Bed Occupancy Rate (BOR) dan Pengembangan Rumah Sakit Di Sulawesi Barat.

Polewali Mandar Sulawesi Barat.–Dengan melihat data yang ada, setidaknya BOR RSUD Mamuju (46.6%), dengan mencoba memprediksi peningkatan pasien rawat inap   dengan pemakaian tempat tidur tiap tahun 10%, setidaknya dibutuhkan 4-5 tahun kedepan  untuk pengembangan sarana-prasarana yang berhubungan dengan penggunaan tempat tidur. Apalagi RSUD Mamaju ini baru Type D —– kadang  orang-orang propinsi mengklaim telah Type C, namun yang tercatat di Depkes RI adalah Type D.—— setidaknya RSUD Mamaju ini harusnya lebih diprioritaskan  untuk  dikembangkan menjadi Type C, sehingga 4-5 tahun ke depan RSUD Mamaju bisa berkembang menjadi Type C. Artinya  dari data BOR saja  RSUD Mamaju Baru Bisa menjadi type C ditahun 2015. Pada tahun 2015 ini pelayanan  sesuai standar berupa pengembangan manajemen dan administrasi, pelayanan Medik,  Pelayanan keperawatan,  medical record dan Pengembangan Unit Gawat darurat, sebenarnya sudah cukup dan layak untuk setingkat Propinsi Sulawesi Barat yang masih baru sampai tahun 2020. Artinya  seiring dengan pengembangan RSUD Mamuju, Pengembangan Rumah Sakit Regional yang dipusatkan di ibu Kota Propinsi Baru bisa Maksimal operasionalnya nanti di tahun 2020.

Di Propinsi Sulawesi Barat  sampai dengan   tahun 2010 telah ada 6 Rumah Sakit,  dari 6 Rumah Sakit ini 5 merupakan Rumah Sakit Daerah Kabupaten dan 1 merupakan rumah sakit vertikel depkes RI namun masih dalam pengelolaan  Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat, masing-masing rumah sakit tersebut  adalah

  1. Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar rumah sakit tertua di Propinsi Sulawesi Barat
  2. Rumah Sakit Umum Daerah Majene
  3. Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju
  4. Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju Utara yang baru beroperasi ditahun 2008
  5. Rumah Sakit Umum Daerah Mamasa  yang beroperasi ditahun 2008
  6. Rumah Sakit Regional Propinsi Sulawesi Barat yang berkedudukan di Mamuju dan baru beroperasi ditahun 2008.

Banyak indikator untuk menilai keberadaan suatu Rumah Sakit, salah satunya adalah Bed Occupancy Rate dan selanjutnya disingkat “BOR”  yaitu jumlah atau tingkat Pemakaian Tempat Tidur Rumah Sakit atau dapat memberikan gambaran  tinggi-rendahnya penggunaan tempat tidur suatu rumah sakit, disamping itu juga BOR dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan dan pengembangan suatu rumah sakit. BOR  dihitung dengan rumus  jumlah total hari perawatan dari keseluruhan pasien rawat inap dalam setahun dibagi dengan jumlah tempat tidur yang ada, hasilnya dibagi dengan jumlah hari dalam tahun  dan dinyatakan dalam presentase. BOR yang Ideal untuk suatu rumah sakit adalah 60-80%. Presentase Pemakaian tempat Tidur Rumah Sakit di Propinsi Sulawesi Barat bersumber data profil kesehatan Propinsi Sulawesi Barat tahun 2009 dapat diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit di Propinsi Sulawesi Barat

Bed Occupancy Rate  (BOR) yang tertinggi Rumah Sakit di Propinsi Sulawesi Barat adalah Rumah Sakit Umum Polewali Mandar. BORnya telah berada diatas nilai Ideal (60-80%) yaitu sebesar 87.2 % artinya  penggunaan tempat tidur dari Rumah Sakit Umum Daerah Polewali telah berada diatas ambang  riskan bila terjadi peningkatan jumlah pasien rawat inap karena wabah, Kejadian Luar Biasa penyakit atau peristiswa-peristiwa  kesakitan  yang mendadak membutuhkan rawat inap. Karena apabila terjadi dipastikan Rumah Sakit Umum Polewali tidak akan menampung jumlah pasien-pasien tersebut sehingga  pasien-pasien tersebut  beresiko tidak tertolong, mengakibatkan kecatatan dan kematian, setidaknya menurut Flether (2008) dapat mengakibatkan Death (kematian), Disease (penyakit bertambah parah), Disability (kecacatan), Discomfort (kekurang-nyamanan), Dissatisfaction (kekurang-puasan), dan Destitution (kemelaratan).

Sebaliknya Rumah Sakit yang nilai BORnya telah berada diantara nilai Ideal hanya Rumah Sakit Umum Daerah Majene Kabupaten Majene (70.4%).  Posisi ini adalah posisi yang aman dalam hal penggunaan tempat tidur. Yang menjadi Pertanyaan Besar adalah BOR dari Rumah Sakit Umum Mamuju Kabupaten Mamuju—— Kalau Rumah Sakit Umum Mamuju Utara bisa di maklumi  karena BOR yang rendah (1.6) karena pada tahun 2008,  merupakan tahun pertama  pengoperasionalnya ( Rumah Sakit Umum Baru)————– BOR Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju  hanya 46.6% artinya tempat tidur yang disediakan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju masih banyak yang tidak di pergunakan . Suatu Pertanyaan Besar perlu tidaknya Rumah Sakit Umum daerah Mamuju ini dikembangkan atau memaksimalkan potensi yang telah ada, setidaknya penggunaan tempat tidur dan  sarana-prasarana  pendukung dan penunjang penggunaan tempat tidur. Khusus untuk pembangunan Rumah Sakit Regional Sulawesi Barat yang dibangun di Mamuju dan keberadaan Rumah sakit Umum Daerah Mamuju kalau dilihat secara geografis, dalam hal  penerimaan pasien rujukan sangatlah mustahil menerima rujukan pasien dari Mamuju Utara karena kedekatan Mamuju Utara dengan Kota Palu Sulawesi Tengah. Begitu pula halnya rujukan pasien dari Majene sangat jauh lebih dekat ke RSUD Polewali, Demikian juga dengan RSUD Mamasa, apalagi pasien-pasien yang berasal dari Kabupaten Polewali Mandar, akan lebih nyaman merujuk pasien ke Rumah Sakit Umum dr. Wahiddin Sudirohusodo Makassar dari pada merujuk ke Rumah Sakit yang ada di Mamuju.

 

Pada suatu waktu di akhir tahun 2008, saya (penulis) bersama dr. Achmad Azis M.Kes  yang sekarang  menjabat Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Barat, berdiskusi tentang pengembangan Rumah Sakit di Propinsi Sulawesi Barat dan melihat pola rujukan pasien yang ada di wilayah Sulawesi Barat, kami sepakat tentang pola atau kecenderungan rujukan pasien tersebut. Tetapi ketika  bertemu dengan Bapak Gubernur Sulawesi Barat dan mempresentasekan  Pengembangan rumah Sakit di Sulawesi Barat,  diruang kerja sang Gubernur, keinginan politik mementahkan pola kecederungan rujukan pasien tersebut.

 

Kecendeungan Rujukan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit yang Berada di Wilayah Propinsi Sulawesi Barat

 

Kalau diperhatikan data Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit Umum Daerah Yang ada di Propinsi Sulawesi Barat ini sebenarnya Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar merupakan prioritas Pemerintah Propinsi Sulawesi Barat untuk mendapatkan pengembangannya.

 

Pengembangan Rumah Sakit dalam pengertian Pengembangan Rumah Sakit itu sendiri yang diarahkan pada peningkatan kualitas layanan  atau pengembangan pembangunan rumah sakit baru. dalam pengertian diwilayah kabupaten Polewali Mandar memungkinkan untuk dibangun Rumah Sakit Baru baik Negeri maupun swasta.

 

Untuk  rumah Sakit Umum Polewali Mandar, Pengembangan Rumah Sakit lebih diarahkan pada  pengembangan indicator pelayanan kualitas suatu Rumah Sakit diantaranya :

  1. Pengembangan penataan manajemen dan administrasinya
  2. Pengembangan pelayanan Medik
  3. Pengembangan Pelayanan keperawatan
  4. Pengembangan Penataan medical record
  5. Pengembangan Pelayanan Unit Gawat darurat.

Permasalahan yang muncul dalam pengembangan rumah sakit Umum Polewali Mandar adalah seiring dengan peningkatan kualitas rumah sakit Umum Polewali  yang sekarang telah berada pada Type C Plus artinya Rumah Sakit yang layak untuk dikembangkan menjadi Rumah Sakit  Dengan Type B, adalah Penanganan pasien  lebih diprioritaskan pada pasien-pasien dengan komplikasi dan  atau penyakit –penyakit  yang hanya dapat dilayani oleh tenaga medic  dan keperawatan spesialis.

Sementara penyakit-penyakit umum yang membutuhkan rawat inap cenderung tidak dilayani secara maksimal pada  rumah sakit Umum dengan Type C plus —– setidaknya itu yang terlihat pada rumah sakit Umum Polewali Mandar saat ini——— ini  artinya secara alamiah seiring dengan peningkatan status rumah sakit Umum Polewali Mandar, perlu dikembangkan dibangun pula Rumah Sakit Baru dengan type D atau type C, sehingga penyakit-penyakit yang bersifat umum  namun kritis dapat di layani di rumah sakit yang  baru dengan pelayanan standar  pelayanan medic dan keperawatan umum. Namun sayang sekali pengembangan rumah sakit  baru di Kabupaten Polewali Mandar lebih cenderung diarahkan pada pengembangan rumah sakit di Ibu Kota Propinsi Sulawesi Barat, jelas-jelas sangat tidak sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan yang  yang berkembang di masyarakat.

Mamuju yang merupakan ibu Kota Propinsi Sulawesi Barat sekarang ditahun 2009-2010 disamping Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju dikembangkan Pula Rumah Sakit Umum Propinsi Sulawesi Barat, yang katanya merupakan Cikal Bakal menjadi Rumah Sakit Regional di Propinsi Sulawesi Barat berstandar Type B. Suatu hal yang tidak masuk akal  pengembangan rumah sakit dengan tidak memperhatikan pola perkembangan  rumah sakit yang didasarkan pada pola  kunjungan  pasien rawat inap dan pola penyakit yang ada pada suatu wilayah, tetapi hanya didasarkan  keinginan politik bahwa di Ibu Kota Propinsi harus ada Rumah Sakit  Regional dan rumah sakit yang telah  ada (RSUD Mamuju)  harus terus ditingkatkan sarana-prasarananya  walaupun sarana dan prasarana tersebut tidak digunakan oleh pasien sebagaimana yang diperlihatkan cakupan pemakaian tempat tidur RSUD Mamuju yang hanya  46.6 %. Dan juga diperlihatkan Rumah Sakit Regional yang sarana-prasarana cerba “wah” tetapi tidak digunakan oleh pasien.

Rumah Sakit Umum Polewali Seharusnya menjadi Rumah Sakit Rujukan di Propinsi Sulawesi Barat

Dengan melihat data yang ada setidaknya BOR RSUD Mamuju (46.6%) dengan mencoba memprediksi peningkatan pasien rawat inap   dengan pemakaian tempat tidur tiap tahun 10%, setidaknya dibutuhkan 4-5 tahun kedepan  untuk pengembangan sarana-prasarana yang berhubungan dengan penggunaan tempat tidur. Apalagi RSUD Mamaju ini baru Type D —– kadang  orang-orang propinsi mengklaim telah Type C, namun yang tercatat di Depkes RI adalah Type D.—— setidaknya RSUD Mamaju ini harusnya lebih diprioritaskan  untuk  dikembangkan menjadi Type C, sehingga 4-5 tahun ke depan RSUD Mamaju bisa berkembang menjadi Type C. Artinya  dari data BOR saja  RSUD Mamaju Baru Bisa menjadi type C ditahun 2015. Pada tahun 2015 ini pelayanan  sesuai standar berupa pengembangan manajemen dan administrasi, pelayanan Medik,  Pelayanan keperawatan,  penataan medical record dan Pelayanan Unit Gawat darurat, sebenarnya sudah cukup dan layak untuk setingkat Propinsi Sulawesi Barat yang masih baru sampai tahun 2020. Artinya Pembangunan Rumah Sakit Regional yang dipusatkan di ibu Kota Propinsi Baru bisa Maksimal operasionalnya nanti di tahun 2020.

Jadi Pembangunan Rumah Sakit Umum Regional  Propinsi Sulawesi Barat yang sudah berjalan  atau masuk tahun ke dua (dimulai tahun 2008) dengan  sarana dan prasarana yang serbah “WAH” akan sia-sia, mubazir,  padahal  umur pakai sarana peralatan kesehatan medic hanya berkisar 5-10 tahun, akan hancur sebelum digunakan.

Saya hanya bisa membayangkan adaikan alat-alat kesehatan yang telah ada  di Rumah Sakit yang katanya regional Mamuju Tersebut,  Alat-Alat Kesehatan medicnya dipindahkan di Rumah Sakit Umum Polewali, yang sekarang ini (tahun 2010) sementara   dalam taraf pengembangan (Tambahan pembangunan beberapa Gedung rawat Inap) setidaknya bisa menyelamatkan alat-alat kesehatan medic tersebut hancur  sebelum digunakan. Tetapi saya kira hal tersebut tidak akan terjadi. Wallahu a’lam

—————————————————————-

Baca juga tulisan Terkait

  1. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Polewali Mandar tahun 2009
  2. Pemeriksaan Kesehatan Calon Haji Langgar Aturan Menkes.
  3. Status Pelayanan RSUD Polewali Mandar.
  4. Gambaran Kesehatan Masyarakat Mamasa Prop. Sulawesi Barat
  5. Ringkasan Rencana RSUD Polewali Ke Type B
  6. Tragedi Kemanusiaan Kambacong dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan
  7. RUMAH SAKIT KIA ”IBU AGUNG” SIAP BEROPERASI

——————————————————-

Blogger @arali2008

Opini dari Fakta Empiris Seputar Masalah Epidemilogi Gizi dan Kesehatan
di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat.
About these ads

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

One Response to Bed Occupancy Rate (BOR) dan Pengembangan Rumah Sakit Di Sulawesi Barat.

  1. maria mengatakan:

    Mhn bantuan untuk rumus mencari angka Visite rate rumah sakit

    arali2008 menjawab
    Visite rate atau angka kunjungan.. itu sebenarnya adalah perbandingan antara jumlah kunjungan pasien RS pada unit tertentu dengan jumlah kunjungan keseluruhan yang ada pada semua unit RS yang dinyatakan dalam angka 100 atau 1000 atau 10.000 dan sterusnya. kalau dirumuskan adalah
    misalnya pada RS ada 3 unit layanan (a, b dan c)
    a = jumlah kunjungan pada unit a RS
    b = jumlah seluruh kunjungan pada b dan c
    rumusnya adalah a/(b+c) x konstanta (100 atau 1000 atau 10.000 dan setrusnya disesuaikan )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.387 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: