Apel Siaga Pencanangan Pencegahan Penyakit Berbasis Nyamuk

bupati-dan-penjelasan-foggingKenapa Harus Penyemprotan Fogging? adalah  suatu pertanyaan penulis atas kekuatiran tidak diketahuinya prinsip dan subtansi penyemprotan fogging dari   Apel siaga Pencanangan Bupati (Bpk H. Ali Baal ) tentang pencegahan penyakit berbasis nyamuk tanggal 9 Maret 2009 di Halaman Kantor Bupati Polewali Mandar. Apel yang dihadiri oleh Seluruh staf Dinas Kesehatan, Kepala UPT Puskesmas, KUA Kecamatan dan sebagian kepala Desa/kelurahan,  sebagai tindak lanjut komitmen Bupati untuk mencegah penyakit berbasis nyamuk di Polewali Mandar, dimana pada tahun 2008 telah mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk pengadaan fogging 123 Desa dari 132 desa yang ada di Polewali Mandar. Dan pada tahun 2009 ini Bpk Bupati Mengharapkan semua alat fogging tersebut dapat difungsikan untuk melakukan penyemprotan secara berkala minimal 2 kali dalam setahun, Bupati melalu SKPD Kesehatan telah menyediakan bahan fogging (malation) untuk dapat dipergunakan oleh desa, diharapkan bahan-bahan yang lainnya dapat disiapkan sendiri oleh masyarakat yang dikoordinir oleh Kecamatan dan puskemasnya sebagai tehnisnya misalnya biaya operasional penyemprotan dan pembelian solar. Demikian beberapa inti arahan beliau dalam apel siaga tersebut.

Kebijakan bupati ini adalah sangat strategis dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit berbasis nyamuk di Polewali Mandar, karena daerah ini merupakan daerah endemik malaria, filariasis dan Deman Berdarah untuk daerah/lokasi tertentu kabupaten Polewali Mandar.

slide1Pencegahan dan penanggulangan filaria telah dilakukan pengobatan massal ditahun 2008 dan akan dilanjutkan ditahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Kemudian penyakit DBD dengan upaya telah dilakukan dengan penggerakan masyarakat untuk selalu membersihkan rumah dan halamannya agar jentik (larva) nyamuk Aides Aegypty tidak dapat berkembang biak dirumah-rumah penduduk. Dan untuk malaria telah dilakukan upaya-upaya penyuluhan agar masyarakat dapat selalu siaga bila anggota dicurigai menderita malaria agar dapat dilakukan pertolongan dan penanggulangan secepatnya, memang untuk malaria agar sulit untuk dicegah karena daerah ini adalah endemik, namun pada dasarnya upaya penanggulangannya telah selalu dilakukan oleh aparat kesehatan (puskesmas dan jaringannya). Upaya-upaya tersebut pada dasarnya sudah cukup berhasil dalam menanggulangi penyakit berbasis nyamuk, sehingga upaya pencegahan dengan penyemprotan fogging  perlu dilakukan dengan hati-hati karena berbagai konsekwensi yang ditimbulkan dapat merugikan masyarakat nantinya.

Penyemprotan Fogging

Menurut rekomendasi  WHO  penyemprotan fogging pada dasarnya hanya dilakukan pada daerah dimana kasus penyakit yang  berbasis nyamuk ditemukan, yaitu

PERTAMA : Ditemukan penderita atau suspect penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan tujuan penularan penyakit melalui nyamuk Aides Aegypti dapat dihentikan. Penjelasannya adalah bila seseoranng ditemukan menderita DBD atau Suspect DBD itu artinya dalam aliran darahnya mempunyai virus Dengue atau virus penyebab penyakit DBD, dan selanjutnya apabila digigit nyamuk Aides Aegypti maka nyamuk tersebut dinyatakan sebagai pembawa virus (vektor), apabila tidak segera dimusnakan melalui penyemprotan maka memberi peluang nyamuk tersebut untuk terbang dan mengigit (menularkan) virus ke orang lain disekitarnya dengan radius sekitar 100 meter.

bebas-jentikKEDUA : Pada awal musim mulai berkembangkan nyamuk aides aegypti yang di dahului dengan penyelidikan epidemiologi atau dengan syarat hasil survei jentik menunjukkan Angka Bebas jentik < 95 %.  ———-Di Kabupaten Polewali Mandar sendiri pada tahun 2007 rumah yang bebas jentik  hanya sebesar 62 %———–. Penjelasannya adalah nyamuk biasanya akan berkembang dengan cepat pada awal-awal musim hujan, artinya populasi nyamuk pada suatu daerah akan semakin banyak. Penyelidikan epidemilogi maksudnya dengan melihat perkembangan pola penyakit yang berbasis nyamuk yaitu penyakit malaria, DBD, Cekungunya dan Filariasis, apabila ada kecenderungan penderita (Orang) naik pada waktu tersebut atau waktu tertentu pada suatu tempat dan pada tempat tersebut setelah dilakukan survei jentik ditemukan Angka Bebas Jentik < 95%, maksudnya dari 100 rumah penduduk pada fokus 95 rumah yang harus bebas jentik pada tempat-tempat penampungan air dari semua jenis nyamuk (malaria, aides aigypty, culex dan mansonia), jika dibawah 95 maka dapat dilakukan penyemprotan fongging.

Prinsip dan Subtansi Penyemprotan Fogging

Dari dua ketentuan penjabaran rekomendasi WHO diatas, pada prinsipnya dan subtansinya penyemprotan fogging adalah ”harus ditemukan kasus ( BD, Malaria, Cekungunya, dan Filaria) baru dilakukan penyemprotan”. Apabila tidak ada kasus kemudian dilakukan penyemprotan pada lingkungan yang ada nyamuk, tujuan hanya semata-mata membunuh nyamuk yang tidak ada bibit penyakitnya, ingat nyamuk hanya pembawa bibit penyakit jadi kalau tidak ada kasus, nyamuk tidak akan membawa penyakit, perlu diingat juga dengan penyemprotan fogging tidak akan menurunkan populasi nyamuk, walaupun turun slide2populasi nyamuk itu hanya berlangsung satu minggu saja, hari berikutnya akan ada lagi nyamuk, mungkin sebagian masyarakat akan berkata ”seminggu berikutnya bisa disemprot lagi,” yach! tetapi minggu berikutnya akan ada lagi. Kenapa demikian karena tempat hidupnya atau tempat berkebangbiakan mulai dari telur nyamuk kemudian dua hari berikutnya akan menjadi larva (jentik), selama dua hari berenang-renang dipermukaan air  atau dinding pada permukaan air  hingga  jentik  nyamuk mengganti dirinya menjadi pupa (bayi nyamuk ) selama kurang lebih dua hari, berkembang terus   di tempat-tempat penampungan air didalam rumah maupun luar rumah dan akhirnya berlanjut  menjadi nyamuk  dewasa.  Jadi penyemprotan fogging hanya membuang-buang tenaga, waktu, uang dan perasaan spikologis masyarakat, lebih celaka lagi penyemprotan fogging itu menggunakan bahan kimia, (solar dan malation atau penggunaan bahan lainnya misalnya temephos) akan menimbulkan resistensi nyamuk dari bahan kimia tersebut artinya dengan dosis yang sama yang dilakukan secara berulang nyamuk akan kebal, tidak mati. Dana apabila dosisnya ditingkatkan resiko terbesar adalah masyarakat dilokasi penyemprotan akan terpapar bahan kimia, artinya pada tubuh masyarakat telah tersimpan bahan kimia yang sangat sulit untuk dinetralisasi oleh tubuh, untuk dibuang melalui keringat maupun urin (air kencing), sehingga dalam jangka waktu tertentu terus terpapar, maka akan menimbulkan efek pada sel-sel, jaringan dan organ tubuh untuk tidak berfungsi normal, itu artinya masyarakat akan sakit atau menderita penyakit tertentu biasanya kanker dan tumor atau kelainan-kelainan kromosom (gen). (Baca: Kasus Jumino)

Dalam tulisan ini, bukan berarti penulis tidak mendukung Bupati Polewali Mandar (Bpk Ali Baal) untuk melakukan pencegahan penyakit berbasis nyamuk melalui penyemprotan disemua desa/kelurahan, tetapi tulisan ini merupakan gambaran penjabaran tehnis dari kebijakan bupati, karena ada kecenderungan masyarakat dan petugas kesehatan dalam melakukan penyemprotan fogging tidak melihat syarat-syarat atau standar operasional prosedur (SOP) untuk melakukan penyemprotan fogging. Padahal syarat dan SOP suatu kegiatan wajib diperhatikan oleh pelaksanan untuk melindungi mereka dari kejadian-kejadian yang tidak dinginkan atau komplain-komplain dari masyarakat yang merasa dirugikan nantinya.

Kesimpulan

slide3Kesimpulannya adalah pencegahan yang terbaik dari penyakit yang berbasis nyamuk adalah  pemberantasan vektor (nyamuk) melalui pembersihan tempat perkembangbiakannya (saya ulang ; tempat perkembangbiakannya), bukan pemberantasan vektor melalui penyemprotan fogging. Pemberantasan vektor melalui pembersihan tempat perkembangbiakannya dapat dilakukan dengan prinsip 3 M plus, yaitu Menguras  tempat penampungan air tiap minggu,  Menutup penampungan air dan yang terakhir adalah Mengubur tempat-tempat penampungan air (misalnya kaleng bekas dll), Plus bersihkan rumah didalam dan luar rumah termasuk menghindari gigitan nyamuk pada pagi hari dan sore hari.  Dan pemberantasan vektor (nyamuk) melalui penyemprotan fogging hanya bisa dilakukan bila ada kasus atau hasil dari Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk dilakukan fogging.

Baca artikel terkait

  1. Hasil Penyelidikan Kasus Jumino, Neurofibromatosis di Polewali Mandar
  2. Penyakit Cacing Pada Anak SD Di Polewali Mandar
  3. Akhirnya Penyebab Kasus Kesakitan dan Kematian Diare Di Polewali mandar Terdeteksi
  4. Tahun Kedua  Pengobatan Masaal Filaria di Kabupaten Polewali Mandar


About these ads

Perihal Arsad Rahim Ali
Adalah pemilik dan penulis blog situs @arali2008. Seorang pemerhati -----OPINI DARI FAKTA EMPIRIS----seputar masalah epidemiologi gizi dan kesehatan di wilayah kabupaten Polewali Mandar. Dapat memberikan gambaran hasil juga sebagai pedoman pelaksanaan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat Indonesia. Tertulis dalam blog situs @arali2008 sejak 29 Februari 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.383 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: