Ini Namanya Proyek ICD 10, Penuh Tantangan !

Polewali Mandar Sulawesi Barat @arali2008.— Pasca pelatihan ICD-10 yang dilaksanakan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Keseharan Republik Indonesia tanggal 23-25 Juli 2012 yang saya ikuti di Makassar, dengan peserta perwakilan dari beberapa Propinsi yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara dan Maluku, Proyek Penguatan Informasi Kesehatan  sumber dana Global Fund (GF). Rencana Tindak Lanjutnya (RTL), diharuskan setiap daerah sudah harus memberlakukan laporan B1 Penyakit dengan pengkodean yang didasarkan ICD-10.

Sebelumnya diawal tahun 2012 tepat  tanggal 25 Februari 2012 diruang pertemuan Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar ketika saya  menyajikan umpan balik laporan LB1 Penyakit kepada peserta dokter dan dokter gigi Puskesmas, ada usulan pemberlakuan ICD-10 pada laporan LB1 penyakit. Maka dengan pasca pelatihan ICD-10 ini  LB1 Penyakit dengan ICD-9 menjadi ICD-10 sudah harus segera diwujudkan.

Dasar pengkodean ICD-10 adalah adalah Kepmenkes No. 50/Menkes/SK/I/1998 tentang Pemberlakuan Klasifikasi Statistik Internasional Mengenai Penyakit Revisi Kesepuluh.

Berdasarkan Kepmenkes RI ini seharusnya pengkodean penyakit dan masalah kesehatan  telah diberlakukan 10 tahun lalu. Selama ini pengkodean penyakit menggunakan ICD 9 dengan dasar SK Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 590/BM/DJ/INFO/V/96 tentang Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), yang seharusnya sudah dimodifikasi  dengan dasar pengkodean ICD-10 khususnya yang berhubungan dengan laporan kesakitan dan kematian.

Di Indonesia baru mulai sejak 2 (dua) tahun akhir ini Departemen-Kesehatan Republik Indonesia menggunakan pengkodean penyakit ICD-10 terhadap Rumah Sakit  Pemerintah sebagai dasar perhitungan biaya rawat pasien pulang rumah sakit, rawat inap maupun rawat jalan bagi rincian penagihan Jamkesmas/ASKES. Yakni INA-DRGs versi Malasyia—– telah diganti dengan nama DRGs-CASEMIX versi Indonesia——-sedangkan Code tindakan menggunakan ICD-9-CM Volume 3.

  • ICD-10 mulai digunakan di Indonesia sejak tahun 1996 (di rumah sakit pemerintah) dan sejak 1997 (di rumah sakit swasta dan puskesmas) sesuai keputusan Dirjen Yan-Medis DepKes RI à SK No: 50/MENKES/ SK/I/1998 tentang memberlakukan ICD-10, khusus untuk kepentingan pelaporan Morbiditas/RL.

Untuk Puskesmas khususnya di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat, baru tahun ini direncanakan diberlakukan, Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar cq Bagian Data dan SIK (Sistem Informasi Kesehatan)  baru mencoba merancang format Laporannya, dan Insya Allah kalau tidak halangan akan mulai diberlakukan tahun 2013 tepatnya  mulai pelaporan bulan Januari 2012 dan seterusnya.

————— Bahwa Kunjungan pasien rawat jalan kadang dalam satu bulan, pasien datang berkunjung 2-3 kali ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan lanjutan, jenis penyakitnya kadang bisa merubah kode ICD jenis penyakitnya seperti misalnya infeksi akut pada sistem pernapasan bagian atas, berpindah ke penyakit lain pada sistem pernapasan bagian atas, sehingga tidak mengherankan  penyakit ini  masih ditemukan angka yang cukup besar.

Merupakan salah satu catatan penulis sejam dari pertemuan umpan balik, verifikasi dan mencoba mengartikan dan memaknai angka-angka yang terdapat dalam  laporan SP2TP-LB1 Jenis Penyakit pada Dokter (umum dan gigi) dan perawat Puskesmas di Kabupaten Polewali Mandar tanggal  25 Februari 2012 Ruang pertemuan Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar. ————-

 Ini namanya proyek ICD 10

Dikatakan demikian ————- Ini namanya proyek ICD 10 ————- karena pembuatan format sebagai penganti LB 1 Kesakitan dalam Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS) tidak segampang ICD 9. Pada ICD 9 pengkodean penyakit hanya menggunakan angka, pada ICD 10 penggunaaan kode penyakit dikombinasi dengan menggunakan Huruf (A- sampai -Z) dan Angka (0- sampai -9) serta beberapa bagian menggunakan kode sangkur (†) dan bintang (*). Masing-masing kode (huruf, angka, kode sangkur dan bintang) mempunyai arti dan maksud tertentu. Oleh karenanya penyusunan formatnya ini membutuhkan kerja proyek. Hanya saja proyek ini tidak mempunyai dana (anggaran), boleh dikatakan ini namanya proyek ICD 10 tampa biaya yang seharusnya sudah 10 tahun lalu dilaksanakan.

Arti ICD 9 juga sangat berbeda dengan ICD 10. Pada ICD 9 hanya diartikan sebagai pengklasifikasian penyakit secara internasional (International Classification Diseases) dan diperuntukkan untuk keperluan analisis Mortalitas serta dikembangkan untuk Pengkodean Morbiditas.

Pada ICD 10 diartikan sebagai International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems. Dikembangkan WHO  dari ICD-9 menjadi ICD-10 dengan pengklasifikasian statistis penyakit dan masalah terkait kesehatan yang memenuhi kebutuhan analisis statistis morbiditas, mortalitas, demografi dan epidemiologi.  Setiap penyakit/kondisi morbid, ada dalam daftar  kategori, menduduki tempat dengan rincian  yang jelas.

Penuh dengan Tantangan…

Suatu tantangan besar untuk mulai memberlakuknnya pada 20 Puskesmas di Kabupaten Polewali Mandar. Tantangan pertama yang harus dilewati adalah pembuatan formatnya mengganti LB1 Penyakit (LB1-SP2TP) dengan pengkodean ICD-9 menjadi pengkodean ICD 10, bukanlah pekerjaan yang ringan karena pencantuman setiap kode dan nama penyakitnya diharuskan memperhatikan kemampuan sarana dan petugas Puskesmas dalam mendiagnosa penyakit serta pemberian kode penyakitnya, diperlukan beberapa kali diskusi antara pihak-pihak yang terkait  misalnya dokter umum, dokter gigi, petugas SIK/SP2TP Puskesmas untuk mencapai kesempurnaan format untuk siap dipergunakan.

Dalam penggunaan format baru LB1 Penyakit ini tantangan yang akan dihadapi akan semakin real terutama kemampuan petugas, Puskesmas memang telah miliki dokter, namun bisa saja sang dokter dalam rekam penulisan diagnosa, tidak konsisten atau salah dalam perekaman kondisi utama penyakit pasien, dibutuhkan klarifikasi sesuai dengan pengkodean ICD-10 karena dokterlah satu-satunya sumber dari pengokdean ICD ini. Kemampuan Petugas lainnya adalah  petugas sesuai dengan standar yang diingikan dalam pengkodean yaitu petugas rekam medik, tidak ada satu pun dari 20 puskesmas mempunyai petugas rekam medik, ketiadaan petugas rekam medik di semua Puskesmas kabupaten Polewali Mandar akan digantikan oleh petugas kesehatan (perawat dan kesehatan masyarakat) akan menjadi tantangan sangat berat.

Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah pemanfaatan dan penggunaanya untuk kebutuhan analisis statistis morbiditas, mortalitas, demografi dan epidemiologi dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat bukan saja yang bersifat kuratif, rehabilitatif tetapi juga preventif dan promotif.

Data DIAGNOSE(S) pasien di ICD, oleh WHO didefinisikan sebagai Nama penyakit yang disrtai dengan proses terjadinya penyakit, etiologi/causa penyakitdan masalah terkait kesehatan, hanya dapat dilakukan dengan persyaratan tersedianya “A GOOD MEDICAL/HEALTH RECORDS”

Arti dari tantangan semua ini adalah dibutuhkan kerja total dengan menggunakan semua pendekatan kesehatan (Total Health Approach) untuk bisa mewujudkannya yang seharusnya 10 tahun lalu telah diberlakukan. Pekerjaan ini merupakan tanggung jawab saya (penulis), biasanya pekerjaan lainnya saya lakukan sendiri, konsekwensi sebagai seorang pejabat fungsional kesehatan ahli yang bekerja secara mandiri, kali ini saya harus bekerja secara tim, walaupun cuma seorang anggota tim, tetapi ini sudah cukup untuk menghadapi dan mengembangkan pemberlakuan ICD-10, yang saya namakan sebagai PROYEK ICD-10, International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems Tenth Revision. Penting untuk dapat mengklasifikasikan penyakit, cedera dan sebab kematian untuk tujuan statistik. Pengalaman-pengalaman insidens morbiditas dan mortalitas berbagai setiap puskesmas (daerah bahkan bahan negara) bisa direkam dalam aturan yang sama  dan bisa dikomparasi.

Semoga kami bisa melakukan proyek ini dengan 

Presisi (sesuai aturan sistem coding ICD),

Akurat  (sesuai  proses hasil akhir produk),

Tepat waktu (sesuai episode pelayanan).

SEMOGA BISA SUKSES.

Baca tulisan terkait

  1. Mengartikan dan memaknai Laporan SP2TP-LB1-Jenis Penyakit Puskesmas
  2. Faktor Resiko dan Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
  3. Investigasi dan Intervensi Gizi Buruk
  4. Analisis Cakupan Kesehatan Ibu dan Kematian Ibu di Polewali Mandar
  5. Profil Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2010
  6. Dari Angka Kesakitan, Kematian, dan Penyembuhan TB-Paru
  7. Dari 100 Pelayanan Kesehatan Balita di Kabupaten Polewali Mandar.
  8. Penyebab Penyakit Jiwa di Polewali Mandar

———————————–

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemiologi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia

About these ads

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

3 Responses to Ini Namanya Proyek ICD 10, Penuh Tantangan !

  1. ni made dadi mengatakan:

    D desa kami,istri kepala dusun d tunjuk jadi kader GSI…juga sebagai ketua posyandu…ini lebih effective..krn informasi kesehatan d lakukan lebih maximal d rapat bulanan pkk…apa pendapat anda.??

    arali2008 menjawab
    seharusnya memang demikian, karena dalam struktur pembangunan ditingkat desa sampai dusun, posisi ibu dusun merupakan posisi kunci keberhasilam kesehatan dan pendidikan diwilayahnya, sebagai ketua posyandu juga sekaligus sebagai kader.

  2. RMIK UGM mengatakan:

    kami menyelenggarakan pelatihan ICD-10 di Yogyakarta secara periodik, silahkan kunjungi website kami:
    http://rmik-ugm.org/

    arali2008 menjawab
    informasi yang sangat baik.

  3. nurfaisah mengatakan:

    Tumpatan GIC/komposit yang msuk pelayanan primer itu tumpatan direct ya? utk karies dini? pit & fissure sealant? klau tumpatan utk diagnosa karies dentin, gg anterior g masuk kan? makasih sebelumx infox

    arali2008 menjawab
    Dalam ICD 10 semua ada kodengan yaitu masuk pada kode hurus K dengan kode angka minimal tiga digit yang bisa masuk dalam pelayanan primer…coba lihat daftar penyakitnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: