dan bonto wandailolo untuk poleang.

    Pemerintah Pusat (Wolio)
    Pasal 15
    Pemerintahan pusat (Wolio) Pembagian kekuasannya telah diatur dengan undang-undang Wolio atau yang disebut dengan Syarana Wolio. Dalam undang-undang/syarana Wolio, pada dasarnya mengatur wilayah inti atau pemerintahan pusat. Pusat pemerintahan wolio terdapat dalam benteng keraton Buton yaitu Wolio. Wolio adalah pusat administrasi dan birokrasi pemerintahan kesultanan. Sarana Wolio ini sesungguhya adalah yang mengatur pola hubungan tata kerja atau hubungan antar lembaga negara yaitu Sultan, Sapati, Kenepulu dan Kapitalo (sebagai lembaga eksekutif dan legislatif), Majeis/Lembaga Syara yaitu Sio Limbona dan Bonto Ogena, dan Sarana Kidina (lembaga peradilan dalam keagamaan).

    Pemerintah Dearah Kadie
    Pasal 16
    Kadie merupakan daerah setingkat propinsi, pemerintah wilayah kadie masuk kedalam satu kesatuan wilayah dengan pemerintahan wolio. Namun demikian pemerintahan Kadie, juga diatur khusus melalui undang-undang yang di sebut dengan Syarana Kadie. Undang Undang Syarana Kadie ini bertujuan untuk mengatur wilayah kadie atau kampung-kampung yang berada di di luar wilayah keraton Buton yang berjumlah 72 kadie. Adapun struktur pemerintah/syara Kadie yaitu Bonto (walaka), Bobato (kaomu), parabela, panggalasa, wati, kaosa, akanamia, tunggu, dan parabela ogena.

    Tugas dan Kewajiban Syara/Pemerintah Kadie
    Pasal 16 A
    Adapun tugas dan kewajiban syara/pemerintah kadie tersebut adalah :
    1. Syara kadie atau syara kampung bekerja menurut ketentuan khusus, sepanjang tidak bertentangan dan keluar dari ketentuan syara kadienya.
    2. Kadie berkewajiban melaksanakan perintah yang distribusikan oleh Syara Kesultanan (wolio).
    3. Kadie melaksanakan perintah syara kesultanan melalui Tunggu-Tunggu yaitu bobato (lalaki), bonto (walaka). Namun tunggu-tunggu tidak dapat langsung mencampuri urusan pemerintahan Kadie, jika syara kadie masih dapat menyelesaikannya.
    4. Syara Kadie di beri wewenang untuk menyelesaikan perkara yang terjadi dalam kadienya, yang ancaman hukumnya tidak melebihi hukuman 3 (tiga) boga
    5. Kemudian setiap kadie berkewajiban memelihara suatu hutan tertentu yang dinamakan Kaumbu. Untuk menjamin kebutuhan kayu ramuan rumah atau bangunan yang diminta oleh syara kesultanan untuk kebutuhan daripada kadie itu sendiri.
    6. Menghindari persilihan antar Kadie, dan apabila terjadi perselisihan maka masi-masing syara kadie yang berselisih mengadakan pertemuan yang masing-masing didampingi oleh Tungu-Tungunya guna mendapatkan suatu persesuaian dan penyelesaian.

    Pemerintah Daerah Barata
    Pasal 17
    Pemerintahan Barata (otonom) diatur pula secara tersendiri yang disebut dengan Syarana Barata. Barata diberi hak otonom yang luas sehingga barata dapat mengatur rumah tangganya sendiri dengan membentuk peraturan-peraturan pemerintahannya, selama itu tidak bertentangan dengan syara kesultanan Buton. Adapun wilayah barata itu terdiri atas empat wilayah yakni barata muna, kulisusu, tiworo dan kaledupa. Dalam struktur pemerintahan Barata, terlihat pula jabatan-jabatan adat yang nama atau gelarnya seperti dalam Syara Wolio (pemerintahan Pusat Kesultanan), namun susunan jabatan tersebut tidak lengkap seperti dalam Syara Wolio. Kecuali di gabungan semuanya dari ke empat Barata tersebut maka lengkaplah jabatan-jabatannya seperti pada Syara Wolio. Pemerintahan tingkat Barata dikepalai oleh seorang Lakina (raja) yang dianggap setingkat dengan kedudukan sultan di tingkat pemerintahan pusat di Wolio, namun Lakina Barata tidak memiliki hak kelengkapan yang disebut Somba (di sembah) seperti halnya Lakina Wolio (Sultan Buton).

    Kewajiban Utama dari Barata
    Pasal 17 A
    Kewajiban Utama dari Barata adalah:
    1. Menjaga Musuh Kerajaan, dimana Barata selalu siap sedia dengan segala kelengkapan persenjataan baik di darat maupun di laut.
    2. Apabila Barata mendapat serangan maka tiap Barata lebih dulu berusaha menangkisnya dan apabla tidak mapu melawannya baru dapat meminta bantuan kepada syara Buton. karena itu Barata dinamakan “abaluara” artinya penjaga. Yang terdiri atas Wuna, Tiworo, Kolancusu dan Kaledupa.
    3. Apabila ada orang Kumpeni, Bone dan Ternate yang kebetulan hanyut atau pecah perahunya di wilayah Barata, maka sedapat-dapatnya memberikan pertolongan. Kemudian segera di antar ke Syara Kesultanan. Barang-barangnya wajib dilindungi.
    4. Apabila ada pelarian dari luar daerah asal bangsawan, maka harus segera diserahkan kepada Sultan Buton.
    5. Barata tidak berhak menghukum ketiga golongan kamboru-mboru talupalena (tanailandu, tapi-tapi dan kumbewaha), serta anak dari kaum Walak khususnya anak Sio Limbona, kecuali atas izin Peropa dan Baluwu.
    6. Apabila ada hamba dagang yang melarikan diri di wilayah Barata, pihak Barata secepatnya memberitahukan kepada sultan.
    7. Pihak Barata tidak diperkenankan menghukum orang Kumpeni, Bone atau Ternate termasuk sesama orang yang berkulit putih seperti orang Inggris, Portugis dan Perancis. Kecuali melaporkannya kepada Syara Kerajaan Buton.
    8. Pihak pemerintah Barata yang melakukan kunjungan kerja ke negeri Belanda, Bone dan Ternate harus menggunakan surat kuasa sultan yang bercap dari kesultanan Buton.
    9. Apabila ada utusan pemerintah Wolio yang mengadakan kunjungan ke Barata, pihak pemerintah Barata, perlu memperhatikan dan menyiapkan tempat penginapan. Apabila utusan itu membuat kesalahan di Barata, pihak pemerintah Barata tidak dibenarkan langsung menghukumnya kecuali lebih dahulu menyampaikannya kepada pihak pemerintah Wolio perihal kesalahan orang yang diutus itu.
    10. Apabila pihak Barata mendengar ada musuh yang hendak menyerang Wolio, pihak Barata segera menyampaikan kepada pemerintah Wolio perihal itu.
    11. Apabila Kapitalao berkunjung ke setiap Barata perihal penyerbuan musuh atau tugas lainnya, kapitalaolah yang memegang kekuasaan untuk memutuskan semua pembicaraan di dalam wilayah setiap Barata yang dikunjungi, akan tetapi dia tidak dibenarkan melangkahi kekuasan raja di Barata. Demikian pula dengan kunjungan pejabat sapati di Barata.
    12. Apabila ada musuh Wolio di Barata, tidak dibenarkan kapitalao langsung menghadapinya, harus lebih dahulu dihadapi oleh lakina Barata.
    13. Lakina Barata harus bersedia memperbaiki dan membimbing rakyatnya demi kemajuadan kemakmuran dan diberi kewenangan untuk melaksanakan hukuman bagi rakyatnya yang melakukan kesalahan.
    14. Barata harus memperhatikan hal-hal sebagai beriku; pertama, Barata tidak dibenarkan melawan Syara Kesultanan (Peropa dan Baluwu). Kedua, tidak dibenarkan antar Barata saling beselisi dan merampas kemerdekaan satu sama lain. Ketiga, Bila terjadi pertikaian antar barata, maka wajip melapor kepada syara kesultanan untuk diselesaikan dan penyelesaian syara kesultanan bersifat mengikat.
    15. Barata berkewajiban mengadakan patroli pantai dalam kesultanan Buton dan bila perbekalan habis wajib melapor ke syara Buton guna mendapat bantuan, tetapi bila bertemu perahu asing maka tidak dapat mengadakan hubungan tanpa seizin syara kesultanan Buton. Dengan kewajiban Patroli Ini maka Lakina Barata di gelari Kapita Raja Paatamiana artinya Kapitaraja yang empat.
    16. Semua pedagang asing tidak dapat dimintai “lowo” atau suatu pembayaran (bea oleh lakina Barata maupun pembesar Barata lainnya, kecuali telah disetujui oleh Sultan Buton.
    17. Apabila ada masalah besar dari Barata yang perlu disampaikan pada Sultan, maka disampaikan melalui Bonto Gampikaro dan tidak boleh melalui perantaraan yang lain.
    18. Keberanian Lakina Barata mencari musuh pemerintah Wolio, sehingga ia disebut kapitalao yang empat orang (abaluara abarata) karena itu pula ia dapat memakai dayalo tombi pagi.
    19. Orang-orang Belanda berkunjung di Barata, sedapat-dapatnya pemerintah Barata memberikan perlindungan.
    20. Ketentuan Jawana Wuna adalah satu orang hamba dan apabila diuangkan senilai 40 real setiap tahun, jawana Tiworo melalui pemerintah sama dengan jawana Kolencusu yaitu 45 Boka, dana apabila dijadikan orang adalah seorang budak dan 24 lembar kain lankobida, sedangkan jawana Kaledupa 80 real, yang apabila dijadikan orang adalah 2 orang budak. dan ini adalah penghasilan Sultan.

    BAB VIIII
    PERTAHANAN DAN KEAMANAN KESULTANAN

    Sistim pertahanan kesultanan Buton, memakai sistem pertahanan empat penjuru berlapis. Pertahanan utama, dipegang oleh Pata Limbona (empat kampung cikal bakal terbentuknya kerajaan Buton yaitu Barangkatopa, Gundu-Gundu, Peropa dan Baluwu). Pertahanan kedua, adalah benteng pertahanan yaitu benteng keraton Buton yang terdiri atas 12 pintu yang ditambah 1 pintu rahasia dan sebanyak 21 benteng-benteng kecil ditambah dengan pertahanan Bhatin kesultanan —pertahanan lapis ketiga—–yang dipegang oleh Bisa Patamiana atau mojina, dan khusus sultan diperlengkapi dengan Tamburu Limanguna yang bertugas mempertahankan benteng keraton dan menjaga Sultan. Pertahanan lapis keempat dipegang oleh pemerintahan wilayah kadie yang disebut dengan Matana Sorumba (empat daerah mata jarum) dan pertahan lapis keempat dipegang oleh pemerintahan Barata yaitu yang disebut barata pata palena (Muna, Tiworo, Kolencusu dan Kahedupa).

    Pertahanan dan Keamanan Wilayah Wolio (Pemerintah Pusat)
    Pasal 18
    1. Pasukan Kehormatan Sultan yang disebut Tamburu Limanguna. Pasukan merupakan pengawal dan pasukan kehormatan Sultan, terdiri atas lima kelompok yaiu Peropa, Baluwu, Gundu-Gundu, Barangkatopa dan Mawasangka. Setiap kelompok memiliki anggota yaitu :
    a. Seorang Lotunani (letnan)
    b. Seorang Alifarisi (letnan muda)
    c. Empat orang yang bergelar Syaraginti (sersan) dan
    d. Seorang yang bergelar Tamburu.
    Jumlah seluruh Anggota adalah 7 (tujuh) sehingga kelima kelompok tersebut berjumlah 35 orang.
    2. Kompayia Isyara adalah Pasukan inti Kesultanan yang terdiri atas 2 kelompok, yang setiap kelompok terdiri atas 7 orang anggota. Susuanan keanggotaannya sama dengan Tamburu Limanguna. Jumlah anggotanga adalah 14 orang. Kompanyia Isyara ini di bawah pengawasan Sapati atau bertanggung jawab kepada Sapati.
    3. Kompanyia Patanguna adalah pasukan inti atau pasukan siap tempur dan dapat di gunakan ketika kesultanan dalam keadaan bahaya. Susunan keanggotaanya sama dengan Tamburu Limanguna. Jumlah keanggotaanya adalah 28 orang. Kompayia Patanguana ini berada dalam pengawasan Kapitalao. Tamburu Limanguna dan Tamburu Isyara dan Kompanyia Patanguan tersebut merupakan pasukan inti, secara keseluruhan jumlahnya adalah 77 orang. Kompanyia Isyara ini di bawah pengawasan Kapitalao.

    Pertahanan Dalam Wilayah Kadie
    Pasal 18 A
    Matana Sorumba adalah empat daerah yang termasuk dalam wilayah Kadie. Keempat daerah Kadie (Matana Sorumba) tersebut memiliki tugas khusus yaitu sebagai wilayah pertahanan Kesultanan yang terdiri atas empat daerah mata jarum yaitu ;
    1. Watumotobe (menjaga musuh dari timur)
    2. Mawasangka (menjaga musuh dari Barat)
    3. Wabula (menjaga musuh dari selatan) dan
    4. Lapandewa (bertugas menjaga musuh dari utara)

    Pertahanan Dalam Wilayah Barata
    Pasal 18 B

    1. Menjaga Musuh Kerajaan, dimana Barata selalu siap sedia dengan segala kelengkapan persenjataan baik di darat maupun di laut.
    2. Apabila pihak Barata mendengar ada musuh yang hendak menyerang Wolio, pihak Barata segera menyampaikan kepada pemerintah Wolio perihal berita itu.
    3. Apabila Kapitalao berkunjung ke setiap Barata perihal penyerbuan musuh atau tugas lainnya, kapitalaolah yang memegang kekuasaan untuk memutuskan semua pembicaraan di dalam wilayah setiap Barata yang dikunjungi, akan tetapi dia tidak dibenarkan melangkahi kekuasan raja di Barata. Demikian pula dengan kunjungan pejabat sapati di Barata.
    4. Barata berkewajiban mengadakan patroli pantai dalam kesultanan Buton dan bila perbekalan habis wajib melapor ke syara Buton guna mendapat bantuan, tetapi bila bertemu perahu asing maka tidak dapat mengadakan hubungan tanpa seizin syara kesultanan Buton. Dengan kewajiban Patroli Ini maka Lakina Barata di gelari Kapita Raja Paatamiana artinya Kapitaraja yang empat.
    5. Apabila Barata mendapat serangan maka tiap Barata lebih dulu berusaha menangkisnya dan apabla tidak mampu melawannya baru dapat meminta bantuan kepada syara Buton. karena itu Barata dinamakan “abaluara” artinya penjaga. Yang terdiri atas Wuna, Tiworo, Kolancusu dan Kaledupa.

    BAB X
    HAL KEUANGAN

    Pembagian Weti (Pajak) dan Penentuan Gaji
    Pasal 19
    Pada hakekatnya pasal ini memuat ketentuan tentang peraturan penentuan dan pembagian Weti atau pajak. Beberapa macam Weti yang berlaku dalam kesultanan Buton yaitu:
    1. Jawana ialah perongkosan perutusan kerajaan ke Jakarta dan Jawa tiap tahun yang berlaku mulai tahun 1613 setelah adanya hubungan persahabatan dengan kompeni yang dikenal dengan Janji Baana
    2. Jupandana perongkosan perutusan kerajaan yang berangkat ke Ujung pandang pada tiap-tiap tahun
    3. Weti Miana untuk pekerja dalam Keraton dan juga sebagai petugas pada masing-masing pembesar penjaga pintu gerbang. Jabatan ini sewaktu¬waktu dapat dijadikan tentara cadangan (Suludadu,)
    4. Kantahurakana pemberian untuk tunggu dan Bonto Ogena
    5. Sandatana, persediaan perutusan syara kerajaan dalam mengadakan kunjungan kerja ke daerah-daerah kadie, bertujuan agar kedatangan mereka tidak merepotkan pejabat dan masyarakat setempat (tidak membebani masyarakat).
    6. Kalongana dan Bantena ialah pemberian untuk Bonto Ogena atau persembahan pada pesta Sultan dan Sapati
    7. Karandana dan kabuuuna juga merupakan pemberian untuk Bonto Ogena

    Perbandingan Pembagian Penghasilan Pegawai
    19 A
    1. Sultan mendapat seperdua dari seluruh penghasilan kerajaan atau sama dengan 24/48.
    2. Sapati 8/48
    3. Kenepulu 6/48
    4. Kapitaraja/Kapitalau 2 orang masing-masing 4/48
    5. Bonto Ogena 2 orang masing-masing 4/48
    6. Sio Limbona 9 orang, semuanya 2/4
    7. Dan bagi staf kesultanan diatur dalam walu paluna dawuna pada masing-masing kadie.

    BAB XI
    HAK-HAK RAKYAT

    Hak rakyat atas tanah
    Pasal 20
    Adapun beberapa bagian hak yang diperuntukan untuk rakyat, menurut ketentuan syaraa atau hukun adat adalah :
    1. Turakia yaitu hak pakai turun temurun
    2. Katampai yaitu hak milik
    3. Tanah pekuburan
    4. Tanah dalam benteng Keraton
    5. Tanah bebas
    6. Kaombo.

    BAB XI
    LAMBANG NEGARA, BAHASA DAN BENDERA

    Lambang Negara Kesultanan Buton
    Pasal 21
    Lambang kesultanan Buton adalah nenas, pilihan jatuhkepada nenas karena ia mengandung beberapa unsur dan sifat kepemimpinan yang poitif yaitu:
    1. nenas dapat tumbuh dan hidup dimana saja ditanam. Hal tersebut melambangkan sifat-sifat ketahanan dan keuletan dalam perjuangan kehidupan bangsa.
    2. pohonnya walaupun rendah tetapi terkesan kokoh dan gagah perkasa. Mengandung sifat-sifat kepemimpinan yang rendah hati tetapi berjiwa kesatria.
    3. semua daunnya berpinggir gerigi (duri-duri) merupakan pedang dan perisai. Melambangkan sistim pertahanan dan keamanan yang tangguh.
    4. diatas buahnya terdapat mahkota atau payung. Yang melambangkan kebesaran dan kemuliaan.
    5. disekeliling buah bagian bawah tumbuh banyak tunas-tunas muda; mengandung makna yang mudah berkembang biak.
    6. isi atau daging buahnya manis dan berair. Melambangkan kehidupan yang makmur bagi seluruh rakyat.
    7. seluruh kulit buahnya penuh dengan bayangan mata dan telinga. Mengandung pengertian bahwa negara memiliki banyak jalur informasi demi menjaga keutuhan dan kestabilan pemerintah.

    Bahasa Kesultanan Buton
    Pasal 21 A
    Dalam kesultaan Buton yag terdiri atas tiga wilayah kekuasaan yaitu pemerintahan pusat (wolio), pemerintahan kadie dan pemerintahan Barata. Bahasa yang dipergunakan sebagai bahasa persatuan atau bahasa resmi kesultanan adalah bahasa wolio. Setelah masuknya islam, maka ada pengaruh penulisan aksara arab dalam penulisan bahasa wolio, sehingga dalam beberapa naskah, termasuk konstitusi murtabat tujuh ditulis dalam aksara wolio melayu yang berasal dari aksara arab.[5]
    Namun demikian, pada setiap wilayah kadie, maupun wilyah barata dapat mempergunakan bahasa daerahnya dalam pergaulan sehari-hari. Adapun beberapa bahasa dalam masyarakat Buton tersebut bahasa pancana (mawasangka, lakudo, guu, dan sebagian pulau muna), bahasa cia-cia atau Suai (pasarwajo, sampolawa, dan lain-lain), bahasa Moronene (kabaena dan beberapa daerah wilayah tenggara kesultanan Buton), bahasa kamaru, bahasa daerah-daerah kepulauan tukang besi atau wakatobi (wanci, kaledupa, tomia, dan binongko), dan lain-lain. masing-masing.

    Bendera Kesultanan Buton
    Pasal 21 B
    Bendera kerajaan dan kesultanan Buton adalah Bendera Ula-Ula.

  16. LA ODE HUSAIN mengatakan:

    I. RIWAYAT SINGKAT SALINAN QITAB SEJARAH TERJADINYA NEGERI BUTON DAN NEGERI MUNA

    Riwayat singkat salinan qitab atau buku sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna. Qitab atau Buku tersebut Judul aslinya adalah “Assajaru Huliqa Daarul Bathniy Wa Daarul Munajat“, bertuliskan Aksara Arab Gundul tidak Bersanat atau Bertasjid dan kulit Qitab tersebut dilapisi tembaga tipis sehingga pemiliknya menamai Buku Tembaga.
    Qitab atau buku sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna ini pertama kali disalin oleh mantan Qadhy Masjid Agung Keraton Buton yang bernama La Ode Muhammad Ahmadi, pada pemiliknya, yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesias sekaligus menjadi pembimbingnya bernama “Uztaz Akbar Maulana Sayid Abdul Rahman Hadad“ di Gresik pada tahun 1863 M. Ketika menyalin isi qitab tersebut LAOde Muhammad Ahmadi masih lajang, beliau sebagai Juragan perahu layar yang membawa kopra dan biji kemiri dari Pulau Buton ke tanah Jawa (Gresik). Sayid inilah yang mengajar membaca dan menulis aksara Arab dan Al Qur’an sehingga La Ode Muhammad Ahmadi cakap, terampil dan lancer dalam menulis aksara Arab dan Membaca Al Qur’an. Uztaz Akbar Maulana Sayid Abdul Rahman Hadad telah berjasa mengungkap serta mengingatkan pada generasi penerus tentang ketinggian keberadaan Budaya Negeri Buton dan Negeri Muna yang dituangkan dalam Buku Tembaga tersebut.
    Setelah menyelesaikan pelajarannya pada Uztaz Akbar Maulana Sayid Abdul Rahman Hadad, La Ode Muhammad Ahmadi kembali ke Buton, dan qitab yang telah disalin tidak pernah diedarkan pada pihak lain karena menganggap bahwa qitab atau buku tersebut sangat rahasia. Setelah La Ode Muhammad Ahmadi meninggal dunia qitab tersebut diwariskan kepada Putranya yang bernama La Ode Muhammad Amir, beliau adalah mantan Qadhiy Masjid Agung Keraton (Lakina Agama Yi Tambena Lawa).
    Qitab atau buku yang telah diwariskan oleh ayahnya, tetap dirahasiakan oleh La Ode Muhammad Amir, hanya kaum keluarga dan kerabat dekat yang dapat penggalan isinya, sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1954 M. Kemudian salinan qitab atau buku sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna diwariskan lagi pada Putranaya yang bernama La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir, beliau mantan Imam Lipu Malanga atau Wantiro yang disebut sekarang ini. La Ode Muhammad Ahmadi dan La Ode Muhammad Amir selalu merahasiakan tentang keberadaan qitab atau buku salinan sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna. Begitu juga dengan La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir. Tapi atas desakkan dari keluarga dan kerabat dekat agar qitab tersebut diedarkan, maka pada tahun 1984 qitab atau buku salinan sejarah tersebut mulai dikumpulkan dan yang belum sempat disalin kembali telah dihafalkan. Karena terus didesak maka saat ini tahun 1995 qitab atau buku salinan sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna diangkat untuk dijadikan buku, agar masyarakat Buton dan masyarakat Muna dapat mengetahui sejarah yang asli tentang negerinya masing-masing.
    Pada alinea di atas kami katakan bahwa pada tahun 1984 qitab atau buku salinan sejarah tersebut kami kumpulkan, sebenarnya qitab atau buku itu sangat rahasia sehingga orang lain tidak satupun yang mengetahui, hanya kalangan tertentu. Ketika Andi Patiroi berkunjung kerumah Bapak La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir, beliau sedang memindahkan atau menyalin qitab tersebut dari salinan aslinya, karena sudah biasa dan akrab dengan pemilik qitab atau buku tersebut, serta sudah dianggapnya rumah sendiri, andi patiroi tidak sungkan hendak meminjam qitab tersebut untuk mengetahui isinya, bagi pemilik sebetulnya tidak boleh karena isinya sangat rahasia, serta mengingat wasiat kakeknya yakni La Ode Muhammad Ahmadi yang diberitahu oleh pembimbingnya Uztaz Akbar Maulana Sayid Abdul Rahman Hadad yang menirukan kalimat yang pernah diucapkan Imam Ali Bin Abithalib dalam wasiatnya kepada kedua Putranya Hasan dan Husain, bahwa :
    Kusembunyikan isi ma’rifat yang aku ketahui agar yang jahil atau bodoh tidak tersesat karenanya.
    Adakalanya, bila kuungkapkan Mustika ilmu yang aku ketahui pasti aku dituduh sebagai penyembah berhala.
    Dan sebagian Muslimin pun akan menghalalkan darahku, lalu menganggap perbuatan buruk mereka sebagai kebaikan.

    Bagi La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir, qitab tersebut tidak boleh dipinjamkan pada siapapun, yang mana selalu mengingat wasiat dari kakeknya serta mengutip apa yang pernah diucapkan olem Imam Ali bin Abithalib kepada kedua Putranya. Namun Andi Patiroi tetap memaksa dengan menakut-nakuti, yang mana pada saat itu masyarakat Buton diancam apabila ada hak miliknya yang diingini oleh petugas, tidak diberikan akan dituduh terlibat atau dilibatkan sebagai anggota gerakan terlarang (G 30 S PKI).
    Karena khawatir dengan ancaman-ancaman tersebut, dengan berat hati dan dalam keadaan terpaksa Bapak La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir melepas miliknya yang sangat berharga untuk dipinjam oleh Andi Patiroi dengan catatan selesai dibaca harus dikembalikan.
    Mengingat qitab tersebut sangat rahasia dan penting bagi pemiliknya, maka La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir selaku pemilik, minta agar qitab tersebut dikembalikan namun permintaan dari La Ode Muhammad Tanziylu Faizal Amir tidak dihiraukan oleh Andi Patiroi, karena tertarik dengan isi qitab tersebut yang menceritakan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, maka pada tahun 1970-an qitab tersebut dibawa ke Negeri asalnya, tetapi malang baginya sebelum sampai di Negerinya Kapal Motor Harapan Bone yang di tumpanginya karam di telan lautan beserta salinan asli qitab Sejarah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna atau Buku Tembaga.
    Qitab atau buku salinan Sejarah terjadinya Nageri Buton dan Negeri Muna tersebut, mengingatkan masyarakat Buton dan masyarakat Muna ada orang-orang yang pertama mendiami Buton dan Muna serta yang menulis qitab atau buku sejarah tersebut, sehingga kejadian-kejadian yang dialami oleh mereka dapat diketahui oleh anak-anak dan cucu-cucunya sekalipun orang-orang tersebut telah lama meninggal dunia menghadap Sang Pencipta.
    Adapun orang-orang yang menulis qitab atau buku Sejarah tejadinya Negeri Buton dan Negeri Muna ada 10 (sepuluh) orang, dan mereka juga adalah pemimpin manusia yang mula-mula mendiami Negeri Buton pada akhir abad ke XIII.
    Kesepuluh orang tersebut masing-masing bernama :
    1. Si Panjonga 6. Sang Ria Rana (Sangia Ria Rana)
    2. Si Tamanajo 7. Banca Patola (Ndoeku) 3. Si Malui 8. Kaudoro
    4. Si Sajawangkati 9. Raden Jutubun (Baubesi)
    5. Dung Kung Sang Hiang 10. Raden Sibatara (Sabatara)
    (Dungku Cangia)

    Bagi masyarakat Buton dan masyarakat Muna sangat menyesalkan kejadian itu sebab peninggalan Nenek Moyang mereka hilang bersama orang yang tidak berhak menerimanya, tapi tidak perlu berkecil hati walaupun qitab atau buku salinan aslinya telah hilang, isinya sebagian besar telah disalin. Sedangkan yang belum sempat disalin sudah dihafal itu hanya karena kehendak Allah SWT . Amin.

    II. HAKEKAT DAN RAHASIA ASAL KEJADIAN NEGERI
    BUTON DAN NEGERI MUNA

    Hakekat Kejadian Negeri Buton dan Negeri Muna
    Pada tahun III Hijriah atau tepatnya pada tahun 624 M. yang mana Rasulullah Saw selesai mengerjakan shalat Fardhu Subuh berjamaah bersama-sama para Sahabat dan pengikut dari kaum Muhajirin maupun kaum Ansyar dalam Masjid beliau di Madinah (Masjid Quba), seperti biasa selesai mengerjakan shalat Fardhu, para Sahabat, pengikut dari kaum Muhajirin maupun kaum Ansyar tidak langsung pulang ke rumah tetapi masih mendengarkan petuah atau nasehat dari Rasulullah Saw tentang segala hal yang belum mereka ketahui. Tatkala Rasulullah Saw sedang memberikan petuah atau nasehat, tiba-tiba terdengarlah oleh mereka suara dentuman sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut, lalu salah seorang dari sahabat bertanya kepada beliau. “Ya Rasulullah bunyi apakah gerangan tadi ?“ Kemudian Rasulullah Saw menjawab : Sesungguhnya bunyi dentuman yang baru kita dengarkan bersama tadi adalah : Menurut firman Allah SWT yang telah diwahyukan kepada ku melalui Hadits qudsi bahwa “Jauh dari sebelah Timur Arabia ini ada dua gugusan tanah yang telah lama muncul dari permukaan laut untuk memperkenalkan dirinya kepada Dunia”, sedangkan menurut ramalanku “Sabda Rasulullah Saw“ Bahwa manusia yang menjadi penghuni kedua Negeri itu sebagian besar akan mengikuti seruan ku yaitu Beriman dan Bertakwa kepada Alla SWT. Oleh karena itu sebelum kita didahului oleh Bangsa lain untuk menginjakkan kakinya pada kedua Negeri tersebut lebih baik kita yang mendahului”.
    Kemudian Rasulullah Saw mengutus salah seorang sahabatnya untuk mencari kedua Negeri tersebut, akan tetapi sahabat yang ditunjuk oleh Beliau masih merasa takut. Selain itu situasi di Madinah saat itu masih dalam keadaan berkabung karena perang, akhirnya pencarian kedua Negeri tersebut untuk sementara ditangguhkan sambil menunggu keadaan Negeri Madinah normal kembali. Karena gagal dengan penunjukkan salah seorang sahabat serta tidak ingin didahului oleh Bangsa lain, Rasulullah SAW segera mengadakan musyawarah bersama para Sahabatnya membahas rencana pencarian kedua Negeri tersebut. Dalam musyawarah disepakati bahwa akan diutus dua orang bersaudara, saudara Rasulullah saw sendiri yang belum disebutkan namanya.
    Kemudian pada tahun VII (ketujuh) Hijriah Rasulullah Saw mengutus dua orang bersaudara (kakak beradik) saudara Beliau dari Baniy Hasyim untuk mencari kedua Negeri yang dimaksud yaitu masing-masing bernama :
    1. Abdul Gafur ahli Biologi
    2. Abdul Gafar alias Abdul Syukur ahli Antropologi

    Dalam suatu musyawarah yang dihadiri oleh Ali Bin Abithalib bersama istrinya Fatimatuh Zuhra (Fatimah Az–Zahra) serta para kerabat tertentu, dengan keputusan yang telah diambil, Rasulullah Saw pesan kapada semua yang hadir hasil keputusan tersebut tidak disiarkan kepada yang lainnya, sebab apa yang telah dibahas menyangkut ilmu Nabi dan bukan ilmu Rasul. Kemudian Rasulullah Saw berpesan kepada kedua utusan tersebut sebagai sabda yang artinya :
    “Bawalah kedua bendera ini, dan pasanglah pada tiap-tiap Negeri yang saudara-saudara jumpai, adalah sebagai bukti yang menunjukkan bahwa kedua Negeri itu adalah penemuan ku, dan perlu saudara-saudara sama maklumi bahwa hakekat rahasia isi hatiku pada kedua Negeri dimaksud sangat erat dengan keadaan ku, baik dalam bathinia maupun dalam lahiriah, dan ini salah satu titipan sepeninggal ku untuk wariskan kepada generasi penerus yang menjadi penghuni kedua Negeri tersebut. Karena dari Mekkah, Madinah dan kedua Negeri yang dimaksud adalah 4 (empat) Negeri yang akan kusesuaikan dengan susunan rankaian nama ku Muhammad yang empat hurufnya akan kujadikan pula menjadi hakekat rahasia yang terkandung dalam tiap-tiap huruf nama ku menjadi nama keempat Negeri yang dimaksud yaitu : Mekkah, Madinah dan kedua Negeri yang akan dicari oleh saudara-saudara utusan ku”.
    Kemudian Rasulullah Saw bersbda lagi :
    Artinya : Karena menurut rahasia hati ku adalah :
    a. Mekkah itu ku tamsil ibaratkan kepala ku dan makam hakekatnya dikandung huruf MIM, awal dari huruf nama ku Muhammad.
    b. Dan Madinah itu ku tamsil ibaratkan badan ku dan makam hakekatnya dikandung huruf HA dari rangkaian huruf namaku Muhammad.
    c. Dan tanah yang mula-mula di jumpai oleh saudara-saudara utusan ku, adalah kutamsil ibaratkan perut ku dan ku namai dia Bathniy. Artinya : Perut ku sebagaimana tersebut makam hakekatnya dikandung huruf MIM kedua dari rangkaian huruf namaku Muhammad.
    d. Sedangkan tanah yang terakhir dijumpai oleh kedua utusan ku adalah ku tamsil ibaratkan kedua belah kaki ku yaitu Rijalaany, artinya : Kedua belah kaki ku sebagaimana terebut di atas dan makam hakekatnya dikandung huruf DAL dari rangkaian huruf nama ku Muhammad dan ku namai dia Munajat.
    Selanjutnya beliau bersabda lagi ;
    Artinya : “Menurut hakekat rahasia keyakinan hati ku kedua Negeri tersebut ku namai dia masing-masing “Bathniy” dan “Rijalaany“.

    Karena Mekkah itu menurut rahasia keyakinan isi hati ku adalah kutamsil ibaratkan kepala ku, dan kita sama maklumi bahwa tiap-tiap kepala manusia itu mengandung sesuatu makam “Di Maqha“ namanya.
    Di Maqha inilah letaknya Mekkah itu yang ku rangkaikan dengan huruf MIM, awal dari rangkaian huruf nama ku sebagai mana yang saya katakan tadi. Karena di Mekkalah mulai terbuka pikiran ku untuk memperjuangkan kebenaran Islam sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Kemudian Rasulullah Saw bersabda:
    “Wal Makkiyah Wara’suukal Miimil Awali Alaa Suuratil Muhammad“
    Artinya : Mekkah itu adalah kepala ku huruf MIM, awal dari rangkaian nama ku Muhammad.

    Begitu pula dengan Yatsrib atau Madinatun Nabi artinya Kota Nabi, adalah ku tamsil ibaratkan badan ku, karena didalam badan atau dada manusia itu merupakan suatu Maqam yang mengandung hati dalam hakekatnya dikandung huruf HA dari rangkaian huruf nama ku Muhammad. Dan Hadits Rasulullah Saw berbunyi : “Almadaniyah Wal Badaanu Kal Ha Alaa Suurati Muhammad”
    Artinya : Madinah itu adalah dada ku huruf HA, dari rangkaian huruf nama ku Muhammad, dan ku tamsil ibaratkan dada ku.
    Karena dalam sabda beliau yang artinya :
    Dan di Madinah inilah Saya mengumpulkan semua kekuatan, pikiran maupun tenaga dengan tulus dan ikhlas karena Allah SWT, bersama para Sahabat dan pengikut-pengikut ku baik dari kaum Muhajirin maupun dari kaum Ansyar untuk mempertahankan kemegahan Islam yaitu Agama yang benar dan lurus disisi Allah SWT.

    Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi .
    Artinya : Demikian pula Negeri pertama yang dijumpai oleh kedua saudara-saudara utusan ku, saya namai Bathniy atau perut ku, karena semua yang masuk dalam perut itu sebagian melalui jantung. Itulah sebabnya Saya namai Bathniy sebab di Negeri itu merupakan suatu “Hazana“ bagi Ku untuk ku jadikan perbendaharaan penyimpanan hakekat rahasia Agama yang ku perjuangkan. Dan mengenai hubungannya dengan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam hadist Rasulullah Saw yang berbunyi :

    “ Wal Bathniy Kalmiy Mitstsaani Alaa Suurati Muhammad“

    Artinya : Bathniy adalah Negeri Buton huruf MIM kedua dari rangkaian nama ku Muhammad dan ku tamsil ibaratkan sebagai perut ku.
    Dan sabdanya lagi.
    Artinya : Sedangkan Negeri terakhir yang ditemui oleh kedua saudara utusan KU, ku tamsil ibaratkan kedua belah kaki ku dan ku namai Munajat.

    Karena bunyi dentuman yang pertama menandakan bahwa Negeri itulah yang pertama-tama memperkenalkan dirinya kepada dunia, bertepatan dengan bunyi dentuman tersebut Munajat pula doa saya kehadirat Allah SWT untuk memohon Syafaat kepada semua umat pengikut ku dan kumohon petunjuk yang benar bagi manusia yang berada ditempat kejahilan dan kekafiran mudah-mudahan mereka beriman dan taqwa kepada Allah SWT.
    Beliau bersabda lagi :
    “Wal Munajat Rijaalaniy Kal Dal Alaa Suurati Muhammad“
    Artinya : Dan Munajat nama Negeri Muna adalah kedua belah kaki ku huruf DAL rangkaian huruf nama ku Muhammad.

    Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi :
    Artinya : Wahai saudara utusan ku Abdul Gafur dan Abdul Syukur berangkatlah sebagai pelaksanaan Jihat Fisabilillah.

    Kemudian Rasulullah Saw bersabda :
    ”Wala Tahzan Innallaha”
    Artinya : Dan janganlah takut dan gentar Allah SWT bersama kita.
    Kemudian beliau bersabda lagi,
    Artinya : Ambillah kedua bendera ini, dan pasanglah satu-persatu di Negeri yang saudara-saudara jumpai, dan pesan ku pada saudara-saudara laksanakanlah dengan hati yang tulus ikhlas untuk keagungan dan kemuliaan nama saudara–saudara, dan merupakan lambang bukti perjuangan saudara-saudara yang menghiasi lembaran sejarah dikemudian hari. Kemudian kedua utusan tersebut menerima kedua bendera tersebut dari tangan Rasulullah SAW, kedua bendera tersebut berwarna sama yaitu hijau ditulis aksara arab dengan hiasan sulaman benang emas yang berbunyi :
    “La Ilaha Ilallah Muhammadarrasulullah“
    Artinya : Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah atau pesuruh Allah.

    Dengan diiringi doa restu dari Rasulullah Saw, sahabat-sahabat dan keluarga yang ditinggalkan, mudah-mudahan pencarian kedua Negeri oleh kedua utusan dikabulkan oleh Allah SWT, dan kembali ke Negeri Madinah dalam keadaan selamat, maka berangkatlah kedua utusan tersebut meninggalkan Madinah menuju Jeddah untuk mengarungi lautan dan samudra guna mencari kedua Negeri yang diwasiatkan junjungan kita yang mulia Nabi Besar Muhammad Saw, yang dilengkapi dengan hakekat bahtera dan skema hubungan keempat Negeri seperti yang akan disebutkan berikut.
    Kedua utusan Rasulullah Saw tidak langsung menemukan kedua Negeri yang diwasiatkan, tetapi Abdul Gafur dan Abdul Gafar alias Abdul Syukur mengembara kebeberapa Negeri, seperti Negeri Johor, Pasai dan Cina dan masih banyak lagi Negeri-Negeri yang dilewati, tapi tidak diriwayatkan oleh kedua utusan Rasulullah Saw. Sehingga pengembara Abdul Gafur dan Abdul Gafar alias Abdul Syukur mencari kedua Negeri yang diwasiatkan oleh Rasulullah Saw pada mereka memakan waktu kurang lebih 60 tahun.

    Berikut Gambar Skema Hubungan Keempat Negeri Mekkah, Madinah,Bathniy dan Munajat serta Bahtera utusan Rasulullah Saw

    KEPALA AL MAKIYAH atau MEKKAH
    atau
    MEKAH

    BADAN / DADA AL MADANIAH
    atau MADINAH

    SHURAT / PUSAT AL BATHNIY
    P E R U T atau
    B U T O N

    KEDUA BELAH AL MUNAJAT
    K A K I atau
    M U N A

    III. HIKMAH PENEMUAN KEDUA NEGERI OLEH KEDUA UTUSAN RASULULLAH SAW

    Penemuan kedua Negeri oleh utusan Rasulullah Saw tersebut dalam lembaran sejarah Budaya Buton dan Muna, mengenai asal mula terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna seperti diriwayatkan oleh kedua utusan tersebut. Bahwa bertepatan dengan malam Nisif Sya’ban yaitu lima belas malam bulan dilangit yang malam itu bertepatan dengan 60 tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw, berarti telah memasuki abad ke VII saat itulah kedua utusan Rasulullah Saw tiba disuatu Negeri yang belum dihuni oleh manusia.
    Dari kajauhan nampak pleh mereka daratan, yang baru dilihat oleh salah seorang dari kedua utusan tersebut, lalu “Batha Gafura“ artinya Pasir Gafur dan kata yang diucapkan salah seorang utusan Rasulullah Saw diabadikan menjadi sebuah nama kecamatan, yaitu Kecamatan Batauga. Kemudian kedua utusan tadi terus menyusuri pantai dan salah seorang dari kedua utusan tersebut berkata lagi bahwa : Pinggir pantai yang baru kita jumpai ini bagaikan pinggiran pantai Masyira (Mesir), kemudian kakak beradik Abdul Gafur dan Abdul Syukur selaku mendataris dari Rasulullah saw mendarat di Negeri yang baru mereka temukan untuk melakukan penyelidikan.
    Setelah meneliti keadaan Negeri yang baru ditemukan tadi Abdul Gafur menulis pada sebuah batu bunyinya “Masyira“ dengan aksara Arab namun sayang prasasti yang ditulis salah satu utusan Rasulullah Saw yaitu Abdul Gafur hilang karena waktu dan keadaan, dan tulisan tersebut diabadikan menjadi nama sebuah Desa di kecamatan Batauga, yaitu Desa Masiri. Selesai mengintari sekitar pantai dan menulis prasasti pada sebuah batu kedua utusan tersebut mencari dataran tinggi, seharian penuh mereka berjalan, dan setelah matahari terbenam keduanya baru beristirahat sambil melaksanakan shalat Fardhu Magrib, selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu Shalat Fardhu Magrib tiba-tiba terdengar oleh keduanya suara Adzan, kedua utusan Rasulullah Saw kaget sebab di Negeri yang baru mereka temukan belum mempunyai penghuni manusia, lalu kedua utusan tersebut mencari arah datangnya suara yang baru didengarnya, dari kejauhan nampak oleh kedua utusan Rasulullah Saw sebuah lubang menyerupai goa yang masuk lurus kedalam tanah, diamatinya lubang tersebut dengan cermat lalu salah seorang dari kedua utusan berkata, bahwa suara saudara kita “Zubair“ sedang menyuarakan Azan Dhuhur, dan didalam goa itu samar-samar terlihat Hajar Aswad di Mekkah sedang Berzikir. Melihat kenyataan yang demikian kedua utusan tersebut langsung mengerjakan Shalat Fardhu Dhuhur, sekalipun mereka belum lama selesai melaksanakan shalat maghrib, itulah sebabnya masyarakat Buton pada zaman dahulu apabila melaksanakan shalat Idul Fitri atau Idul Adha selalu masuk waktu Lohor (dhuhur) karena bersamaan di Mekkah (kepala), pendengaran dan penglihatan Abdul Gafur dan Abdul Syukur bukan seperti penglihatan dan pendengaran orang kebanyakan, tetapi atas kehendak Allah SWT kedua utusan Rasulullah Saw tersebut, dapat melihat dan mendengar bukan dengan bentuk lahiriah, dari cerita tersebut diatas menjadi sebuah legenda, bahwa : apabila kakek, nenek, ayah dan ibu atau saudara kita yang lain yang sudah meninggal dunia dapat dilihat dilubang tersebut.
    Di mulut goa inilah Abdul Gafur menulis aksara Arab yang berbunyi “Bathn“ dan tulisan tersebut sampai sekarang masih ada, namun telah ditutup oleh pondasi Masjid Agung Keraton Buton, sebagai Muhabat Utama.
    Abdul Gafur dan Abdul Syukur merahasiakan keberadaan gua yang mereka temukan karena penuh rahasia dan merupakan pusat tanah, sehingga masuk diakal apabila Rasulullah Saw menamainya Bathniy atau Perut. Dan disinilah kedua utusa Rasulullah Saw memasang bendera dari Rasulullah Saw, yang sekarang diabadikan menjadi tempat tiang bendera Kerajaan atau Kesultanan Buton.
    Kedua utusan Rasulullah Saw menyimpulkan bahwa Negeri yang baru mereka temukan itu berasal dari segumpal buih air laut dan tanahnya masih muda usianya. Dari daratan Bathniy atau Bathn atau Buton diseberang laut terlihat oleh kedua utusan tadi sebuah daratan, kedua utusan Rasulullah Saw tersebut mendatangi daratan yang dilihat dari daratan Buton, sesampainya ditempat yang mereka tuju, keduanya mengadakan penelitian untuk mengetahui keadaan tanah daratan yang baru mereka temukan, lalu kedua utusan Rasulullah Saw tadi mencari daratan yang lebih tinggi, setibanya di dataran tinggi kedua utusan tadi menemukan batu berbentuk pohon sehingga tempat itu mereka namai “Siratul Hijir“ artinya Pohon Batu.
    Pohon Batu yang diketemukan oleh kedua utusan Rasulullah Saw tumbuhnya dipinggir tebing disinilah Abdul Gafur dan Abdul Syukur memasang bendera Rasulullah Saw seperti yang dipasang pada Negeri yang pertama diketemukan yaitu Negeri Bathniy, serta menulis nama Negeri itu “Munajat“ yang sekarang disebut “Muna“ maksudnya adalah isi hakekat rahasia Mina Kota Arab lama.
    Penelitian yang dilakukan oleh kedua utusan Rasulullah Saw tersebut menyatakan bahwa Negeri Munajat atau Muna asal kejadiannya dari pecahan kabut “ Filiyin “ yang telah pijar, merupakan suatu batu Nuqthah, adalah titik Bah yang penuh berkah merupakan salah satu Iradat Allah SWT.
    Adapun asal kejadian Negeri Buton menurut hasil penyelidikan kedua utusan Rasulullah Saw, adalah berasal dari segumpal Buih yang terdampar di batu Nuqthah tadi, dan atas izin Allah SWT sebagai ”Haliqul Asyai” yang menjadikan alam semesta dan segala isinya, akhirnya Buih yang dimaksud menjadi segumpal tanah. Disimak dari hasil penyelidikan atau penelitian kedua sahabat tadi Negeri Buton lebih mudah dari Negeri Muna, namun yang lebih dulu dihuni oleh manusia adalah Negeri Buton, dan berkahnya melebihi Negeri Muna, sedang penghuni-penghuninya berdatangan dari Semenanjung Melayu Pariyaman dan Saudi Arabia yakni “Qurais Fakhriy“ atau “Wa Kaa–Kaa“ dan masih banyak lagi manusia-manusia keramat dan sakti dari Negeri lain satu diantaranya “Raden Sibatara“ Putra Raja Majapahit Raden Wijaya.
    Buton mempunyai kelebihan karena orang-orang yang pernah menetap adalah Wali-Wali Allah SWT yang alim, selanjutnya orang-orang tersebut menyebar ke berbagai Negeri, seperti kedua utusan Rasulullah Saw yaitu Abdul Gafur dan Abdul Syukur, setelah menetap beberapa saat di Negeri Buton dan Negeri Muna, keduanya kembali pindah ke Negeri Pasai, Johor dan Cina, yang merupakan alur perjalanannya dari Jedah (Mekkah), dan tidak kembali lagi ke Negeri asalnya Madinah seperti harapan keluarganya.

    IV. ASAL MULA MANUSIA PENGHUNI NEGERI BUTON

    Tersebutlah dalam sejarah Budaya Buton tentang manusia yang mula-mula mendiami Negeri Buton adalah orang-orang besar dan sakti, dan kedatangan orang-orang tersebut selalu berkelompok serta bertahap.

    A. KEDATANGAN ARMADA SI PANJONGA DAN ROMBONGANNYA

    “Si Panjonga“ adalah orang sakti berasal dari Suku Melayu di Negeri Pasai. Meninggalkan Negeri asalnya pada tiga likur malam Bulan Sya’ban tahun 634 Hijriah dengan mengajak “Si Tamanajo” sebagai pembantu utamanya serta 40 orang kepala keluarga sebagai pengikutnya.
    Kepergian rombongan besar ini dari Negeri asalnya adalah mencari daerah yang telah diberitakan oleh leluhurnya untuk ditempati. Berbulan-bulan mengarungi lautan dan melewati daratan dengan menggunakan Bahtera namanya “Lakuleba“, diburitan Bahtera yang ditumpangi oleh rombongan besar dikibarkan bendera Kerajaan leluhurnya yang berwarna Hitam putih selang seling, dalam bahasa Buton disebut bendera “Longa–Longa“, nama armada yang digunakan Si Panjonga dan pembantu utamanya serta pengikutnya diabadikan menjadi sebuah nama perkampungan disebuah Desa di Kabupaten Buton yang disebut Desa “Lakaliba“.
    Pada tahun 1236 M, armada Si Panjonga dan pengikutnya mendarat di salah satu daratan Negeri Buton, sesampai di Negeri baru mereka temukan Si panjonga dan rombongannya mencari dataran tinggi untuk membina kaumnya. Agar mudah mengawasi kaumnya serta menjaga kemungkinan dari serangan musuh, rombongan manusia besar dan sakti ini membuat Benteng pada sebuah bukit yang dinamai “Tobe-Tobe“, setelah benteng yang dibuat rampung mereka datang ditempat pertama terdampar dengan maksud mengibarkan bendera Kerajaan leluhurnya, maka dibuatlah lubang yang berada disalah satu tempat yang dikelilingi benteng untuk mengibarkan bendera dimaksud. Tempat pengibaran bendera tersebut dinamai “Sulaa“. Hingga saat ini tempat ini tidak pernah berubah dan diabadikan menjadi nama sebuah Kelurahan yaitu Kelurahan Sulaa di wilayah Kecamatan Betoambari. Hanya saja Benteng tempat pengibaran bendera tersebut telah dirusak oleh tangan- tangan yang tidak bertanggung jawab.
    Setelah pembuatan benteng dan pengibaran bendera selesai dan kehidupan di Tobe-Tobe sudah berjalan baik, Si Panjonga meminta kepada pembantu utamanya Si Tamanajo untuk mengajak sebagian kaum pengikutnya mencari daerah baru sebagai tempat tinggal dan mengembangkan keturunannya.
    Setelah mempersiapkan segala perlengkapan Si Tamanajo dan kaum pengikut yang akan diajak berpamitan kepada pimpinannya Si Panjonga serta rombongan yang ditinggalkan. Selanjutnya rombongan kecil yang dipimpin Si Tamanajo meninggalkan Sulaa tempat pengibaran bendera pimpinannya menuju arah timur menyusuri pantai Buton. Sesampainya di teluk Bungi Todanga yang sekarang wilayah Kecamatan Kapontori, mereka melihat-lihat keadaan Daerah tersebut sambil beristirahat. Kemudian rombongan tersebut melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu dataran tinggi yang berada di sebelah Timur Laut dari tempat kediaman pimpinannya Si Panjonga di Tobe-Tobe.
    Oleh karena dataran tinggi yang baru diketemukan oleh Si Tamanajo dan rombongan sangat bagus untuk pemukiman, maka rombongan ini mengakhiri perjalanannya dengan membuat perkampungan serta benteng pertahanan di puncak gunung yang sebutnya “Lambelu“, serta menamai bentengnya “Kamosope“.
    Benteng tersebut sampai sekarang masih ada dilengkapi 2 (dua) pucuk meriam yang posisinya berlawanan arah. Satu pucuk moncongnya mengarah ke sebelah Barat dan moncong yang satunya mengarah ke sebelah Utara.
    Setelah perkampungan dan pembuatan Benteng selesai Si Tamanajo memerintahkan kepada rombongannya untuk membuat lubang pengibaran bendera Kerajaan leluhurnya sama dengan yang dikibarkan oleh pimpinannya di Sulaa yaitu Bendera Longa-Longa.

    B. KEDATANGAN ARMADA SI MALUI DAN ROMBONGANNYA

    Kedatangan manusia kedua di Negeri Buton disebutkan dalam sejarah Budaya Buton adalah manusia sakti bernama “Si Malui“ dan adiknya bernam “Si Baana” serta pembantu utamanya “Si Sajawangkati“.
    Si Malui berasal dari daerah Bumbu Negeri Melayu Pariyaman, meninggalkan Negeri asalnya pada lima belas hari bulan Sya’ban tahun 634 Hijriah. Sama seperti halnya Si Panjonga, Si Malui membawa rombongan 40 (empat puluh) orang kepala keluarga sebagai pengikutnya. Berbulan-bulan lamanya mengarungi lautan dan melewati daratan dengan tumpangnya yang dinamai “Popangua“ di buritan Bahtera yang mereka tumpangi dkibarkan bendera Kerajaan leluhurnya yang berwarna Kuning hitam selang seling di namai bendera “Buncaha“.
    Pada akhir tahun 1236 M, rombongan yang dipimpin oleh manusia sakti Si Malui terdampar di sesebelah Utara Timur Laut Negeri Buton, hampir bersamaan dengan kedatangan Si Panjonga dan rombongan, daerah pendaratan armadanya disebut “Kamaru“. Bentengnya disebut Wonco, Setibanya di Negeri Buton Si Malui, pembantu utama dan pengikutnya membuat tempat pemukiman dan benteng pertahanan, setelah benteng yang dibuat rampung Si Malui dan pembantu utamanya memerintahkan kepada pengikutnya untuk membuat lubang tempat pengibaran bendera didalam areal benteng yang telah dibuat.
    Tidak berapa lama Si Malui dan rombongan menempati daerah Kamaru, dan kehidupan sudah berjalan baik, Si Malui selaku ketua rombongan meminta kepada pembantu utamanya mencari daerah baru yang cocok untuk pertanian dan tempat pemukiman.
    Rombongan kecil yang dipimpin oleh Si Sajawangkati berpamitan kepada pemimpinnya untuk mencari daerah hunian baru, mereka menyusuri pantai daratan Buton, dan setibanya disuatu tempat yang berkenan dihati Si Sajawangkati dan pengikutnya yang dinamai “Wasuemba“, langsung Si Sajawangkati dan pengikutnya membuat perkampungan serta benteng pertahanan yang disebut benteng “Koncu“ di Wabula. Setelah perkampungan dan benteng Koncu selesai dibuat Si Sajawangkati memerintahkan kepada pengikutnya untuk membuat lubang pengibaran bendera Kerajaan leluhurnya berwarna kuning hitam sama dengan yang dikibarkan oleh Si Malui pimpinannya di Kamaru.
    Tidak berapa lama kedua rombongan yang telah menempati 4 (empat) wilayah dan satu sama lain sudah saling kenal, serta saling mengunjungi tempat masing-masing, dibuatlah suatu kesepakatan untuk mengadakan musyawarah. Dalam musyawarah diputuskan bahwa mereka akan membuat perkampungan yang dinamai “Batu Yigandangi“, dan ketua pelaksana bandar perkampungan adalah Si Panjonga sampai sekarang tempat Bandar perkampungan masih ada dan diabadikan menjadi tempat makam Pahlawan Kesatria Buton dan Muna yaitu “Laki La Ponto” alias “Murhum“ Raja Buton VI (Keenam atau Sultan I di Negeri Buton).
    Selaku ketua pelaksana bandar perkampungan Si Panjonga berdiri ditengah-tengah kerumunan orang banyak sambil berteriak dalam bahasa sendiri dengan ucapan “Welia“. Yang terbagi dari dua suku kata yaitu:
    WE artinya Buatlah
    LIA artinya Perkampungan
    Jadi “Welia“ artinya Buatlah Perkampungan.
    Sampai ucapan Si Panjonga yaitu Welia diabadikan menjadi nama Wilayah Kecamatan Wolio.
    Dan mulai saat itulah Si Panjonga tinggal di “Batu Yigandangi” atau yang disebut sekarang “Lele Mangura“, tanpa seorang pendamping atau seorang istri sampai akhir hayatnya karena memang tidak pernah menikah seperti halnya pimpinan rombongan yang lainnya yang beranak pinak di Buton.
    Setelah bandar perkampungan selesai dibentuk, dan mengakui keberadaan masing-masing, sejak saat itu para pengikut Kesatria dibebaskan untuk mencari tempat bermukim secara perorangan, yang semula bermukim di Lambelu dan Kamaru sebagiab mengadu nasib di Negeri Muna, begitu juga dengan yang bermukim di Tobe-Tobe telah pergi ke Tiworo dan Pulau Kabaena, dan merekalah yang pertama menghuni daerah-daerah tersebut hingga saat ini.

    C. KISAH KEDATANGAN WA KAA–KAA

    Wa Kaa–Kaa nama aslinya adalah : “Musarafatul Izzati Al Fakhriy“, Tiba di Negeri Buton pada tahun 1298, Beliau berasal dari Negeri Yatsrib atau Negeri Madinah.
    Adapun nazab atau silsilah keturunan Wa Kaa–Kaa atau Musarafatul Izzati Al Fakhriy yaitu : Musarafatul Izzati Al Fakhriy bin Abdullah Badiy Uz Zamani bin Abu Bakar bin Muhammad Said Salim bin Muhammad Ali Ridha bin Muhammad Musa Ali Kazim bin Muhammad Ja’far Ali Shadiq bin Muhammad Ali Baqir bin Muhammad Ali Zainal Abidin bin Ali Husein bin Sayidina Ali Abithalib dengan istrinya Fatimatuh Zuhura atau Fatima Az zahra Putri Nabi Besar Muhammad Saw dan istrinya Sitti A’isyah. Sedangkan ibunya bernama Rabbihatum Nasabnya bersambung pada Abdul Syukur beliau adalah sepupu satu kali Rasulullah Saw dari Baniy Hasyim.
    Penjelasan :
    Abu Bakar yakni kakek dari Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy menikah 2 (dua) kali yaitu :
    1. Menikah dengan seorang Putri bangsawan di Negeri Yatsrib bernama Zainab, mempunyai seorang putra yang dinamai Abdullah Badiy Uz Zamani. Dalam usia balita telah ditinggal oleh ibu dikandungnya untuk selama-lamanya menghadap kehadirat Allah SWT.
    2. Kemudian di Baghdad menikahi lagi seorang putri bangsawan, dan dikaruniai seorang putra bernam Muhammad Arif Billah Ma’rifatul Kurqi.
    Setelah dewasa Muhammad Arif Billah Ma’rifatul Kurqi tinggal di Johor dan menikah lebih dulu dari saudaranya yang lain ibu, dari perkawinannya Muhammad Arif Billah Ma’rifatul Kurqi dikaruniai seorang Putra yang diberi nama Muhammad Umar Muhadar, yang diangkat menjadi Sultan Aden, selanjutnya Sultan Aden mempunyai seorang Putra yang bernama Muhammad Ali Idrus Aden.

    Setelah dewasa Muhammad Ali Idrus menikah di Pasai, dengan seorang Putri bangsawan yaitu Putri Pertama Sultan Ahmad dan mempunyai seorang anak yang diberi nama Sulaiman Syarif Ali. Kemudian Muhammad Ali Idrus kawin lagi dengan seorang Putri dari Negeri Perlambang atau lebih dikenal sekarang Palembang bernama Mbok Endang. Dari perkawinannya dengan Mbok Endang, Muhammad Ali Idrus dikaruniai seorang Putra yang diberi nama Sayid Lillah.

    D. WAFATNYA ABDULLAH BADIY UZ ZAMANI AYAH MUSARAFATUL IZZATI AL FAKHRI

    Menjelang dewasa Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy ditinggal ayah tercinta untuk selama-lamanya menghadap keharibaan Allah SWT, masih dalam suasana berkabung, karena ayahnya yang baru saja meninggal dunia tiba-tiba datanglah seorang pemuda bernama Baidul Hasan Putra Raja (Kisra) Persiah Urugan bin Hulagun untuk melamar Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy, namun Putri belum berniat untuk berumah tangga karena masih berduka atas wafatnya Abdullah Badiy Uz Zamani ayah kandung Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy, disamping itu usianya belum dewasa. Karena hasrat Baidul Hasan belum kesampaian saat itu sambil menunggu Putri berangkat dewasa, maka Baidul Hasan bertanya kepada Putri siapa gerangan namanya dan di jawab oleh Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy, Bahwa nama saya “Qurais Fakhriy“ dari keturunan kaum Quraisy, dan mulai saat itulah nama Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy digelar Qurais Fakhriy.
    Putri Musarafatul Izzati menyebut dirinya Qurais Fakhriy dari keturunan kaum Quraisy tujuannya hanyalah untuk menghindar dari hasrat hati Baidul Hasan Putra Raja (Kisra) Persiah Urugan bin Hulagun, seperti kita ketahui bahwa kaum Quraisy saat itu di Teluk persiah sangat dimurkai dan dibenci karena kejahilannya. Kendatipun demikian Baidul Hasan tidak menyerah sampai disitu, Dia tetap mengejar Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy agar mau menikah dengannya.
    Berita wafatnya Abdullah Badiy Uz Zamani tersiar juga sampai di Negeri Pasai, atas berita duka tersebut Muhammad Ali Idrus meninggalkan Pasai ke Madinah untuk ziarah kemakam pamannya sekalian menjemput saudara misannya atau sepupunya agar menetap di Istana Pasai. Tawaran untuk tinggal di Istana Pasai disambut baik oleh Putri Qurais Fakhriy, setelah segala urusan di Madinah selesai maka Muhammad Ali Idrus beserta Qurais Fakhriy meninggalkan Madinah untuk menetap di Istana Pasai.
    Tidak berapa lama Qurais Fakhriy tinggal di Istana Pasai datang lagi utusan dari Raja (kisrah) Persiah untuk melamar Putri Qurais Fakhriy namun jawabannya tetap sama seperti masih tinggal di Negeri Madinah yaitu belum berniat untuk berumah tangga. Kedatangan utusan dari Raja Persiah Urugan bin Hulagun, Muhammad Ali Idrus tidak berada di Istana Pasai, beliau sedang menghadiri perkawinan anaknya Sulaiman di Negeri Johor. Kemudian Sulaiman diangkat menjadi Sultan Brunai.
    Dalam perhelatan perkawinan Putranya Muhammad Ali Idrus bertemu dengan seorang yang bernama “Khun Khan Ching“ yang berkebangsaan Cina, menurut keterangannya Khun Khan Ching adalah Cina Islam di Hoe-Hoe daerah Tar-Tar dengan gelar “Dung Kung Sang Hiang“ atau Panglima Perang, di Buton terkenal dengan nama “Dungku Cangia“ begitu penuturannya pada Muhammad Ali Idrus.
    Khun Khan Ching juga menjelaskan kepada Muhammad Ali Idrus bahwa ia adalah Panglima Perang Kaisar Tiongkok yang bernama “Kubilai Khan“, pada masa peperangan Raja Singasari. Setelah Kerajaan Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang, Khun Khan Ching melarikan diri sehingga terdampar di Negeri Johor. Dalam masa pelariannya di Negeri Johor Khun Khan Ching berjumpa dengan seorang musafir yang bernama ”Sang Ria Rana“ atau lebih dikenal di Buton dengan nama “Sangia Ria Rana“, yang kemudian bertemu dengan Muhammad Ali Idrus.
    Pertemuan antara Muhammad Ali Idrus, Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana menjadi perjumpaan yang menyenangkan antara satu dengan yang lain, sehingga Muhammad Ali Idrus tidak segan-segan untuk mengundang kedua sahabat barunya berkunjung ke Istana Pasai, dan unutk tidak saling mengecewakan kedua sahabat tadi yaitu Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana menyetujui, kemudian setelah perkawinan puteranya dan urusan yang lain di Johor selesai, ketiga sahabat baru tersebut serta “Sulaiman“ dan pengikutnya meninggalkan Johor menuju Pasai.
    Tidak berapa lama setelah tiba di Negeri Pasai atau tepatnya pada tahun 1298 M. Sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Brunai dengan gelar Sultan Sulaiman Syarif Ali. Beberapa saat setelah penobatan Sulaiman menjadi Sultan Sulaiman Syarif Ali datang lagi utusan dari Raja (Kisra) Persiah Urugan bin Hulagun hendak melamar atau meminang Putri Qurais Fakhriy untuk dinikahkan dengan Putranya yang bernama Baidul Hasan, namun keinginan Raja (Kisra) Persiah itu belum dapat dikabulkan karena Putri Qurais Fakhriy belum ingin berumah tangga. Lamaran Raja Persiah ditolak dengan jawaban yang halus, lemah lembut dan sopan, namun tegas menandakan orang yang sangat terpelajar dan mempunyai kepribadian serta keluhuran budi dari seorang Putri yang tidak dimiliki oleh setiap manusia.
    Karena terus didesak oleh utusan Raja (Kisra) Persiah Urugan bin Hulagun maka Putri Qurais Fakhriy menyampaikan maksudnya untuk meninggalkan Istana Pasai kepada Muhammad Ali Idrus, dan oleh Muhammad Ali Idrus tidak langsung diputuskan, akan tetapi Muhammad Ali Idrus mengajak kedua sahabatnya yaitu Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana untuk membicarakan keinginan Putri Qurais Fakhriy.
    Dari hasil musyawarah Muhammad Ali Idrus, Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana memutuskan bahwa Putri Qurais Fakhriy sebaiknya meninggalkan Istana Pasai. Seperti keinginanya disertai oleh Muhammad Ali Idrus, Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana serta 40 (empat puluh) orang kepala keluarga dengan menggunakan Bahtera Magela Hein’s kepunyaan Khun Khan Ching tanpa tujuan.
    Untuk menghindari serangan dari Raja (Kisra) Persiah Urugan Bin Hulagun atas penghinaan yang dilakukan oleh Qurais Fakhriy, maka pada tahun 1298 M. Sultan Sulaiman Syarif Ali membuat siasat politik dengan mengumumkan kepada khalayak bahwa Putri Qurais Fakhriy telah menghilang dari Istana Pasai.
    Seperti yang telah diriwayatkan di Bagdad bahwa Muhammad Ali Idrus dan Putri Qurais Fakhriy adalah keturunan Wali-Wali Allah SWT. Dan dengan izin Nya apa yang menjadi keinginannya atau kemauannya kemanapun mereka hendak pergi Insya Allah akan terkabul.
    Dengan menghilangnya Putri Qurais Fakhriy semua orang bertanya-tanya tapi tidak satupun yang tahu kemana perginya, dan akhirnya dalam pengembaraannya bersama saudara misannya Muhammad Ali Idrus, Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana beserta 40 (empat puluh) orang kepala keluarga dengan menggunakan Bahtera Magela Hein’s terdampar di Tenggara, tetapi sebelumnya Muhammad Ali Idrus telah mengetahuinya bahwa di Negeri Bathniy atau Buton telah berpenghuni berpuluh-puluh tahun yang lalu menjadi tujuan akhir keempat orang tersebut yakni Muhammad Ali Idrus, Qurais Fakhriy, Khun Khan Cing dan Sang Ria Rana, sedang 40 (empat puluh) orang kepala keluarga yang menjadi pengawalnya tidak sampai ke Negeri Buton.
    Setelah Keempat orang tadi tiba di Negeri Buton mereka berpisah, Khun Khan Ching bersama Sang Ria Rana ke Tobe-tobe sedang Muhammad Ali Idrus dan Qurais Fakhriy ke tempat lain. Setelah keempat orang tadi berpisah menjadi 2 (dua) rombongan Muhammad Ali Idrus pergi ke Negeri Munajat, sedangkan Qurais Fakhriy ditinggal disuatu tempat, sambil menunggu saudara misannya pulang. Qurais Fakhriy melakukan pertapaan disuatu tempat yang sekarang dikenal dengan sebutan Sora Woli, dan tempat penemuan Wa Kaa–Kaa diabadikan menjadi benteng yang diberi nama Sora Wolio.
    Sedang Khun Khan Ching dan Sang Ria Rana melakukan kegiatan sehari-hari sebagai penyadap air enau dan penangkap ikan. Alat penangkap ikannya terbuat dari bambu mereka namai bubu, sepulangnya dari mengangkat perangkap ikannya Khun Khan Ching pergi melihat sadapan enaunya di Tobe-tobe, begitulah kegiatan kedua sahabat itu sehari-hari
    Namun suatu hari sadapan air enaunya telah diambil oleh orang lain, kejadian tersebut berulang hingga beberapa kali, melihat keadaan itu Khun Khan Ching gusar. Untuk melampiaskan kegusarannya Khun Khan Ching mencari sebatang pohon yang sangat besar untuk di tebas, dengan sekali tebas pohon besar itu tumbang karena kesaktiannya, dan pohon yang telah ditebas itu diletakkan di dekat pohon enau yang disadapnya setiap hari. Kemudian Si Sajawangkati yang sering mengambil sadapan enau Khun Khan Ching, pergi melihat-lihat keadaan hutan sambil mengambil enau yang telah disadap tersebut, yang sepengetahuan Si Sajawangkati enau itu adalah di sadap oleh anak buahnya, tetapi betapa terperanjatnya ketika tiba di dekat pohon enau dilihatnya sebatang pohon besar tumbang dengan sekali tebas sambil bergumam, dia berkata rupanya sudah ada penghuni baru di Negeri ini yang mempunyai kesaktian luar biasa. Untuk membuktikan bahwa dia tidak kalah sakti dengan penghuni yang belum diketahuinya, maka Si Sajawangkati mencari sebatang pohon besar untuk ditebas, namun tidak ketemu. Dia hanya menemukan sebatang pohon rotan sebesar batang pohon pinang, ditebasnya pohon rotan tersebut lalu diambil satu siku tangan orang dewasa, lalu disimpulkan atau dalam bahasa Buton aulua. Simpulan rotan tadi diletakkan di atas batang pohon yang ditebas oleh Khun Khan Ching. Seperti biasa sepulang dari mengangkat bubu perangkap ikannya langsung ke Tobe-tobe. Dengan maksud untuk mengambil enau yang telah disadapnya, namun betapa kagetnya pada batang pohon yang telah ditebasnya tadi ada rotan yang telah disimpulkan, begitu kagetnya lalu dia berkata rupanya Negeri ini sudah mempunyai penghuni yang sangat sakti.
    Sepulang dari Tobe-Tobe Khun Khan Ching mengajak sahabatnya Sang Ria Rana serta anjingnya untuk mencari bambu Sembilu dalam bahasa Buton nya yaitu Tombula, untuk wadah atau tempat hasil sadapan enaunya dan perbaikan perangkap ikannya. Waktu mencari bambu sembilu (tolang) atau bambu tombula tadi tidak terasa kedua sahabat tersebut telah berada di bukit yang agak tinggi yakni “Sora Wolio“ yang dinamai oleh Si Sajawangkati dan Si Malui sebelum menggabungkan diri dengan Si Panjonga yang diangkat sebagai Ketua Kelompok Bandar Perkampungan pertama yang saat ini telah bermukim di Batu Yigandangi atau lebih dikenal Lelemangura.
    Khun Khan Ching dan Sang Ria Rana mendengar anjingnya menggonggong pada sebuah rumpun bambu sembilu atau bambu tombula yang padat lalu ditebangnya bambu yang digonggong anjing tersebut oleh Khun Khan Ching atau Dung Kung Sang Hiang (Dungku Cangia), pada sabitan pedang pertama terdengar suara Kaa– Kaa–Kaa, rupanya sabitan tadi mengenai beberapa helai rambut Putri Qurais Fakhriy yang sedang menanti saudara misannya yang pergi ke Negeri Munajat sambil bertapa selama 13 (tiga belas) tahun yaitu mulai tahun 1298 M. sampai dengan tahun 1311 M. di sinilah awal legenda bahwa Wa Kaa-Kaa Raja Buton I (pertama) “Bete Yi Tombula“ atau berwujud (merekah) dari bambu sembilu (tolang) atau tombula. Kemudian kedua pencari bambu tadi bertanya kepada Putri Qurais Fakhriy, Putri hanya menjawab Kaa-Kaa-Kaa karena perbedaan bahasa mereka tidak saling mengenal apa maksud masing-masing pihak dan apa yang harus dilakukan, sehingga Khun Khan Ching menyebut nama Qurais Fakhriy dengan panggilan Wa Kaa–Kaa, sejak saat itu namanya diabadikan hingga sekarang.
    Pada saat ditemukan oleh Khuh Khan Ching atau Dungku Cangia dan Sang Ria Rana atau Sangia Ria Rana, Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa mengenakan baju yang mempunyai penutup leher yang berkancing dalam bahasa Buton baju “Koboroko“ dan besarung dua lapis, lapisan pertama Sarung Bia-Bia sedangkan lapisan kedua terbuat dari sutera tipis. Putri Qurais Fkhriy atau Wa Kaa–Kaa juga bersanggul dengan berhiaskan tiga bentuk rangkaian batu permata yang indah-indah Panto namanya dalam Bahasa Buton serta memakai cadar atau selubung terbuat dari kain sutera tipis.
    Seperti diriwayatkan pada saat ditemukan dalam pertapaannya Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa membawa bendera berwarna hitam bercorak putih panjangnya empat depah dan pangkalnya lebar dua jengkal, bentuknya lancip menyerupai keris, sedang lebar corak selang seling hitam dan putih satu tapak tangan orang dewasa.
    Kemudian tersebut dalam lembaran sejarah Budaya Buton, bahwa setelah mendengar kehadiran Putri yang dianggap ajaib tersebut Si Panjonga dan Si Malui segera memerintahkan kepada pengikutnya untuk membuat usungan atau tandu dari bambu tolang atau bambu tombula, setelah tandu yang dipesan tadi selesai dibuat Si Pajonga dan Si Malui serta Tetua dan rombongannya bersama-sama menuju ke Sorawolio dimana Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa-Kaa ditemukan.
    Setibanya Si Panjonga, Si Malui, Tetua dan rombongannya di Sorawolio Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa sedang duduk-duduk dengan alat serta pakaian kebesarannya bersama kedua pencari bambu tadi yaitu : Khun Khan Ching atau Dung Kung Sang Hia (Dungku Cangia) dan Sang Ria Rana yang saat itu telah menjadi Pengawalnya.
    Setelah Si Panjonga, Si Malui dan rombongan memperkenalkan diri, maka Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa menuturkan siapa dia yang sebenarnya dengan mengatakan bahwa : Nama sebenarnya adalah “Musarafatul Izzati Al Fakhriy“ atau “Qurais Fakhriy“, Putri dari Abdullah Badiy Uz Zamani Fuaq Quraisi bin Abu Bakar masih cucu Rasulullah Saw, sedang ibunya bernama Rabbi Hatum cucu Abdul Syukur dari Baniy Hasyim masih saudara misan Rasulullah Saw.
    Kemudian Wa Kaa–Kaa melanjutkan ceritanya kenapa ia berada di dalam rumpun bambu sembilu (tolang) atau bambu tombula dimana dia ditemukan oleh Khun Khan Ching atau Dung Kung Sang Hiang (Dungku Cangia) dan Sang Ria Rana, adalah untuk menanti saudara misannya bernama Muhammad Ali Idrus kembali dari Negeri Munajat. Kepergian saudara misannya tersebut dengan membawa serta sepasang burung Maleo (Mamua) dalam bahasa Buton. Burung tersebut diambil oleh Muhammad Ali Idrus di Negeri Perlambang atau Palembang saat mengunjungi anaknya yang bernama Sayid Lillah. Karena kepergian saudara misannya yang begitu lama, maka Putri Musarafatul Izzati Al Fkhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa melakukan pertapaan hingga mencapai 13 (tiga belas) tahun.
    Setelah kedua belah pihak saling memperkenalkan diri masing-masing, Si Panjonga, Si Malui dan Tetua rombongan mengutarakan maksud kedatangannya ke Sorawolio adalah untuk mengajak Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa dan kedua Pengawalnya membuat perkampungan di Lelemangura tempat dimana Si Panjonga, Si Malui dan rombongan menetap saat itu.
    Setelah sepakat dengan permintaan Si Panjonga dan rombongan, maka berangkatlah rombongan besar yang dipimpin oleh Si Panjonga dan Si Malui serta kelompoknya Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy menuju Lelemangura. Si Baana adik perempuan Si Malui beserta ibu-ibu rombongan dari Lelemangura menuntun Putri Ajaib Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa untuk menaiki usungan yang telah disiapkan oleh Si Panjonga, Si Malui dan rombongan.
    Setibanya di Lelemangura yaitu di tengah-tengah perkampungan usungan Putri ajaib Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa diturunkan, dan tempat mula-mula menginjakkan kaki oleh Qurais Fakhriy dijadikan tempat penobatan semua Raja dan Sultan turun temurun hingga saat ini. Dan batu tersebut disebut “Batu Popaua“ atau batu tempat Pemutaran Payung Kerajaan atau Kesultanan. Waktu Putri ajaib diarak dari Sorawolio ke Lelemangura, usungan atau tandu Putri berada di belakang bendera leluhurnya yaitu Bendera Ula-Ula yang dipegang oleh Pengawal Pribadinya yaitu Dung Kung Sang Hiang, sedang Sang Ria Rana membawa kelewang dan Perisainya.
    Kemudian kelompok wanita yang di pimpin oleh Si Baana mengajak Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa menuju kediaman Si Panjonga
    Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa ditempatkan di Kediaman Si Panjonga bersama Dayang-Dayang dan Inang Pengasuhnya Si Baana.
    Karena kehalusan budi pekerti dan kelembutan tutur kata serta kesopanannya menandakan bahwa dia bukan sembarang putri tetapi Putri pilihan, Putri yang dianggap Ajaib ini selalu dihormati bagi siapa saja yang pernah bertemu dengannya, begitu juga dengan Dayang-Dayang dan Inang Pengasuhnya selalu menaruh hormat pada Putri Wa Kaa–Kaa, yang mana hal ini tidak luput dari pengamatan Si Panjonga orang yang sangat sakti dan dihormati, selaku ketua pelaksana bandar perkampungan saat itu.
    Tidak berapa lama setelah Putri Qurais Fakhriy berada di Lelemangura Si Panjonga mengadakan musyawarah yang dipimpin sendiri, yang dihadiri oleh :
    1. Si Panjonga selaku Pimpinan Rapat.
    2. Si Tamanajo
    3. Si Malui
    4. Si Sajawangkati
    Keempat orang tersebut diikuti oleh pengikut-pengikutnya.

    Tujuan keempat kelompok tadi mengadakan rapat adalah mengangkat Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa untuk menjadi pemimpin di Negeri yang mereka tempati atau diami. Alasan mengangkat Putri Wa Kaa–Kaa menjadi pemimpin Negeri yang mereka tempati itu adalah, karena memiliki peri laku yang sangat terpuji, jujur, tutur kata yang lemah lembut dan menyenangkan bagi yang pernah mendengarnya serta sopan santun dan penuh wibawa yang tidak memiliki oleh semua hamba Allah SWT, hanya hamba pilihan yang mempunyai perilaku demikian.
    Atas pertimbangan-pertimbangan yang demikian semua peserta simpati kepada Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa, maka pada akhir tahun 1311 M. Wa Kaa–Kaa diangkat atau dinobatkan menjadi pemimpin Negeri tersebut dengan Gelar Raja. Sejak saat itulah perkampungan kedua kelompok manusia besar dan sakti dinamai “Kedatuan” atau “Keraton“, maksudnya tempat kediaman Datuk Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa-Kaa.

    V. RAJA BUTON I (PERTAMA) 1311 – 1334 M

    Setelah selesai dinobatkan menjadi Raja, Putri “Musarafatul Izzati Al Faqhriy“ atau “Qurais Faqhry“ alias “Wa Kaa–Kaa“ berkata sebagai himbauan dalam bahasa sendiri yaitu bahasa leluhurnya bahwa :
    “Kul Anaa Rabbiy Ma’abdih”
    Artinya : Katakan, kalau saya Tuhan atau Raja siapa hambaku.
    “Kul Anaa Abdih Ma’ Rabbiy”
    Artinya : Katakan, kala u saya hamba siapa Tuhan atau Rajaku.

    Mendengar himbauan yang demikian dari Raja, hadirin yang mendengarkan tidak satupun yang dapat menjawab, sehingga pertanyaan yang dilontarkan tadi dijawab sendiri bahwa :
    “Kul Rabbiy Wal Abdih Wahidun“
    Artinya : Katakan Tuhan atau Raja dengan hambanya itu adalah satu

    Itulah himbauan yang disampaikan Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa-Kaa saat dinobatkan menjadi Raja Buton I (pertama).
    Setelah Penobatannya Putri Wa Kaa-Kaa menjadi Raja Buton I (pertama), maka selanjutnya Raja mengangkat Si Panjonga, Si Malui, Si Tamanajo dan Si Sajawangkati sebagai “Patalimbona“ atau Penasehat Raja. Sedangkan Dung Kung Sang Hiang atau Dungku Cangia dan Sangia Ria Rana diangkat sebagai Pengawal pribadi Raja.
    Tersebutlah dalam lembaran sejarah Budaya Buton saat Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa menjadi Raja Buton I (pertama), Buton Rakyatnya hidup makmur, aman, dan tenteram. Untuk menjaga keamanan serta kemungkinan serangan dari luar maka Raja Kaa–Kaa memerintahkan kepada seluruh Staf dan seluruh rakyat untuk membuat Benteng Pertahanan yang berbentuk huruf MIM kedua seperti ulasan dari leluhurnya, demikian juga dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh Raja, selalu ditaati dan dipatuhi oleh pembantu dan seluruh rakyatnya.
    Manakala Raja keluar Istana untuk mengunjungi wilayah sekitarnya, bendera leluhurnya yaitu bendera Ula–Ula, tidak pernah ketinggalan berada di depan usungan Raja yang dikawal oleh Dung Kung Sang Hiang (Dungku Cangia). Dan bendera Ula–Ula tersebut sampai saat ini tetap diabadikan menjadi bendera Kerajaan atau Kesultanan Buton.
    Apabila kendaraan digunakan perahu, di buritan perahu mengibarkan bendera Kerajaan yaitu bendera Ula–Ula menandakan rombongan tersebut disertai Raja atau Sultan, sehingga wilayah-wilayah Kerajaan yang ketamuan akan menyambut kedatangan Raja atau Sultan dengan pesta besar-besaran menurut peraturan Raja atau Sultan yang berkuasa pada zamannya masing-masing.
    Karena kebesaran dan kemuliaan namanya Putri Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa dianggap sebagai manusia ajaib dan keramat yang tetap diabadikan dan diulas dalam lembaran sejarah Budaya Buton dan Muna, yang selalu dirindukan dalam kenangan. Begitulah asal usul Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Kaa–Kaa.
    Seperti yang telah diriwayatkan, tidak berapa lama setelah Muhammad Ali Idrus tiba di Negeri Munajat kawin dengan Wa Birah Putri Sangia Pure-Pure, dari perkawinannya dikaruniai seorang Putri yang diberi nama Wa Nambo Yitonto atau Wa Sala Bose. Kemudian Muhammad Ali Idrus digelar Maligana yang sekarang diabadikan menjadi sebuah Desa di Negeri Munajat atau Muna yakni Desa Maligana.
    Di Negeri Munajat Muhammad Ali Idrus mendirikan sebuah pondok di pinggir pantai yang sebagian tiangnya berada di dalam laut, namun tanpa sepengetahuan Muhammad Ali Idrus di belakang rumahnya ada sebuah kerang laut raksasa dalam bahasa Buton disebu “Kamatuu Susu“. Kerang laut raksasa tersebut setiap saat menyemprotkan air ke dalam pondok milik Muhammad Ali Idrus sehingga membuat keadaan pondoknya tidak nyaman tatkala sedang tidur atau sedang beristirahat.
    Akibat semprotan kerang laut raksasa tersebut pondok milik Muhammad Ali Idrus selalu basah, maka Muhammad Ali Idrus meminta bantuan pada sekelompok manusia untuk mencungkil kerang laut raksasa tersebut namun tidak berhasil.
    Karena rombongan manusia tersebut gagal mencungkil atau memindahkan kerang laut raksasa yang berada di belakang rumahnya, Muhammad Ali Idrus membuat sayembara, yang isinya :
    “Barang siapa dapat mencungkil kerang laut raksasa atau kamatuu susu yang berada di belakang rumah saya, akan saya nikahkan atau kawinkan dengan Putriku bagaimanapun keadaannya“.
    Sayembara tersebut terdengar juga pada seorang laki-laki yang mempunyai penyakit kulit atau dalam bahasa Buton disebut kuli dhambi yang bernama “Nggori-Nggori“ dari Bungku Sulawesi Tengah. Setelah mendapat persetujuan dari Muhammad Ali Idrus atau Maligana, Nggori-Nggori membawa tombak sebagai alat untuk mencungkil Kerang Laut raksasa atau Kamatuu Susu, dengan tekad yang kuat Nggori-Nggori ke tempat kamatuu susu berada. Lalu ujung tombaknya dimasukkan ke dalam mulut kerang laut raksasa tadi sambil mencungkil. Karena saktinya Nggori-Nggori maka kerang laut raksasa tersebut tercungkil melayang terbelah dua. Kulit yang sebelah jatuh di Sulawesi Tengah (Daerah Bungku) yang saat itu masih wilayah Kerajaan Ternate dan yang kulit sebelahnya jatuh di pulau Ereke yang saat itu masih wilayah Kerajaan Buton. Sampai sekarang kulit kerang itu masih ada, dan diabadikan menjadi nama sebuah Ibu Kota wilayah Kecamatan Kulisusu, Sekarang menjadi wilayah Kabupaten Muna. Setelah Nggori-Nggori berhasil mencungkil kerang laut raksasa tersebut langsung dikawinkan dengan Nambo Yi tonto atau Wa Sala Bose, hingga beranak pinak di Ereke atau Kulisusu.
    Kejadian ini diceritakan oleh Putri Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Kaa–Kaa di hadapan kedua pemimpin kelompok besar dan sakti yaitu Si Panjonga dan Si Malui.
    Keempat pemimpin manusia besar dan sakti tadi berpendapat bahwa mereka tidak salah memilih Wa Kaa-Kaa sebagai Raja karena kepribadian, tutur kata, tingkah laku dan gerak gerik langkahnya begitu anggun dan berwibawa yang dapat dijadikan contoh bagi bawahannya.
    A. KEDATANGAN ARMADA RADEN SI BATARA DAN RADEN JUTUBUN

    Tersebutlah riwayat dalam lembaran sejarah Budaya Buton bahwa “Raden Sibatara, Raden Jutubun“ dan saudara perempuannya bernama “Lailan Mangrani“ atau biasa disebut Putri Lasem.
    Ketiga kakak beradik ini datang dari tanah Jawa, dari Kerajaan Mataram sebelum bergabung dengan Kerajaan Majapahit, mereka adalah Putra “Raden Wijaya“ Raja Mataram.
    Kedatangan Putra-Putra Kerajaan Majapahit tersebut menggunakan 2 (dua) armada. Satu armada yang dipimpin Raden Sibatara dan adik Perempuannya Lailan Mangrani (Putri Lasem) beserta 40 (empat puluh) orang Pengikutnya, sedang armada yang satunya dipimpin oleh Raden Jutubun juga membawa 40 (empat puluh) orang pengawal. Kedua armada tersebut membawa bendera Kerajaan leluhurnya, masing-masing dipasang atau dikibarkan di buritan armadanya, adapun warna bendera yang dibawa oleh kedua armada yang dimaksud adalah “Merah Putih“ yang disebut bendera “Daiyalo“ Karena begitu Agung dan berwibawanya kedua armada tersebut yang menandakan bahwa ada Pangeran atau Raja-Raja di dalamnya.
    Kedatangan kedua armada Putra-Putri Raden Wijaya atau Raja Kerajaan Majapahit itu telah diketahui oleh penjaga pantai, kemudian penjaga atau pengawal pantai menuntun kedua armada tersebut agar berlabuh di dalam teluk “Kalampa“, sekarang disebut Wilayah Kecamatan Betoambari daratan Buton. Selanjutnya pengawal atau penjaga pantai tersebut melaporkan kedatangan kedua armada tersebut kepada Pimpinannya yaitu Si Panjonga dan Si Malui masing-masing mengutus Pembantu Utamanya Si Tamanajo dan Si Sajawangkati untuk menyelidiki apa maksud kedatangan kedua armada tersebut di Negeri Buton. Kedua pembantu utama yaitu Si Tamanajo dan Si Sajawangkati datang ke teluk Kalampa dimana kedua armada Raden Sibatara dan Raden Jutubun berlabu. Sesampainya di tempat yang dimaksud Si Tamanajo dan Si Sajawangkati meminta keterangan siapa mereka dan apa maksud kedatangannya di Negeri Buton kepada Pemimpin armada tersebut, dan salah satu dari kedua Pemimpin armada tersebut, dan oleh salah satu dari kedua Pemimpin armada tersebut menjawab : Bahwa kami adalah Putra Raden Wijaya Raja dari Kerajaan Majapahit masing-masing bernama :
    1. Raden Jutubun atau Bau Besi
    2. Raden Sibatara atau Sabatara
    3. Putri Lailan Mangrani atau Putri Lasem

    Sedang maksud kedatangan kami di Negeri ini adalah mencari tempat untuk membuat bandar baru sesuai dengan petunjuk dari Ayahanda kami Raden Wijaya.
    Setelah Putra Raden Wijaya menjelaskan maksud kedatangannya, Si Tamanajo dan Si Sajawangkati kembali kepada kedua Pemimpinnya untuk melaporkan maksud kedatangan Pemimpin kedua armada tersebut yaitu Raden Jutubun dan Raden Sibatara. Setelah mendengar laporan dari kedua Pembantu Utamanya, Si Panjonga dan Si Malui menghadap atau Wa Kaa–Kaa. Mendengar laporan yang demikian dari Si Panjonga dan Si Malui, Raja Wa Kaa–Kaa menitahkan atau memerintahkan kepada Pembantu-Pembantunya untuk melakukan penjemputan secara besar-besaran sebagaimana penjemputan terhadap dirinya dari Sorawolio ke Lelemangura.
    Mendengar titah atau perintah dari Raja Wa Kaa–Kaa, kedua pemimpin Si Panjonga dan Si Malui memerintahkan kepada Pengawalnya untuk membuat 3 (tiga) buah usungan dari bambu sembilu (tolang) atau bambu tombula. Setelah ketiga usungan yang diperintahkan oleh Si Panjonga dan Si Malui selesai dibuat, berangkatlah rombongan manusia-manusia besar dan sakti serta tidak ketinggalan gadis-gadis dan anak-anak menuju pantai Kalampa dimana kedua armada tadi berlabuh. Setelah rombongan penjemput tiba di Pantai Kalampa, kedua pemimpin menuju armada untuk menemui Putra-Putri Raja Majapahit guna menyampaikan undangan Raja Musarafatul Izzati Al Fakhriy alias Qurais Fakhriy atau Wa Kaa–Kaa. Putra Putri Raden Wijaya mufakat untuk menerima undangan Raja Buton I (pertama) Wa Kaa–Kaa. Maka berangkatlah Putra Putri Raden Wijaya bersama-sama rombongan penjemput menuju Istana Raja Wa Kaa–Kaa masing-masing berpakaian :
    a. Raden Jutubun memakai “Baju Bodo“ berdaster dan celana hitam yang diukir putih panjangnya sebetis, serta memakai Sarung yang dililitkan di atas baju yang pinggirnya terurai sampai ke lutut serta sebilah keris terselip di pinggang. Adapun pakaian yang dikenakan oleh Raden Jutubun menuru Adat Jawa adalah Pakaian Kebesaran, dan hanyalah orang-orang yang telah dinobatkan menjadi Kedatuan yang bisa memakai pakaian yang dipakai Raden Jutubun dimasa Raja Mataran di Kerajaan Majapahit. Dan Pakaian tersebut kini diabadikan menjadi pakaian Pembesar di Kerajaan Buton.
    b. Dan pakaian yang dikenakan Raden Sibatara pada saat itu adalah celana hitam yang diukir dengan benang perak yang panjangnya sampai di betis serta memakai sarung yang dililitkan di pinggang terurai sampai ke lutut, kedua ujung sarung terurai sampai ke punggur kedua kaki dan di pinggang terselip sebilah keris. Raden Sibatara telanjang dada, adapun pakaian yang dikenakannya diabadikan sebagai pakaian Putra Bangsawan yang belum punya jabatan, dan dalam Bahasa Buton disebut “Pakeana Mangaana“ atau pakaian para anak.
    c. Sedangkan Pakaian yang dikenakan oleh Lailan Mangrani atau Putri Lasem adalah ”Baju Kombo“ atau “Baju Kuru“ serta memakai sarung berlapis dua, dan yang satu lapis dinamai “Bia–Bia“. Putri Lailan Mangrani juga memakai tiga bentuk hiasan sanggul dan dirangkai dengan berbagai macam mutiara yang sangat indah ”Panto“ namanya dalam Bahasa Buton. Serta di lehernya tergantung seuntai kalung yang terbuat dari emas murni dengan liontinnya yang berhiaskan Ratna Mutu Manikam dan di kepalanya diselubungi dengan sutra hijau halus yang tipis. Sedang di keningnya mengenakan ”Patiga“ menurut Bahasa Buton, dan pakaian tersebut diabadikan menjadi pakaian para gadis yang keluar ……

    arali2008 menjawab:
    terima kasih atas kirim

  17. 101 mengatakan:

    Saya suka tulisan anda.. Menakjubkan dan Luarbiasa

  18. Alek mengatakan:

    terimakasih dari penjabaran silsilahnya.Dapatkah saya sedikit diberi gambaran tentang siapa itu LaOde Una.Terimaksih

  19. Deandre Wolfertz mengatakan:

    I’ve only just found your blog – I can’t believe it! So many posts which I can relate to. Added you to my favourites so I can come back here and read the rest of them in full!

  20. Online Counselor mengatakan:

    This article is worth reading off. After the read, you may sure say that it was not a waste of time. Great.

  21. Matthew C. Kriner mengatakan:

    This is a great post! Are you looking for some good workout ideas?

  22. siradja mengatakan:

    klo ada d jelas jg silsilah la saumpula..thanks..

  23. alan wilardy mengatakan:

    assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu
    klo bsa saya sarankan kita baca sejarah buton di zaman nabi muhammad atau sejarah buton di belanda,. trimakasih,.
    wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatu

  24. rocky laode mengatakan:

    Saya sangat Berterima kasih bisa menikmati sajian anda, saya juga orang buton yang ada di rantauan dan sangat minim pengetahuan tentang daerah sendiri, saya akan lebih banyak lagi cerita-cerita tentang buton dan saya sangat ingin tahu tentang kapita waloindi yang ada di Pulau Binongko yang koknon sangat sakti.
    Saya tunggu kisah-kisah selanjutnya,
    rocky di singapore

    arali2008 menjawab
    terima kasih atas kunjungan Anda, memotivasi saya untuk mencari lebih banyak tentang negeri sendiri terutama hal-hal yang berhubungan dengan ajaran nenek moyang dan kesaktiannya.

  25. checkdmin mengatakan:

    Admin or Moder!
    WARNING!
    If you will not delete this topic within 5 days – Spam will be here, I promise!
    Goot Lak! God Fak!

  26. Ella CLARK mengatakan:

    Indeed great blog u have here. I’d like to read a bit more about such topic. Thanks for posting such information.

    arali2008 said
    thank a lot on visited

  27. arali2008 mengatakan:

    @saprahamjaya. karena Anda punya rujukan (fersi Laporo Siuwa Limbono), saya masukan/tambahkan demi kesempurnaan tulisan tentang Puri Raja Wakaka diatas. Terima Kasih atas Masukannya.. Bagi pengunjung yang lain ingin menyempurnakan tulisan silsilah penulis dengan sumber yang jelas, dengan senang hati akan penulis terima.

  28. Mikeharvey mengatakan:

    Hi, from Toronto, Canada
    Just a quick hello from as I’m new to the board. I’ve seen some interesting posts so far.
    To be honest I’m new to forums and computers in general :)
    Mike

    @arali2008 answer
    no problema Mr Mike, thanks your visiting

  29. setau sy dlm sejarah fersi Laporo siuwa limbono, bahwa wakaka berasal dari dinasti KHAN. Dinasti Fatimiyah… silsilah beliau berasal dari persia, belau seorang putri raja persia.

    arali2008 menjawab
    pengetahuan saya mengenai asal muasal Putri Wakaka sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Saya hanya tahu bahwa Ia adalah seorang putri raja yang datang dari Tiongkok— bisa berasal dari raja-raja di negeri Tiongkok atau bisa juga ia berasal dari dinasti KHAN, Dinasti Fatimiyah, putri raja persia, itu pernah saya baca dan dengar. Ia datang di Tanah Wolio Buton dengan dua pengertian, pertama sebagai seorang Putri Raja (bisa saja dari persia karena menurut cerita yang sudah islam) dan kedua adalah ia datang dengan berbagai atribut kerajaan seperti raja-raja di Tiongkok yang sampai sekarang masih bisa kita lihat.

  30. SmokeC40 mengatakan:

    I agree with most of what is said here.

    arali2008 said
    You angree with most of what I said here
    (anda setujuh dengan sebagian besar apa yang saya katakan disini).
    yach! I am writing about the family tree is slightly modified but did not eliminate the substance of the genealogy writers. Thank you, you already understand the meaning of my family tree.
    (yach! tulisan saya tentang silsilah keluarga memang sedikit dimodifikasi tetapi tidak menghilangkan subtansi dari silsilah penulis. Terima kasih, anda telah mengerti maksud tulisan silsilah keluarga saya.)

  31. zunaidin mengatakan:

    sangat bagussss……..
    saya sebagai orang Buton-SIOMPU, merasakan manfaat dari tulisan ini. Saya jadi tau tentang banyak hal. Tapi, apa Lakina siompu berarti orang yang memerintah Siompu?
    arali2008 menjawab
    saya kurang tahu dengan pasti arti kata “Lakina” tetapi sepertinya itu pangkat atau jabatan atau keahlian dalam struktur kesultanan akan kemampuan bisa dari segi pemerintahan, agama atau urusan-urusan kerajaan lainnya

  32. fathir mengatakan:

    mas, ratu wakakaa tu, bukannya keturunan dari genghis khan, raja mongol.? thanks

    arali2008 menjawab
    Dalam catatan sumber penulis Wakakaa adalah seorang Ratu Kerajaan, tiba di pulau buton bersama pengikutnya dan perangkat kerajaannya, keluar dari negeri Cina melalui Tiongkok. Sementara Genghis Khan itu dalam sejarah tidak mempunyai keturunan (istri), ia ambisius menguasai dunia, dan ia berhasil menguasai 1/3 dunia, menyerang negeri Cina ke Asia tenggara, Asia tengah, sampai timur tengah membumi hanguskan Negeri 1001 malam. Sampai sekarang Masyarakat Monggolia, tidak mengetahui dimana pusaranya, apalagi turunan darinya, padahal Ia sangat ditakuti dan disengani karena strategi perangnya. Konon ceritanya ia dapat menguasai 1/3 dunia karena ia tidak mempunyai (dipotong) “anunya”, artinya ia tidak mempunyai keturunan.

  33. La Aaaja mengatakan:

    “Bolimo Karo Somanamo Lipu” Data silsilah turut mensosialisasikan pembentukan Prov.Buton Raya ke seluruh Indonesia tentang sejarah Buton.
    @arali2008 menjawab
    yach! semoga demikian.

  34. amang and N&g mengatakan:

    silsilahnya singkat tp jelas, bs jd 1 masukn..sukses slalu…

    @arali2008 menjawab
    trims atas kunjungannya

  35. Rahman R Ali mengatakan:

    Terima kasih dengan silsilah keluarganya, jadi satu pengeyahuan tersendiri untuk saya sangat bermanfaat, maklum saya anak kemarin, jadi pengetahuan silsilah buton baru tahu walapun saya berasal dari sana, tetapi sedikitnya saya sudah punya gambaran. Kalau dikaitkan dengan semboyang yang muncul kalimat “bolimo karo sombanamo lipu” yang jadi falsafah orang buton? Nanti kalau seandainya dalam falsafah itu ” tidak usah untuk diri sendiri yang penting untuk negara” kayaknya bisa makmur negara??? Tidak ada KKNnya coy

    @arali2008 menjawab
    Alkisah ketika kesultanan buton diserang oleh musuh dari segala penjuru, Sultan Buton Murhum, mengeluarkan Falsafah Perjuangan Islam Buton “Yinda Yindamo Arataa somanamo Karo artinya Korbankan harta demi keselamatan jiwa”, Yinda Yindamo karo somanamo Lipu artinya Korbankan Jiwa demi keselamatan negara”, Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara artinya Korbankan negeri demi keselamatan pemerintah” dan Yinda Yindamo sara somanamo Agama artinya korbankan pemerintah demi keselamatan Agama”. Agama menempati posisi tertinggi setelah pemerintah, negeri, jiwa dan harta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.382 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: